Saat ini, empat bulan sudah dari masa operasiku berlalu. Meski dengan berjalan pincang, aku sudah bisa menaiki sepeda motor. Istriku berjualan jus tak jauh dari rumah tempat kami tinggal. Bahkan di pekan terakhir September 2020 ini aku sudah mendapatkan kembali pekerjaan di sebuah perusahaan swasta di Kota Duri. Alhamdulillah….
Tentu kebahagiaan kami atas segala bentuk pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan bantuan dari dr. Arnita Sari sangat membuncah. Rasa syukur tak henti kami ucapkan hingga hari ini. Serta terima kasih tiada terhingga untuk Ibu dr. Arnita Sari, teriring do’a untuk semua kebaikan beliau dalam kehidupannya, dalam keluarganya, serta dalam segenap amanah yang diembannya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi beliau dan memberikan kebaikan berlipat atas apa yang telah diberikan untuk kami dan masyarakat semua.
Pagi ini, saat aku berkisah panjang tentang dr. Arnita Sari, sejatinya ada keinginan kuat yang belum terlaksana; Kami ingin menemui beliau! Ingin rasanya berterima kasih secara langsung. Bahkan istriku menyampaikan, dengan rasa terima kasih yang tak terhingga, barang sejenak mencium kakinya. Sebagai bentuk hormat atas jasa yang tak terperikan. Jasa yang dicetaknya untuk kami, saat kami di tengah keputusasaan.
Hingga kini, kami tak pernah bertemu. Namun pertolongan itu nyata adanya. Pertolongan yang bukan hanya menjadi jalan terang bagi kehidupan kami, melainkan juga bagi segenap mimpi-mimpi masa depan kami.
Meski belum pernah bertemu, do’a dan salam kami untuk “Malaikat” itu; dr. Arnita Sari! (*)
Saat ini, empat bulan sudah dari masa operasiku berlalu. Meski dengan berjalan pincang, aku sudah bisa menaiki sepeda motor. Istriku berjualan jus tak jauh dari rumah tempat kami tinggal. Bahkan di pekan terakhir September 2020 ini aku sudah mendapatkan kembali pekerjaan di sebuah perusahaan swasta di Kota Duri. Alhamdulillah….
Tentu kebahagiaan kami atas segala bentuk pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan bantuan dari dr. Arnita Sari sangat membuncah. Rasa syukur tak henti kami ucapkan hingga hari ini. Serta terima kasih tiada terhingga untuk Ibu dr. Arnita Sari, teriring do’a untuk semua kebaikan beliau dalam kehidupannya, dalam keluarganya, serta dalam segenap amanah yang diembannya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi beliau dan memberikan kebaikan berlipat atas apa yang telah diberikan untuk kami dan masyarakat semua.
Pagi ini, saat aku berkisah panjang tentang dr. Arnita Sari, sejatinya ada keinginan kuat yang belum terlaksana; Kami ingin menemui beliau! Ingin rasanya berterima kasih secara langsung. Bahkan istriku menyampaikan, dengan rasa terima kasih yang tak terhingga, barang sejenak mencium kakinya. Sebagai bentuk hormat atas jasa yang tak terperikan. Jasa yang dicetaknya untuk kami, saat kami di tengah keputusasaan.
Hingga kini, kami tak pernah bertemu. Namun pertolongan itu nyata adanya. Pertolongan yang bukan hanya menjadi jalan terang bagi kehidupan kami, melainkan juga bagi segenap mimpi-mimpi masa depan kami.
Meski belum pernah bertemu, do’a dan salam kami untuk “Malaikat” itu; dr. Arnita Sari! (*)