Oleh: Buya Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
DALAM kehidupan manusia, seringkali ukuran keberhasilan dilihat dari dua hal yaitu harta dan tahta. Orang kaya dianggap berhasil, orang yang berkuasa dipandang mulia. Tidak sedikit manusia yang menghabiskan energi, waktu, bahkan moralitasnya untuk mengejar dua simbol duniawi tersebut.
Padahal, sejarah manusia menunjukkan sebuah fakta yang sederhana namun mendalam bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan menjadi kaya, tidak semua orang berkesempatan menjadi penguasa. Akan tetapi, setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi orang yang bahagia dan mulia. Mengapa demikian? Karena kebahagiaan dan kemuliaan tidak Allah letakkan di atas harta dan tahta, tetapi di atas iman dan takwa.
Dalam perspektif sejarah, banyak orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan, tetapi hidupnya justru penuh kegelisahan. Nama Fir’aun, Qarun, dan berbagai penguasa zalim dalam sejarah menjadi contoh bagaimana harta dan tahta tidak selalu menghadirkan kemuliaan.
Al-Qur’an secara tegas mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah kekayaan atau kedudukan sosial. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (Q.S. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini meruntuhkan semua standar kemuliaan yang bersifat duniawi. Kemuliaan bukan karena keturunan, bukan karena kekayaan, dan bukan karena kekuasaan. Kemuliaan lahir dari takwa.
Kebahagiaan sering dipersepsikan sebagai hasil dari kepemilikan materi. Namun realitas sosial menunjukkan sesuatu yang berbeda. Banyak orang kaya hidup dalam kecemasan, sementara tidak sedikit orang sederhana hidup dalam ketenangan.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan hati. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini mengajarkan sebuah filsafat hidup yang sangat dalam. Harta hanya memberikan kenyamanan fisik, tetapi iman memberikan ketenangan batin. Harta bisa membeli rumah, tetapi tidak selalu menghadirkan ketenteraman di dalamnya.
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa kehidupan yang baik lahir dari iman dan amal saleh, bukan dari status ekonomi atau kekuasaan sebagaimana Allah SWT berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (Q.S. An-Nahl: 97).
Ayat ini menarik untuk direnungkan. Allah tidak mengatakan bahwa kehidupan baik diberikan kepada orang yang kaya atau berkuasa. Allah menyebutkan iman dan amal saleh sebagai sumber kehidupan yang baik.
Sejarah Islam memberikan banyak contoh tentang kemuliaan yang lahir dari iman. Salah satunya adalah Bilal bin Rabah, seorang mantan budak yang tidak memiliki harta dan kekuasaan. Namun karena keimanannya yang kuat, namanya justru dikenang sepanjang sejarah sebagai muazin Rasulullah SAW.
Begitu pula dengan Umar bin Khattab, yang ketika menjadi khalifah tetap hidup sederhana. Kekuasaan tidak menjadikannya sombong, tetapi justru semakin menumbuhkan rasa tanggung jawab di hadapan Allah.
Kemuliaan para sahabat tidak lahir dari harta atau tahta mereka, melainkan dari ketakwaan yang mendalam kepada Allah.
Dalam pandangan Islam, ada dua hal yang menentukan nilai seorang manusia di hadapan Allah:
Iman, yaitu keyakinan yang tertanam dalam hati. Takwa, yaitu kesadaran spiritual yang mengendalikan perilaku manusia.
Karena itu Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (H.R. Muslim).
Hadits ini memberikan pesan yang sangat kuat bahwa harta hanyalah atribut dunia, sementara hati dan amal adalah nilai yang menentukan kemuliaan manusia.
Inilah keindahan ajaran Islam. Menjadi kaya adalah peluang, tetapi menjadi orang yang mulia adalah pilihan yang terbuka bagi semua orang.
Tidak semua orang dilahirkan dalam keluarga kaya. Tidak semua orang memiliki kesempatan memegang kekuasaan. Namun setiap manusia memiliki peluang yang sama untuk beriman, bertakwa, berbuat baik,
dan hidup dengan hati yang bersih.
Di situlah letak keadilan Ilahi. Allah tidak menjadikan kemuliaan sebagai monopoli orang-orang yang memiliki kekayaan atau kekuasaan.
Pada akhirnya, sejarah manusia akan terus berubah. Harta akan berpindah tangan. Kekuasaan akan berganti generasi. Namun iman dan takwa adalah nilai yang abadi.
Karena itu, jika tidak semua orang berkesempatan menjadi kaya, jangan bersedih. Jika tidak semua orang berkesempatan menjadi penguasa, jangan berkecil hati. Sebab di atas harta dan tahta, ada iman dan takwa yang memuliakan manusia.
Dan kemuliaan itu bukan milik segelintir orang. Kemuliaan itu terbuka bagi siapa saja yang memilih jalan iman dan ketakwaan.
(Buya Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Dai, Advokat, Akademisi, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pemerhati Kebijakan Karakter)