BENGKULU SELATAN, AmiraRiau.com - Di balik tembok tinggi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Manna, harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik terus dipelihara. Bukan melalui hukuman semata, melainkan lewat sentuhan nilai-nilai spiritual yang diyakini mampu menata hati dan membangun kesadaran diri.
Pada Selasa (14/7/2026), suasana Masjid At-Taubah Rutan Kelas IIB Manna dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur'an. Sebanyak 30 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mengikuti kegiatan pembinaan kerohanian berupa belajar mengaji dan praktik salat sebagai bagian dari program pembinaan kepribadian yang rutin dilaksanakan.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB itu dipantau langsung oleh Plh. Kasubsi Pelayanan Tahanan Yoki Ismanto, S.H bersama jajaran pembina kerohanian, petugas pengamanan, dan staf Rutan Manna. Seluruh rangkaian berlangsung dengan tertib, khidmat, dan penuh kekhusyukan.

Pembinaan keagamaan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keimanan, kesabaran, serta tanggung jawab moral kepada para warga binaan. Melalui pendekatan spiritual, mereka diharapkan mampu melakukan refleksi diri, memperbaiki sikap, dan mempersiapkan diri untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat.
Bagi jajaran Rutan Manna, pembinaan kerohanian merupakan bagian penting dari proses pemasyarakatan. Pemidanaan tidak dimaknai sebagai akhir dari perjalanan hidup seseorang, melainkan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun karakter yang lebih baik.

Program belajar mengaji dan salat ini juga menjadi wujud pemenuhan hak Warga Binaan Pemasyarakatan dalam memperoleh pembinaan keagamaan sebagaimana diamanatkan dalam sistem pemasyarakatan. Hak tersebut menjadi fondasi penting agar proses pembinaan tidak hanya menyentuh aspek kedisiplinan, tetapi juga membangun kekuatan batin dan akhlak.
Melalui lantunan ayat-ayat suci yang menggema dari Masjid At-Taubah, Rutan Kelas IIB Manna berupaya menegaskan bahwa harapan selalu terbuka bagi setiap insan. Sebab, perubahan sejati lahir ketika hati tersentuh oleh nilai-nilai keimanan, dan setiap langkah menuju kebaikan selalu memiliki ruang untuk dimulai, bahkan dari balik jeruji besi.***
Penulis: DL