Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA.
IRAN ingin menjadi penentu nasibnya sendiri, ungkap Ayatullah Khomeini. Tahun 1979, 47 tahun yang lalu, rakyat Iran menentang dan menggulingkan pemerintahan Shah Iran karena bertindak sebagai diktator. Di pimpin oleh Ayatullah Khomenei, Iran kemudian menyatakan diri sebagai negara yaitu Republik Islam Iran. Ayatullah Khomenei pulang dari Paris, Perancis dalam pengasingan. Iran adalah salah satu korban paling nyata dari kekerasan structural global. Selama empat decade, negara tersebut hidup dalam kepungan sanks ekonomi oleh barat yang dimotori oleh Amerika Serikat. Lebih dari itu, sanksi adalah bagian dari strategi geopolitik global yang bertujuan untuk mempertahankan dominasi atas sumber energi dan jalur perdagangan dunia. Sejak nasionalisasi minyak Iran pada awal tahun 1950-an, Iran telah menjadi target intervensi sistematis. Kudeta terhadap Mohammad Mossadeh tahun 1953 adalah tonggak awal dari rangkaian panjang dominasi asing yang kemudian memuncak dalam Revolusi tahun 1979. Membaca Buku Revolusi Iran bukanlah sekedar membaca sejarah, namun juga menjadi kebutuhan intelektual bagi siapa saja yang ingin mengetahui perkembangan Iran saat ini. Dan itu sangat penting membaca buku ini.
Buku Revolusi Iran karangan Nasir Tamara ini hadir pertama kali tahun 1980 dan hingga kini merupakan salah satu rujukan berbahasa Indonesia terpenting mengenai sejarah Iran. Dalam Buku Nasir Tamara ini, ditambahkan 6 Bab baru dan epilog baru yang merangkum perkembangan sejarah Iran sampai masa kini. Secara keseluruhan Buku ini terdiri dari 40 Bab dan Epilog yaitu peristiwa sabtu, 28 Februari 2026 : Pecah perang kedua Amerika-Israel melawan Iran.***
(Hasrul Sani Siregar, MA. Penulis; Alumni Hubungan Antarabangsa IKMAS, UKM Bangi, Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau)