Pesan Terakhir Sang Pencerah – Hikmah di Balik Sahabat Tak Terlihat

A

administrator

Kamis, 20 November 2025 | 00:00 WIB

Pesan Terakhir Sang Pencerah – Hikmah di Balik Sahabat Tak Terlihat

Oleh: Mardianto Manan

BEBERAPA hari sebelum kepergiannya, almarhum Drh. Chaidir menulis sebuah esai yang kini terasa seperti pesan pamitan seorang intelektual yang telah menuntaskan tugasnya di dunia: “Sahabat Tak Terlihat.” Tulisan itu, bila dibaca ulang, bukan sekadar renungan spiritual. Ia adalah pesan jernih seorang bijak kepada masyarakatnya—terutama Riau yang tengah dirundung kecemasan oleh berbagai peristiwa kelam belakangan ini.

Chaidir mengutip Naguib Mahfouz, penyair Mesir peraih Nobel, bahwa takdir adalah sahabat tak terlihat. Sebuah metafora yang mengingatkan bahwa manusia selalu ditemani oleh tangan-tangan rahasia yang membentuk alur hidupnya, meski kita tak mampu melihat ataupun menebaknya. Chaidir tidak sekadar mengulang konsep teologis tentang takdir; ia mengajak kita melihatnya sebagai energi penguat, penuntun, sekaligus ruang refleksi diri.

Hikmah Tersembunyi di Balik Peristiwa Gelap

Dalam tulisannya, ia menegaskan bahwa musibah tidak selamanya buruk, sebab di baliknya sering bersembunyi hikmah yang hanya tampak setelah waktu berlalu—blessing in disguise. Ia menarasikan sebuah kisah lama tentang dua sahabat yang ketinggalan pesawat, yang ternyata menyelamatkan mereka dari maut. Kisah sederhana itu dipilih Chaidir bukan untuk menggurui, melainkan untuk mengingatkan bahwa manusia terlalu sering panik melihat permukaan, namun lupa membaca kedalaman makna.

Sesungguhnya, di titik inilah pesan Chaidir menjadi sangat relevan bagi Riau hari ini. Di tengah kabut asap, guncangan politik, keresahan publik, dan ketidakpastian sosial, ia bertanya secara halus: apakah kita cukup sabar untuk menunggu hikmah yang mungkin sedang bekerja diam-diam?

Ketika Jiwa Riau Merintih

Riau, dalam kalimat Chaidir, sedang diselimuti “awan kelam yang menyesakkan jiwa.” Ini bukan hanya tentang polusi udara atau konflik politik; ini tentang kehampaan batin masyarakat, kekosongan harapan yang sejak lama mengendap.

Chaidir seakan hendak berkata bahwa krisis terbesar bukan terletak pada asap yang menutup langit, tetapi pada kabut yang menutupi kejernihan hati manusia. Dan untuk itu, ia mengutip Nurcholish Madjid: manusia baru kembali kepada Tuhan ketika ia merasa hampa.

Pesan ini menjadi penegasan moral yang sangat kuat:
ketika struktur sosial goyah, ketika keadilan terasa jauh, dan ketika elite gagal memberi teladan, jalan pulang hanya satu—refleksi spiritual.

Pesan Pamitan Seorang Guru

Kini, ketika kita tahu bahwa esai tersebut adalah tulisan terakhirnya, barulah kita membaca pesan itu dengan mata berbeda. Di antara setiap paragrafnya, terselip isyarat halus:

bahwa hidup perlu dijalani dengan ikhtiar, namun diterima dengan lapang;

bahwa manusia harus rendah hati di hadapan misteri kehidupan;

bahwa setiap musibah mungkin menyimpan kebaikan yang belum terbuka;

bahwa mendekat kepada Tuhan bukan pilihan terakhir, melainkan kekuatan yang utama.

Esai itu bukan sekadar renungan. Ia adalah warisan intelektual terakhir seorang tokoh publik, seorang akademisi, dan seorang penulis yang sepanjang hidupnya menaburkan perspektif jernih bagi masyarakat Riau.

Dengan berpulangnya Chaidir, kita kehilangan seorang pemikir yang tenang dan berkelas. Namun melalui tulisannya, ia meninggalkan pesan yang akan terus hidup:

“Dalam gelapnya kehidupan, selalu ada sahabat tak terlihat yang menuntun. Bersabarlah, berikhtiarlah, dan temukan hikmah yang Tuhan sembunyikan.” 

Selamat jalan bang terlalu banyak kenangan kami bersama abang, tunak santun dan menuntun, semoga abang husnul khotimah.

(Mardianto Manan. Penulis; Anggota Majelis Pemuka Masyarakat Riau/FKPMR)