Tokushu Seiso: Ketika Kematian Menjadi Cermin Kesepian Kota

I

Isman

Selasa, 29 September 2026 | 10:01 WIB

Tokushu Seiso: Ketika Kematian Menjadi Cermin Kesepian Kota

Oleh: Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.

ADA profesi di Jepang yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan tragedi peradaban, yaitu Tokushu Seisō—jasa pembersihan khusus tempat yang menjadi lokasi kematian, terutama kematian yang terlambat ditemukan.

Di balik profesi itu terdapat fenomena sosial yang jauh lebih besar: kodokushi, kematian dalam kesendirian.

Jepang sedang menghadapi perubahan demografi yang serius. Angka kelahiran terus rendah, penduduk menurun, jumlah lansia meningkat, dan rumah tangga seorang diri semakin menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Pada 2025, Jepang mencatat sekitar 671 ribu kelahiran dan total fertility rate sekitar 1,14. Penurunan jumlah penduduk dan anak berlangsung dalam jangka panjang.

Namun persoalannya bukan sekadar: “Mengapa orang Jepang semakin sedikit?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:“Apa yang terjadi ketika manusia semakin banyak hidup sendirian?”

Di situlah Tokushu Seisō menjadi cermin.

Dari Rumah yang Ramai Menuju Kota yang Sepi

Secara historis, keluarga merupakan institusi utama dalam merawat orang tua, anak, dan anggota keluarga yang membutuhkan pertolongan. Modernisasi, urbanisasi, mobilitas kerja, perubahan pola perkawinan, dan individualisasi perlahan mengubah struktur tersebut.

Rumah menjadi lebih kecil.

Keluarga menjadi lebih kecil.

Hubungan antar-generasi menjadi lebih jauh.

Kota menjadi semakin padat, tetapi hubungan sosial belum tentu semakin dekat.

Inilah paradoks modernitas: kita semakin mudah berkomunikasi, tetapi belum tentu semakin dekat; semakin banyak manusia di sekitar kita, tetapi seseorang tetap bisa meninggal tanpa diketahui.

Karena itu, Tokushu Seisō tidak semata-mata membersihkan sebuah rumah. Mereka sedang berhadapan dengan jejak terakhir seseorang yang mungkin sudah lama kehilangan hubungan sosial.

Apakah Indonesia Akan Mengalami Hal yang Sama?

Indonesia tentu tidak identik dengan Jepang.

Indonesia memiliki budaya kekeluargaan, gotong royong, kehidupan bertetangga, komunitas keagamaan, dan hubungan sosial yang relatif kuat. Tetapi perubahan mulai terlihat terutama di kawasan perkotaan.

Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, Pekanbaru, dan kota-kota berkembang lainnya menghadapi urbanisasi, mobilitas penduduk, hunian vertikal, keluarga inti, pekerja migran, meningkatnya kehidupan individual, serta jarak geografis antargenerasi.

Anak bekerja di kota lain.

Orang tua tinggal sendiri.

Saudara sibuk dengan pekerjaan.

Tetangga tidak selalu saling mengenal.

Di depan rumah mungkin ada puluhan kendaraan, tetapi belum tentu ada satu orang yang mengetahui bahwa penghuni rumah sedang sakit.

Inilah yang perlu diantisipasi.

Indonesia jangan menunggu sampai profesi pembersih kematian menjadi indikator bahwa hubungan sosial kita telah terlalu renggang.

Kita tidak perlu menunggu kodokushi menjadi fenomena luas untuk menyadari pentingnya menjaga keluarga dan komunitas.

Kita tidak perlu memandang profesi Tokushu Seisō sebagai sesuatu yang buruk. Pekerjaan tersebut justru menunjukkan adanya kebutuhan sosial yang nyata dan membutuhkan keterampilan, empati, serta penghormatan terhadap martabat orang yang telah meninggal.

Yang harus menjadi perhatian adalah kondisi sosial yang membuat profesi tersebut semakin dibutuhkan.

Sebab kematian adalah kepastian.

Tetapi kematian dalam kesendirian bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai keniscayaan.

Di sinilah persoalannya berubah dari persoalan kebersihan menjadi persoalan kemanusiaan.

Manusia Tidak Diciptakan untuk Terasing

Islam mempunyai pandangan yang sangat kuat tentang hubungan antarmanusia.

Allah SWT berfirman:

وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat: 13).

Lita‘ārafū bukan sekadar mengetahui nama seseorang. Ia mengandung pesan tentang membangun relasi, mengenal, menghormati, dan hidup bersama.

