KAMPAR, AmiraRiau.com – Pesona Danau Rusa di kawasan PLTA Koto Panjang kini tengah menjadi primadona wisatawan. Namun, di balik keindahan alamnya, muncul kegelisahan di tengah masyarakat lokal terkait etika pengunjung yang dinilai mulai menabrak tatanan norma agama dan adat istiadat Negeri Serambi Mekkah.
Keprihatinan ini memuncak setelah beredarnya unggahan di media sosial yang memperlihatkan sejumlah wisatawan berpakaian sangat minim saat bersantai dan berenang di tepian Danau Rusa.
Tokoh Adat XIII Koto Kampar, Sawir Datuk Tandiko, menegaskan bahwa etika berpakaian bukan sekadar urusan pribadi, melainkan bentuk penghormatan terhadap jati diri masyarakat setempat.
"XIII Koto Kampar adalah negeri yang menjunjung tinggi nilai agama dan adat. Etika berperilaku di ruang publik adalah bagian dari marwah kami yang harus dihormati oleh siapa pun yang datang," tulis Datuk Tandiko melalui akun media sosial pribadinya, Minggu (8/2/2026).
Beliau menjelaskan bahwa masyarakat adat pada dasarnya sangat mendukung kemajuan pariwisata. Pengembangan sektor ini dinilai penting untuk mendongkrak ekonomi warga dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Namun, Datuk Tandiko mengingatkan agar pencapaian materi tidak mengorbankan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun. Ia tak ingin Danau Rusa kehilangan "ruh" religiusnya hanya demi mengejar popularitas semata.
"Jangan sampai demi mengejar target PAD, kita mengabaikan nilai agama dan adat istiadat yang menjadi pegangan hidup masyarakat kami," tegasnya.
Sebagai solusi, Tokoh Adat berharap pihak pengelola kawasan wisata dan instansi terkait tidak tinggal diam. Perlu ada aturan tertulis, papan imbauan, serta pengawasan yang lebih ketat di lapangan agar kenyamanan pengunjung dan marwah penduduk lokal bisa berjalan beriringan.
Bagi masyarakat Kampar, kemajuan pariwisata yang ideal adalah kemajuan yang selaras dengan kearifan lokal—di mana alam tetap lestari, ekonomi mandiri, dan marwah negeri tetap terjaga tinggi.
Penulis: Ali Akbar