Oleh Rudi H. Saleh Kepala Seksi PPSDKP UPT Wilayah II Bengkalis Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Riau
RIAU memiliki peran ganda sebagai salah satu "lumbung ikan dan energi" yang penting bagi Indonesia, karena wilayah Riau berbatasan dengan Selat Malaka dan laut china selatan, serta memiliki sungai-sungai besar yang kaya akan potensi sumber daya ikan. Perairan pesisir Riau menjadi habitat bagi berbagai jenis ikan, Termasuk ikan pelagis dan ikan karang, yang menjadi sumber mata pencaharian utama bagi masyarakat lokal, terutama yang tinggal di sepanjang garis pantai dan sungai-sungai besar. Nelayan tradisional dan nelayan kecil mengandalkan perikanan sebagai sumber pendapatan keluarga. Hasil tangkapan ikan dan hasil perikanan lainnya diperdagangkan di pasar lokal maupun pasar regional, memberikan kontribusi penting bagi perekonomian lokal dan regional. Selain itu, hutan bakau yang melimpah di sepanjang pantai Riau juga memberikan lingkungan yang penting bagi reproduksi dan perlindungan ikan. Sehingga menjadikan Riau sebagai lumbung ikan yang berkontribusi pada produktivitas perikanan Indonesia. Selanjutnya, daratan Riau memiliki sumber daya energi yang beragam, terutama minyak dan gas bumi seperti pada lapangan migas Blok Rokan, Blok CPP, Blok Malacca Straits, Blok Siak, Blok Kampar, Blok Lirik, Blok Langgak, Blok Mahato, Blok Bentu dan Blok Selat Panjang. Selain potensi migas tersebut, Riau juga memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan, seperti energi matahari, biomassa dan biogas. Potensi sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun memberikan kesempatan untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Sedangkan, lahan yang subur dari tanaman kelapa sawit di Riau juga memberikan potensi sumber energi terbarukan untuk pengembangan bahan bakar nabati (biofuel). Limbah perkebunan sawit baik yang padat dan cair dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBiomassa) atau pembangkit tenaga biogas (PLTBiogas). Kemudian energi air dapat dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) baik skala mini/mikro (PLTMH) maupun skala besar seperti PLTA Koto Panjang. Jika memungkinkan secara teknis dan ekonomis panas bumi, energi angin maupun energi laut lainnya dapat dikembangkan. Dengan demikian, Riau memainkan peran yang signifikan sebagai lumbung ikan dan lumbung energi yang penting bagi Indonesia, yakni menyediakan sumber daya alam yang berharga dalam mendukung keberlanjutan ekonomi dan lingkungan. Secara geografis Riau berada di tengah pulau Sumatera dengan luas wilayah 90.128,76 km2, terdiri dari luas wilayah perairan 21.029,14 km² meliputi laut 19.382,29 km² dengan panjang garis pantai 2.713 km dan perairan umum daratan (PUD) 1.646,85 km², serta luas daratan 89.083,57 km2 (Renstra DKP Provinsi Riau 2019-2024). Terbagi menjadi 10 Pemerintahan Kabupaten dan 2 Pemerintahan Kota. Jumlah penduduk Riau pada tahun 2022 sebanyak 6.614.380 jiwa dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk 1,95 persen. Selanjutnya, produk domestik regional bruto Riau (PDRB) atas dasar harga berlaku sebesar 991.589,59 miliar rupiah dan atas dasar harga konstan sebesar 529.532,98 miliar rupiah dengan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 4,55 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,36 persen (Provinsi Riau Dalam Angka 2023). Seiring meningkatnya jumlah penduduk Riau, maka kebutuhan akan protein khususnya yang berasal dari komoditas perikanan akan terus meningkat setiap tahunnya. Laju pertumbuhan kebutuhan konsumsi ikan per tahun mencapai rata-rata 3,38 persen dari tahun 2016-2020. Sementara laju pertumbuhan produksi hanya tumbuh sebesar 1,31 persen dengan rasio produksi terhadap konsumsi selama kurun waktu 2016-2020 hanya sebesar -2,04 persen. (RPJMD Provinsi Riau tahun 2019-2024). Apalagi ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang baik, kedepan tentunya membutuhkan konsumsi sumber daya ikan dan energi yang cukup besar. Lumbung Ikan Lumbung ikan adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada suatu tempat atau wilayah yang kaya akan sumber daya ikan. Istilah ini sering kali