Sebelum memilih satu nama, Tim Seleksi sebelumnya telah menginventarisir belasan nama nominator Penulis Hebat Riau, antara lain; Tennas Effendi, BM Syamsuddin, Ediruslan Pe Amanriza, Hasan Junus, Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, dan Suman HS.
Baca Juga:
Sebelum memutuskan memilih nama yang sudah diinventarisir, tim Seleksi terlebih dahulu menyepakati kriterianya calon yang dipilih, yang pertama penulis tersebut sudah wafat. Kemudian lahir dan lama berkarya di Riau.
“Keriteria lainnya, karya-karyanya memiliki nilai budaya dan kearifan lokal serta berdampak positif terhadap masyarakat, serta dikenal atau diterima sampai ke luar provinsi. Dan lebih bagus lagi terkenal sampai ke seluruh Indonesia, atau luar negeri,” ujar Satria.
Selanjutnya, sosoknya memiliki keteladanan dalam kehidupan sehari-hari dan pesan-pesan yang disampaikan dalam karyanya tercermin dari prilaku, sikap keseharian, dan dalam menghadapi masalah kehidupan.
Berdasarkan kriteria itulah, sambung Satria, akhirnya pada rapat Tim Seleksi di ruang rapat Rektor UIR, Selasa (11/3/2025) nama Soeman Hs yang telah dikenal sebagai sastrawan Angkatan Balai Pustaka dan dianggap penancap tonggak sejarah cerita pendek dipilih oleh Tim Seleksi.
Baca Juga:
“Soeman Hs juga dianggap sebagai pelopor penulisan cerita detektif berbahasa Indonesia modern, juga pelopor cerita humor,” tambahnya.
Tim seleksi juga menilai, kepiawaian Soeman Hs dalam menghasilkan karya sastra prosa selama ini telah menginspirasi generasi sesudahnya dan generasi muda dalam ikut menulis dan berkarya terkhusus prosa. Hal ini terlihat dengan bermunculan sastrawan-sastrawan Riau yang produktif dan mampu berbicara dalam bertaraf nasional bahkan internasional.
Nilai plus seorang Soeman Hs juga karena ia tiddak hanya dikenal sebagai sastrawan, melainkan juga sebagai pejuang dan pendidik. Dia ikut berjuang mempertahankan bangsa dan negara dari penjajah Belanda dan Jepang.
Pada Zaman Jepang Soeman Hs. hampir dijatuhi hukuman mati karena melarang rakyat untuk menyetor upeti kepada Pemerintah Jepang. Dia "mengompori" rakyat Riau agar menyembunyikan hasil ladangnya. Pada Perang Agresi Militer Belanda Kedua tahun 1948 Soeman Hs. menjabat Komandan Pangkalan Gerilya merangkap Wedana Rokan Kanan.
Di Riau sendiri, untuk mengenang jasa-jasanya, nama Soeman Hs telah diabadikan sebagai nama Gedung Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Riau.***
Sebelum memilih satu nama, Tim Seleksi sebelumnya telah menginventarisir belasan nama nominator Penulis Hebat Riau, antara lain; Tennas Effendi, BM Syamsuddin, Ediruslan Pe Amanriza, Hasan Junus, Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, dan Suman HS.
Baca Juga:
Sebelum memutuskan memilih nama yang sudah diinventarisir, tim Seleksi terlebih dahulu menyepakati kriterianya calon yang dipilih, yang pertama penulis tersebut sudah wafat. Kemudian lahir dan lama berkarya di Riau.
“Keriteria lainnya, karya-karyanya memiliki nilai budaya dan kearifan lokal serta berdampak positif terhadap masyarakat, serta dikenal atau diterima sampai ke luar provinsi. Dan lebih bagus lagi terkenal sampai ke seluruh Indonesia, atau luar negeri,” ujar Satria.
Selanjutnya, sosoknya memiliki keteladanan dalam kehidupan sehari-hari dan pesan-pesan yang disampaikan dalam karyanya tercermin dari prilaku, sikap keseharian, dan dalam menghadapi masalah kehidupan.
Berdasarkan kriteria itulah, sambung Satria, akhirnya pada rapat Tim Seleksi di ruang rapat Rektor UIR, Selasa (11/3/2025) nama Soeman Hs yang telah dikenal sebagai sastrawan Angkatan Balai Pustaka dan dianggap penancap tonggak sejarah cerita pendek dipilih oleh Tim Seleksi.
Baca Juga:
“Soeman Hs juga dianggap sebagai pelopor penulisan cerita detektif berbahasa Indonesia modern, juga pelopor cerita humor,” tambahnya.
Tim seleksi juga menilai, kepiawaian Soeman Hs dalam menghasilkan karya sastra prosa selama ini telah menginspirasi generasi sesudahnya dan generasi muda dalam ikut menulis dan berkarya terkhusus prosa. Hal ini terlihat dengan bermunculan sastrawan-sastrawan Riau yang produktif dan mampu berbicara dalam bertaraf nasional bahkan internasional.
Nilai plus seorang Soeman Hs juga karena ia tiddak hanya dikenal sebagai sastrawan, melainkan juga sebagai pejuang dan pendidik. Dia ikut berjuang mempertahankan bangsa dan negara dari penjajah Belanda dan Jepang.
Pada Zaman Jepang Soeman Hs. hampir dijatuhi hukuman mati karena melarang rakyat untuk menyetor upeti kepada Pemerintah Jepang. Dia "mengompori" rakyat Riau agar menyembunyikan hasil ladangnya. Pada Perang Agresi Militer Belanda Kedua tahun 1948 Soeman Hs. menjabat Komandan Pangkalan Gerilya merangkap Wedana Rokan Kanan.
Di Riau sendiri, untuk mengenang jasa-jasanya, nama Soeman Hs telah diabadikan sebagai nama Gedung Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Riau.***