Prestasi MTQ Kampar Turun, DPRD Minta LPTQ Benahi Sistem Pembinaan

I

Isman

Senin, 13 Juli 2026 | 19:43 WIB

Prestasi MTQ Kampar Turun, DPRD Minta LPTQ Benahi Sistem Pembinaan
Anggota DPRD Kabupaten Kampar, Habiburrahman.

KAMPAR, AmiraRiau.com– Penurunan prestasi Kabupaten Kampar pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Riau memicu sorotan dari berbagai kalangan.

 Setelah turun dari peringkat keenam menjadi peringkat ketujuh, Anggota DPRD Kabupaten Kampar, Habiburrahman, mendesak Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) bersama Pemerintah Kabupaten Kampar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan dan seleksi peserta.

Menurut Habiburrahman, hasil yang diraih tahun ini tidak boleh hanya dipandang sebagai kegagalan, melainkan harus menjadi momentum untuk memperbaiki pola pembinaan agar prestasi Kampar kembali meningkat pada penyelenggaraan MTQ mendatang.

"Kita tentu mengapresiasi perjuangan seluruh kontingen MTQ Kampar yang telah berusaha maksimal. Namun di sisi lain, kita juga harus jujur melihat hasil yang ada. 

Tahun ini Kampar berada di peringkat ketujuh, padahal sebelumnya berada di peringkat keenam. Ini menjadi catatan penting bagi pembinaan MTQ di Kabupaten Kampar," ujarnya, Senin (13/7/2026).

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menilai salah satu penyebab menurunnya prestasi Kampar adalah belum optimalnya sistem pembinaan yang dilakukan selama ini. Padahal, Kabupaten Kampar dinilai memiliki banyak potensi qari dan qariah yang mampu bersaing di tingkat provinsi.

Selain itu, ia mengungkapkan masih terdapat putra-putri asli Kampar yang memilih memperkuat daerah lain karena dinilai memperoleh penghargaan maupun insentif yang lebih baik.

"Mungkin reward atau penghargaan yang diberikan daerah lain lebih tinggi dibandingkan daerah kita. Ini harus menjadi perhatian. Jangan hanya mengharapkan prestasi mereka, tetapi juga harus memberikan penghargaan yang layak," katanya.

Habiburrahman juga mendorong agar pola pembinaan dilakukan secara berjenjang, dimulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten.

 Menurutnya, pembinaan tidak boleh hanya mengandalkan lulusan pondok pesantren maupun madrasah, tetapi harus diawali dengan penjaringan bibit-bibit potensial sejak dini.

"Pembinaan harus dimulai dari bawah, dari tingkat kecamatan. Selama ini kita terkadang hanya menerima hasil pembinaan dari pesantren, madrasah tsanawiyah, maupun madrasah aliyah. Ke depan, pembinaan harus dilakukan secara lebih terstruktur dan berkelanjutan," ujarnya.

Tak hanya pembinaan, ia juga menekankan pentingnya proses seleksi peserta yang objektif, transparan, dan bebas dari praktik nepotisme sehingga peserta yang mewakili Kampar benar-benar dipilih berdasarkan kemampuan.

"Kita harus jujur. Kalau memang mereka mampu, lanjutkan. Kalau tidak mampu, jangan dipaksakan, meskipun berasal dari keluarga tertentu atau memiliki kedekatan dengan pihak tertentu. Yang diutamakan harus tetap kualitas dan kemampuan peserta," tegasnya.

Habiburrahman berharap evaluasi terhadap sistem pembinaan dan mekanisme seleksi segera dilakukan sehingga Kabupaten Kampar mampu kembali bersaing di papan atas MTQ tingkat Provinsi Riau pada tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, tokoh agama Kabupaten Kampar, Ustadz Iskandar, menilai penurunan prestasi tersebut perlu disikapi secara objektif.

 Menurutnya, berbagai pembenahan sebenarnya telah dilakukan oleh kepengurusan LPTQ Kabupaten Kampar, termasuk melaksanakan pembinaan rutin setiap akhir pekan bagi para calon peserta MTQ.

"Di bawah kepengurusan LPTQ saat ini telah terjadi berbagai perubahan positif, termasuk pelaksanaan pembinaan rutin setiap akhir pekan bagi para calon peserta MTQ.

 Namun, hasil yang dicapai belum sesuai harapan karena mayoritas peserta Kampar hanya mampu meraih juara dua dan belum banyak yang berhasil menjadi juara pertama," ujarnya.

Iskandar menilai persoalan utama bukan semata-mata berada pada pengurus LPTQ. Menurutnya, pembinaan yang berjenjang hingga tingkat kecamatan masih belum berjalan optimal sehingga proses pencarian bibit unggul belum maksimal.

"Pembinaan selama ini lebih banyak terpusat di tingkat kabupaten, sementara di banyak kecamatan belum ada pembinaan yang berjalan secara berkesinambungan. Padahal, penjaringan bibit qari dan qariah seharusnya dimulai dari kecamatan melalui kerja sama antara LPTQ, pondok pesantren, dan madrasah," pungkasnya.

Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, mulai dari LPTQ, pemerintah daerah, kecamatan, pondok pesantren, madrasah hingga masyarakat, dapat memperkuat sinergi dalam melakukan pembinaan secara berkelanjutan.

 Dengan pembinaan yang lebih terstruktur, Kampar diharapkan mampu kembali meraih prestasi terbaik pada MTQ tingkat Provinsi Riau di masa mendatang.
Kalau saya boleh memberi masukan sebagai redaktur, lead berita ini masih bisa dibuat lebih "menggigit".***

Penulis: Ali Akbar