PEKANBARU, AmiraRiau.com - Dua wanita pekerja migran Indonesia (PMI) mengaku dipaksa melayani 15 pria setiap hari di Arab Saudi. Video pengakuan mereka kemudian viral di media sosial.
Mereka diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Video pengakuan dua PMI itu diunggah di istagram dan disejumlah media sosial.
Salah satu korban mengungkap pengalaman memilukan yang dialaminya. Ia mengaku dipaksa melayani hingga 15 pria setiap hari. Jika dihitung dalam sebulan, jumlah tersebut mencapai sekitar 450 pria. Korban juga menyebut dirinya kerap mendapat kekerasan fisik apabila tidak mampu memenuhi permintaan yang ditentukan oleh pihak yang diduga mengeksploitasi mereka.
"Aku ini harus ngelayani 15 orang dalam sehari, harus sampai target, kalau enggak nyampe target enggak di gaji," kata salah satu pengakuan korban dalam video yang diunggah Instagram @volkinfo, dikutip Kamis, (7/5/2026).
Tidak hanya mengalami tekanan dan kekerasan, kedua PMI tersebut juga mengaku tidak menerima gaji selama berada di lokasi tempat mereka bekerja. Situasi itu membuat keduanya beberapa kali mencoba melarikan diri demi menyelamatkan diri dari kondisi yang mereka alami.
"Jadi dalam sebulan harus layani 450 pria. Kalau gak sampe target gak dapat gaji," kata wanita itu dengan nada ketakutan.
Mereka juga menyebut berangkat ke Arab Saudi setelah diiming-imingi pekerjaan oleh seorang pekerja lapangan berinisial N, perempuan. Tiba di Arab Saudi, mereka bertemu dengan perempuan berinisial Z.
"Jadi N ini iming-iming di WA untuk kerja di Arab Saudi. Tapi ketemu dengan Z. Di sana kami disekap untuk melayani pria. Tapi kami bisa kabur saat belanja ke salah satu mall," kata wanita tersebut.
Menanggapi video viral tersebut, Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTB, Ponco Indriyo, mengaku belum ada aduan dari keluarga korban. Pihaknya saat ini masih menelusuri identitas dua perempuan yang muncul dalam video.
“Sampai hari ini, kami belum ada menerima pengaduan dari pihak keluarga. Biasanya kan yang sembunyi-sembunyi pasti ada info dari keluarga. Tapi ini belum ada,” kata Ponco.
Lebih lanjut, BP3MI NTB juga berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Kementerian Luar Negeri untuk mencari tahu tentang keberadaan korban. Namun, hingga kini belum ada informasi valid.***