Penyiraman Biasa Percuma? Dr. Rawa El Amady Minta Riau Diguyur Hujan Buatan Beruntun

I

Isman

Jumat, 18 September 2026 | 08:59 WIB

Penyiraman Biasa Percuma? Dr. Rawa El Amady Minta Riau Diguyur Hujan Buatan Beruntun
Akademisi dari Universitas Lancang Kuning (Unilak) Riau, Dr. M. Rawa El Amady, M.A.

PEKANBARU, AmiraRiau.com- Akademisi dari Universitas Lancang Kuning (Unilak) Riau, Dr. M. Rawa El Amady, M.A., menegaskan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Riau tidak cukup hanya mengandalkan metode pemadaman sederhana di permukaan.

Menurut Rawa, solusi paling efektif untuk menaklukan si jago merah yang membakar hamparan gambut adalah melalui operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau penyemaian hujan buatan secara terus-menerus hingga air merendam penuh area yang terbakar.

"Alasannya karena tingkat kekeringan pada lapisan gambut dalam sudah sangat parah. Kondisi ini menyebabkan struktur gambut di kedalaman menjadi sangat rapuh dan mudah menyebarkan bara api di bawah permukaan," tegas Rawa, Jumat (18/9/2026).

Ia menjelaskan, karakter kebakaran lahan gambut di Riau memiliki kompleksitas tinggi karena api tidak hanya berkobar di atas tanah, melainkan menjangkau lapisan dalam yang tidak bisa dijangkau oleh penyiraman darat secara manual maupun water bombing berkapasitas terbatas.

Oleh karena itu, penyiraman intensif melalui Guyuran hujan buatan yang konsisten dinilai menjadi satu-satunya cara untuk membasahi kembali kubah gambut (rewetting) hingga benar-benar jenuh air dan memadamkan sumber api di kedalaman.

Mantan Wartawan Senior SKM GeNTA ini menegaskan, sumber masalah adalah kerentanan  ekosistem gambut karena rusaknya lansekap air yang disebabkan kanal dalam milik perusahaan dan saja hilangnya sumber air karena bonggol gambut dalam sudah ditanami sawit atau akasia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 3.227 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah wilayah di Pulau Sumatera berdasarkan pemutakhiran data, Jumat (18/9/2026) pagi.

Provinsi Sumatera Selatan masih menjadi penyumbang terbesar dengan 2.283 titik. Disusul Kepulauan Bangka Belitung 339 titik, Jambi 299 titik, dan Lampung 218 titik.

Sementara itu, untuk Provinsi Riau terpantau memiliki 71 titik panas yang tersebar di delapan kabupaten dan kota.

Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) mencatatkan konsentrasi hotspot terbanyak di Riau dengan 41 titik. Diikuti Kabupaten Kampar 8 titik, Indragiri Hilir (Inhil) 7 titik, Siak 5 titik, serta Kota Dumai 4 titik.

Selanjutnya, Kabupaten Pelalawan terdeteksi 3 titik, Rokan Hilir (Rohil) 2 titik, dan Rokan Hulu (Rohul) 1 titik.

Adapun wilayah lainnya di Sumatera juga mencatat sebaran titik panas, yakni Kepulauan Riau 10 titik, Sumatera Utara 6 titik, dan Bengkulu 1 titik.***

Penulis: YD
Editor: Isman