Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
SETIAP pergantian tahun selalu datang dengan dua wajah. Di satu sisi, ia disambut gegap gempita berupa pesta kembang api meledak di langit, hitung mundur diteriakkan, pesta digelar, dan harapan-harapan baru dituliskan. Di sisi lain, tahun baru hadir dalam senyap: ia hanya menambah satu angka pada kalender, tanpa suara, tanpa sorak, namun diam-diam mengurangi jatah umur manusia. Di titik inilah tahun baru layak direnungkan bukan semata sebagai pesta waktu, melainkan sebagai momen hisab berupa penghitungan atas hidup yang terus berjalan.
Secara historis, manusia memang selalu memberi makna simbolik pada pergantian waktu. Bangsa Romawi kuno merayakan Janus, dewa bermuka dua, yang memandang masa lalu dan masa depan. Tradisi modern mewarisi semangat itu dalam bentuk resolusi tahunan. Namun sejarah juga mengajarkan satu hal penting: peradaban besar runtuh bukan karena kekurangan pesta, melainkan karena kehilangan kesadaran akan waktu dan tanggung jawab moral di dalamnya.
Dalam perspektif psikologis, euforia tahun baru bekerja sebagai mekanisme penghiburan kolektif. Manusia merasa perlu “menutup” luka-luka tahun lalu dengan optimisme instan. Hitung mundur memberi ilusi kontrol, seakan hidup dapat diulang hanya dengan mengganti angka. Padahal, waktu tidak pernah benar-benar baru. Ia terus mengalir, membawa konsekuensi dari setiap pilihan yang pernah dibuat. Resolusi sering gagal bukan karena niat yang buruk, tetapi karena refleksi yang dangkal.
Di sinilah filsafat waktu memberi pelajaran penting. Para filsuf sejak Herakleitos telah mengingatkan bahwa manusia tak pernah mandi di sungai yang sama dua kali. Waktu tidak berputar, ia bergerak maju. Tahun baru sejatinya bukan titik awal, melainkan tanda berkurangnya perjalanan. Kita tidak sedang menambah usia, melainkan menghabiskannya. Maka pertanyaan paling jujur di awal tahun bukanlah “apa yang ingin kita capai?”, melainkan “apa yang telah kita pertanggungjawabkan?”
Islam sejak awal menempatkan waktu sebagai entitas yang sakral dan serius. Allah bersumpah dengan waktu dalam banyak ayat, seakan ingin menggugah kesadaran manusia agar tidak meremehkannya.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 1–2).
Kerugian di sini bukan semata materi, melainkan kerugian eksistensial: waktu habis, tetapi makna tidak tumbuh.
Al-Qur’an tidak pernah berbicara tentang “tahun baru” dalam pengertian seremoni, tetapi sangat tegas tentang pergantian hari dan malam sebagai tanda kekuasaan Allah dan medan ujian bagi manusia. “Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan: 62). Pergantian waktu bukan alasan berpesta, melainkan undangan untuk bertafakur.
Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahwa waktu adalah objek hisab yang pertama-tama akan dipertanyakan. Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan.” (HR. Tirmidzi).
Hadits ini menggeser paradigma kita: umur bukan sekadar anugerah, tetapi amanah. Setiap detik yang berlalu adalah modal yang akan dimintai laporan.
Namun agama tidak datang untuk mematikan harapan. Islam justru memberi keseimbangan antara kesadaran akan hisab dan optimisme amal. Tahun baru dapat menjadi momentum hijrah batin, bukan sekadar pindah kalender, tetapi berpindah dari lalai menuju sadar, dari menunda menuju bersegera. Dalam sejarah Islam, hijrah Nabi Muhammad SAW bukan perayaan, melainkan transformasi nilai, keberanian moral, dan komitmen spiritual.
Masalahnya, budaya modern sering memaknai tahun baru secara dangkal. Euforia menjadi pelarian dari kekosongan makna. Padahal, kegembiraan tanpa kesadaran mudah berubah menjadi lupa diri. Tahun baru dirayakan, tetapi shalat masih ditunda. Resolusi ditulis, tetapi kebiasaan lama tetap dipelihara. Kita ingin hidup berubah, namun enggan mengubah cara hidup.
Di sinilah urgensi waktu menemukan relevansinya. Waktu bukan musuh manusia, tetapi juga bukan sahabat yang bisa ditipu. Ia akan terus berjalan, adil dan tak berkompromi. Orang bijak bukan yang mampu merayakan waktu, tetapi yang mampu mengisinya. Imam Hasan al-Bashri pernah berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap hari berlalu, maka berkuranglah bagian dari dirimu.”
Maka, menyambut tahun baru sejatinya adalah menyambut pertanyaan: sudahkah hidup ini bergerak menuju nilai, atau hanya sekadar berjalan menuju usia tua? Sudahkah waktu mendekatkan kita kepada Tuhan, atau justru menjauhkan dengan dalih kesibukan?
Akhirnya, tahun baru akan selalu datang dengan atau tanpa perayaan. Yang membedakan hanyalah sikap kita. Apakah kita larut dalam euforia dunia yang cepat padam, atau menyiapkan diri untuk hisab waktu yang pasti datang. Sebab pada akhirnya, bukan berapa kali kita merayakan tahun baru yang akan ditanya, melainkan apa yang kita lakukan dengan waktu yang telah Allah titipkan.***
(Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Akademisi dan Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan Karakter)