digunakan dalam konteks konservasi dan pengelolaan sumber daya perikanan. Sebuah lumbung ikan biasanya merupakan ekosistem perairan yang sehat dan produktif yang menyediakan habitat yang ideal bagi berbagai jenis ikan dan organisme akuatik lainnya. Lumbung ikan ini penting karena menyediakan sumber daya ikan yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat dan berkontribusi pada keanekaragaman hayati di perairan tersebut. Riau merupakan salah satu lumbung ikan di Indonesia, karena memiliki potensi sumber daya perikanan yang cukup besar. Walaupun tidak sebesar potensi perairan di beberapa wilayah lain seperti Lampung (Teluk Lampung), Sulawesi Tengah (Teluk Tomini), Sulawesi Selatan (Teluk Bone), Papua Barat (Teluk Bintuni), atau Kepulauan Maluku. Meskipun begitu, perikanan tetap menjadi salah satu sektor ekonomi penting di Riau. Mengenang sejarah pada tahun 1928 surat kabar De Indische Mercuur menulis bahwa Kota Bagansiapiapi pada masa lalu (sekarang Ibu kota Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau) adalah kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah Kota Bergen di Norwegia. Akan tetapi, sekarang produksi ikannya sudah agak menurun. Dulu kota Bagansiapiapi terkenal sebagai penghasil ikan terpenting, sehingga dijuluki sebagai kota ikan. Seperti uraian diatas, perairan Riau dengan luas wilayah 21.478 km2 dan panjang garis pantai 2.713 km, berdasarkan pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/PERMEN-KP/2014 tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) masuk dalam WPPNRI 571 wilayah Selat Malaka dan WPPNRI 711 wilayah perairan Laut Cina Selatan. Untuk WPPNRI 571 (Selat Malaka dan Laut Andaman) meliputi wilayah Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Riau mencakup Kabupaten Rokan Hilir, Dumai, Bengkalis, Siak dan Kepulauan Meranti memiliki potensi lestari sumber daya ikan sebesar 425.444 ton dan yang boleh dimanfaatkan hanya 340.355 ton dengan alokasi untuk Provinsi Riau sebesar 36.809 ton. Jenis Ikan dominan yang tertangkap di WPPNRI 571 menurut Kepmen KP No. 75 Tahun 2016 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan di WPPNRI 571 adalah kembung, teri, selar, tongkol komo, gulamah /tigawaja, layang, udang putih/ jerbung. Sedangkan WPPNRI 711 meliputi wilayah Provinsi Jambi, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, Riau mencakup Kabupaten Indragiri Hilir dan Pelalawan memiliki potensi lestari sumber daya ikan laut sebesar 767.126 ton dan yang boleh dimanfaatkan hanya 613.429 ton dengan alokasi untuk Provinsi Riau sebesar 32.742 ton. Jenis Ikan dominan yang tertangkap di WPPNRI 711 menurut Kepmen KP No. 78 Tahun 2016 tentang Rencana Pengelolaan Perikanan di WPPNRI 711 adalah tenggiri, tongkol, krai, tembang, selar dan manyung. Pada tahun 2023, target produksi perikanan Provinsi Riau dari perikanan tangkapan laut sebesar 152.105,79 ton dan realisasi sebesar 139.671,17 ton atau mencapai 91,83 persen. Capaian produksi perikanan tangkap laut ini berpengaruh terhadap pendapatan usaha perikanan tangkap. Pendapatan usaha perikanan tangkap memberikan gambaran tentang dinamika tingkat kesejahteraan nelayan. Untuk mengukur tingkat kesejahteraan nelayan digunakan nilai tukar nelayan (NTN). NTN merupakan alat ukur kesejahteraan nelayan yang diperoleh dari perbandingan besarnya harga yang diterima oleh nelayan dengan harga yang dibayarkan oleh nelayan. Realisasi NTN Provinsi Riau sebesar 105,18, apabila dibandingkan dengan target tahun 2023 sebesar 112 telah mencapai 93,91 persen. Secara rata-rata NTN Provinsi Riau tumbuh positif sebesar 0.62 persen selama tahun 2022-2023, sehingga meningkat dari senilai 104,53 pada tahun 2022 menjadi 105,18 pada tahun 2023. Sementara target produksi perikanan budidaya sebesar 126.344,73 ton dan realisasi 122.356,95 ton atau mencapai 96,84 persen. Capaian produksi perikanan budidaya berpengaruh terhadap Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPI). NTPI merupakan angka indek antara indeks harga yang diterima oleh pembudidaya ikan (It) terhadap indeks harga yang dibayar oleh pembudidaya ikan (Ib). Nilai tukar lebih besar dari 100 berarti pembudidaya