Islam bahkan memberikan perhatian khusus kepada tetangga. Rasulullah SAW bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga hingga aku mengira bahwa tetangga akan mendapat bagian warisan." (H.R. Bukhari dan Muslim).

Pesannya sangat jelas: kesalehan tidak hanya diukur dari hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga dari kepedulian sosial kepada manusia.

Maka jangan sampai masjid penuh, tetapi tetangga sebelah rumah tidak dikenal.

Jangan sampai kita rajin berbagi di media sosial, tetapi tidak mengetahui bahwa orang tua di sebelah rumah sedang sakit.

Jangan sampai kita berbicara tentang ukhuwah, tetapi membiarkan manusia hidup dalam kesepian.

Kota Masa Depan Harus Memiliki “Sistem Kepedulian”

Karena itu, menghadapi perubahan masyarakat perkotaan Indonesia, yang diperlukan bukan sekadar pembangunan fisik.

Kita membutuhkan infrastruktur sosial.

RT/RW harus kembali menjadi ruang pengenalan warga, bukan sekadar tempat administrasi.

Masjid dapat menjadi pusat kepedulian sosial, bukan hanya tempat ibadah ritual.

Kelurahan perlu memiliki perhatian terhadap lansia yang tinggal sendiri.

Organisasi keagamaan dapat membangun jaringan relawan kunjungan sosial.

Kampus dapat mengembangkan program pengabdian yang menyentuh persoalan kesepian dan lansia.

Dan keluarga harus membangun budaya sederhana: menyapa, menelepon, mengunjungi, dan memastikan kabar orang tua serta kerabat.

Teknologi dapat membantu mendeteksi keadaan darurat.

Tetapi teknologi tidak boleh menggantikan kepedulian.

Jangan Sampai Kita Terlambat

Jepang memberi kita sebuah peringatan dari masa depan.

Bukan berarti Indonesia akan menjadi Jepang.

Bukan pula berarti Tokushu Seisō pasti menjadi profesi besar di Indonesia.

Tetapi perubahan sosial dapat bergerak perlahan tanpa kita sadari.

Hari ini kita mungkin masih memiliki keluarga besar.

Besok anak-anak kita mungkin bekerja di kota berbeda.

Hari ini tetangga masih saling mengenal.

Besok kita mungkin tinggal di apartemen dengan ratusan penghuni tetapi tidak mengetahui siapa yang tinggal di sebelah.

Hari ini orang tua masih ditemani.

Besok mungkin ada lansia yang hidup sendirian.

Dan ketika seseorang meninggal, pertanyaan paling menyedihkan bukanlah berapa lama ia meninggal sebelum ditemukan, melainkan: mengapa tidak ada seorang pun yang merasa perlu mencarinya ketika ia masih hidup?

Itulah pertanyaan moral yang sesungguhnya.

Jangan Biarkan Kota Menjadi Mesin yang Kehilangan Manusia

Kemajuan kota seharusnya tidak hanya diukur dari gedung tinggi, jalan lebar, pusat perbelanjaan, apartemen, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi.

Kota yang maju adalah kota yang tidak membiarkan warganya kehilangan manusia lain.

Jepang mengajarkan bahwa krisis demografi pada akhirnya dapat bersentuhan dengan krisis relasi sosial.

Indonesia masih memiliki modal sosial yang sangat besar: keluarga, gotong royong, masjid, pesantren, komunitas, RT/RW dan tradisi saling menolong.

Jangan sampai modal itu terkikis oleh individualisme perkotaan.

Sebab Tokushu Seisō bekerja setelah manusia meninggal.

Tugas keluarga, masyarakat, agama, dan negara adalah bekerja sebelum itu terjadi.

Menyapa sebelum kesepian. Mengunjungi sebelum sakit. Menolong sebelum terlambat. Mendampingi sebelum kematian.

Dan memastikan bahwa ketika ajal datang—sebagaimana pasti datang kepada setiap manusia—seseorang tidak meninggalkan dunia ini dalam keadaan merasa bahwa dirinya tidak lagi memiliki siapa-siapa.

Karena dalam perspektif Islam, manusia bukan makhluk yang hidup untuk dirinya sendiri.

Kita diciptakan untuk mengenal, menyayangi, menolong, dan memakmurkan kehidupan bersama.

Jangan sampai kota kita semakin ramai, tetapi manusianya semakin sepi.

(Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Akademisi, Advokat, Dai, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pemerhati Kebijakan Pendidikan Karakter)