- Dalam sejarah kebudayaan, orang Melayu yang diakui secara adat sebagai penduduk asli Riau, sudah terbiasa berhubungan, berinteraksi, dan tukar-menukar kebudayaan dengan bangsa-bangsa asing;
- Secara umum keanekaragaman dalam kehidupan sosial dan budaya di Riau tidak menjadi masalah.
- Tidak perlu ada kehkawatiran terhadap isu SARA, atau gangguan kamtibmas berbasis SARA, karena kemajemukan suku dan agama sudah sejak dulu dipahami oleh Masyarakat Melayu dan non-Melayu yang bermukim di bumi Melayu ini.
- Bila ada masalah, selesaikan dengan pendekatan nilai budaya Melayu yang sangat menjunjung tinggi musyawarah dan mufakat, dengan catatan, tetap dalam musyawarah dan mufakat tetap harus dijaga rasa saling menghormati, saling menghargai, dilakukan secara terbuka, jujur, dan bebas mengeluarkan pendapat, tidak ada paksaan. Tetap mengutamakan persatuan dan kesatuan, duduk sama rendah tegak sama tinggi, menghormati pendapat dan pikiran orang lain, menjunjung keadilan dan kebenaran, menjauhkan sak wasangka, mendahulukan kepentingan umum, tidak mementingkan diri atau kelompok tertentu.
- Budaya Melayu sebagai soko guru di Bumi Melayu ini harus dipahami dan dihormati, dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung.
- Masyarakat harus senantiasa diberi edukasi tentang nilai-nilai baik buruk dan para pemimpin harus memberi keteladanan akhlak mulia. Ke depan kita membangun Riau maju bersama, seayun selangkah seiya sekata.
Link berhasil disalin!
Tema "Seiya Sekata", FKPMR Gelar Silaturahmi Kebangsaan Sebagai Tangkal Isu SARA Jelang Pilkada
A
Alseptri Ady
Jumat, 23 Agustus 2024 | 00:00 WIB