Ratusan Warga Keban Agung I Gelar Aksi Damai, Minta Bupati Nonaktifkan Kepala Desa

A

administrator

Selasa, 20 Januari 2026 | 00:00 WIB

Ratusan Warga Keban Agung I Gelar Aksi Damai, Minta Bupati Nonaktifkan Kepala Desa

BENGKULU SELATAN, AmiraRiau.com – Suasana di depan Kantor Desa Keban Agung I, Kecamatan Kedurang, memanas pada Selasa (20/01/2026) pagi. Sekitar 150 warga yang tergabung dalam Forum Peduli Masyarakat Keban Agung I menggelar aksi unjuk rasa menuntut pemberhentian Kepala Desa (Kades) mereka, ILI Suryani.

Aksi yang dipimpin oleh Evan Sastra Jaya bersama Jisman Amadi dan Ripianto ini berlangsung tertib namun penuh dengan tuntutan tegas terkait dugaan penyalahgunaan kewenangan dan hilangnya kepercayaan publik.

Dalam orasinya, Evan Sastra Jaya membeberkan sejumlah alasan mengapa masyarakat Dusun Pagar Bunga mendesak sang Kades untuk meletakkan jabatan. Beberapa poin krusial yang disuarakan antara lain:

-Dugaan Pemotongan Dana BAZNAS: Kades dituding memotong dana bantuan musibah kebakaran dari BAZNAS dengan dalih biaya administrasi, yang dinilai sangat melukai rasa kemanusiaan.

-Transparansi Dana Desa (DD): Massa mendesak pengusutan tuntas pengelolaan Dana Desa tahun 2024 dan 2025, termasuk program bantuan balita, ibu hamil, serta dana SDGs yang dinilai tidak transparan.

-Hambatan Kelompok Tani: Kades dianggap menghalangi pendirian Kelompok Tani “Sumber Makmur” dengan menolak menandatangani persyaratan administrasi.

-Praktik Intimidasi: Munculnya dugaan tindakan premanisme dan intimidasi terhadap warga yang kritis terhadap kebijakan desa.

“Aksi ini murni keresahan masyarakat. Kami menilai telah terjadi penyalahgunaan kewenangan. Kami meminta Bupati Bengkulu Selatan bersikap tegas untuk menonaktifkan ILI Suryani demi keadilan,” tegas Evan di hadapan massa.

Tidak hanya menyasar Kepala Desa, massa juga melayangkan kritik keras terhadap Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Forum menilai BPD telah gagal menjalankan fungsinya sebagai pengawas dan penyambung lidah rakyat.

“Dari lima anggota BPD, kami merasa hanya satu orang yang benar-benar membela aspirasi masyarakat. Sisanya justru terkesan berpihak kepada Kades dan mengabaikan tupoksi mereka,” tambah Evan.

Massa mulai berkumpul di halaman Masjid Nurul Ikhlas sekitar pukul 09.00 WIB dengan membawa atribut Merah Putih dan spanduk bertuliskan “Usut Tuntas Penggunaan Dana Desa” serta “Turunkan Kepala Desa”.

Pukul 10.00 WIB, warga melakukan long march menuju Kantor Desa. Meski membawa keresahan yang besar, aksi ini berakhir kondusif pada pukul 10.22 WIB. Masyarakat membubarkan diri secara teratur sembari berharap Aparat Penegak Hukum (APH) segera turun tangan melakukan audit investigasi.***