Terkait Karhutla, Otoritas Singapura Panggil 8 CEO Perusahaan Sawit, 5 Perusahaan Ada di Riau, Ini Daftarnya

A

Alseptri Ady

Rabu, 28 Oktober 2026 | 22:09 WIB

Terkait Karhutla, Otoritas Singapura Panggil 8 CEO Perusahaan Sawit, 5 Perusahaan Ada di Riau, Ini Daftarnya

SINGAPURA, AmiraRiau.com - Sejumlah petinggi perusahaan perkebunan kelapa sawit yang diduga memiliki keterkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan penyebab kabut asap menghadiri pertemuan khusus dengan tiga pejabat senior Singapura pada Rabu (28/10/2026).

Sebagaimana diberitakan dari Channel News Asia (CNA), pertemuan tersebut melibatkan Wakil Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong, Menteri Senior sekaligus Menteri Dalam Negeri K Shanmugam, serta Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Grace Fu.

Sejumlah nama besar industri sawit turut hadir, termasuk CEO sekaligus Chairman Wilmar International Kuok Khoon Hong dan CEO First Resources Ciliandra Fangiono.

Pertemuan itu digelar untuk menyampaikan sikap pemerintah Singapura terhadap perusahaan yang diduga berkontribusi terhadap kebakaran penyebab kabut asap lintas batas. Pemerintah juga menyiapkan penguatan regulasi agar perusahaan yang diperiksa wajib bekerja sama dalam proses penyelidikan.

Para eksekutif dari delapan perusahaan menghadiri pertemuan yang berlangsung kurang dari 30 menit tersebut. Mereka berasal dari Bumitama Agri, First Resources, Golden Agri-Resources, Indofood Agri Resources, Kencana Agri, TSH Resources, Wilmar International, dan Sinar Mas Group. Dari 8 perusahaan sawit tersebut, 5 diantaranya memiliki kebun dan pabrik serta kantor perwakilan di Provinsi Riau

Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Grace Fu menegaskan pemerintah Singapura berencana mengamendemen Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act) pada sidang parlemen mendatang.

Langkah ini diambil untuk memperkuat landasan hukum, sekaligus mengategorikan tindakan penolakan atau ketidakkooperatifan perusahaan dalam proses penyelidikan sebagai sebuah tindak pidana.

"Perusahaan yang tidak mematuhinya akan melakukan pelanggaran hukum. Kami akan menggunakan kewenangan kami untuk melindungi kesehatan masyarakat Singapura," ujar Grace Fu kepada wartawan setelah pertemuan di The Treasury, dikutip dari Channel News Asia.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri K Shanmugam menjelaskan perusahaan-perusahaan tersebut diwajibkan menjalani penilaian independen secara menyeluruh. Evaluasi ini akan menyasar kegiatan operasional, hubungan korporasi, hingga rantai pasok mereka.

Proses investigasi akan dilakukan oleh panel penilai dan firma hukum independen di bawah arahan Badan Lingkungan Nasional (NEA) Singapura, sedangkan seluruh biaya operasional panel dibebankan kepada perusahaan yang sedang dinilai.

"Salah satu perusahaan yang telah diidentifikasi harus menunjuk sebuah tim yang terdiri atas perusahaan investigasi dan firma hukum untuk memberikan nasihat kepada perusahaan investigasi tersebut. Keduanya harus berasal dari panel yang ditetapkan, sesuai arahan NEA," katanya kepada para perwakilan perusahaan.

Berikut daftar petinggi perusahaan yang menghadap pejabat Singapura

1. CEO dan Executive Chairman Bumitama Agri Lim Gunawan Hariyanto

2. CEO dan Direktur Eksekutif First Resources Ciliandra Fangiono

3. Chairman dan CEO Golden Agri Resources Franky Oesman Widjaja (Franky juga mewakili Asia Pulp & Paper Company dan Asia Pulp & Paper Company (China)

4. CEO dan Direktur Eksekutif Indofood Agri Resources Mark Julian Wakeford

5. CEO dan Direktur Eksekutif Kencana Agri Albert Maknawi

6. Chairman TSH Resources Kelvin Tan Aik Pen

7. Chairman dan CEO Wilmar International Kuok Khoon Hong

8. Senior adviser Sinar Mas Group Bernard Tan

Editor: Alseptri Ady