mengalami surplus kenaikan harga produksi lebih tinggi dibanding kenaikan harga konsumsi, nilai tukar sama dengan 100 berarti pembudidaya mengalami impas kenaikan harga produksi sama dengan kenaikan harga konsumsi dan nilai tukar lebih kecil dari 100 berarti pembudidaya mengalami defisit kenaikan harga produksi lebih kecil daripada kenaikan harga konsumsi. Pada tahun 2023, target NTPI Provinsi Riau sebesar 112 dan realisasi sebesar 101,37 atau mencapai 90,51 persen. Secara rata-rata NTPI Provinsi Riau tumbuh positif sebesar 2,70 persen selama tahun 2022-2023, sehingga meningkat dari senilai 98,63 pada tahun 2022 menjadi 101,37 pada tahun 2023. (DKP Provinsi Riau, 2024) Lumbung Energi Lumbung energi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu wilayah atau ekosistem yang memiliki tingkat produksi energi yang tinggi atau memiliki potensi besar untuk menghasilkan energi. Dalam konteks lumbung energi, Riau merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di tengah pulau Sumatera, memiliki potensi besar dalam menyediakan berbagai sumber daya energi, sebagai berikut:- Pertama, Sumber daya energi fosil, Riau sebagai daerah penghasil minyak dan gas bumi memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian dan menyediakan sumber daya energi yang penting bagi Indonesia sebesar 27,74 persen dengan total lifting minyak bumi pada tahun 2023 mencapai 67.939.776,08 barel dan gas bumi sebesar 29.331.159,61 MMBTU (Ditjen Migas, 2023). Berdasarkan catatan SKK Migas, kinerja produksi minyak pada Blok Rokan yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) tahun 2023 berada di level 161.623 BOPD terbesar di Indonesia. Sementara cadangan total (terbukti dan potensial) sumberdaya minyak dan gas bumi Riau sebesar 2.875,50 Juta barel minyak dan sebesar 1.093,8 billion kaki kubik (BCF) gas bumi, atau 39,40 persen dari 7.305,0 Juta barel cadangan total minyak dan 0,72 persen dari 151.331,40 BCF cadangan total gas bumi Indonesia. Riau juga memiliki potensi sumberdaya batubara yang diperkirakan mencapai 1.800,1 juta ton dengan cadangan tereka dan terbukti sebesar 687.8 juta ton atau 2,1 persen dari cadangan total batubara Indonesia berjumlah 124.796,7 juta ton. Selain itu Riau masih memiliki sumber daya energi fosil lainnya seperti Coal Bed Methane (CBM) sebesar 2,08 TSCF, Shale Gas sebesar 25,59 TSCF, Shale Oil sebesar 697,44 MMBO dan bitumen sebesar 52,8 juta ton. (RUED Provinsi Riau, 2021-2050).
- Kedua, Dalam penyediaan bahan bakar nabati (biodiesel), Riau berkonstribusi cukup besar mencapai 38,49 persen atau 3,336,302 Kiloliter dari total kebutuhan nasional mandatori B30 (Kepmen Menteri ESDM Nomor 252.K/10/MEM/2020), karena Riau memiliki luas lahan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia seluas 2.489.957 Ha dengan jumlah produksi tandan buah sawit (TBS) sebesar 8.235.040 ton (Riau Dalam Angka 2023) dan jumlah pabrik kelapa sawit (PKS) 261 unit, dengan kapasitas produksi mencapai 11.660 ton/jam.
- Ketiga, Selain potensi migas dan bahan bakar nabati, Riau memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) lainnya yang cukup besar diantaranya, energi air (mini/micro hydro) sebesar 961,84 MW, baru dimanfaatkan sekitar 12 persen atau 114,27 MW seperti PLTA Koto Panjang dan PLTMH tersebar dibeberapa daerah. Bioenergi terbagi atas biomassa sebesar 3.844 MW, dimanfaatkan sekitar 18,21 persen atau 700 MW dan biogas sebesar 325 MW dimanfaatkan sebesar 10,29 persen atau 33,45 MW. Energi matahari 4,80 kWh/m2/hari dengan potensi energi matahari sebesar 450 MW atau bahkan bisa lebih besar lagi tergantung teknologi, baru dimanfaatkan sebesar 0,02 persen atau 1,28 MWp, serta arus laut dan limbah perkotaan (sampah). Jika memungkinkan panas bumi dan energi angin 3-6 m/det dapat dikembangkan. Secara keseluruhan total potensi EBT di Riau mencapai ± 5.950 MW yang bisa dibangkitkan menjadi sumber energi listrik, dan baru dimanfaatkan sebesar 848,90 MW atau mencapai 14,27 persen. (RUED Provinsi Riau, 2021-2050).
Energi dan Ikan harta yang luar biasa Anugerah Allah SWT untuk umat manusia Gunakanlah dengan bijaksana sepanjang masa Supaya kehidupan terasa sangat bahagia