Oleh: H. Aswandi, S.E.
SETIAP kali Idul Adha tiba, gema takbir berkumandang di seluruh penjuru negeri. Umat Islam berbondong-bondong melaksanakan ibadah qurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Namun sesungguhnya, qurban tidak hanya berdimensi spiritual, melainkan juga mengandung pesan sosial dan ekonomi yang sangat kuat.
Dalam pandangan Islam, ibadah bukan sekadar hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan, tetapi juga harus melahirkan dampak horizontal bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, qurban sejatinya merupakan ibadah spiritual yang memiliki kekuatan besar sebagai gerakan ekonomi kerakyatan.
Sebagai seorang yang bergerak di bidang ekonomi dan dunia usaha, saya melihat bahwa momentum Idul Adha memiliki efek ekonomi yang sangat luas. Perputaran uang meningkat tajam. Peternak rakyat mendapatkan pasar. Pedagang pakan ternak hidup. Jasa transportasi bergerak. Para pekerja harian memperoleh tambahan penghasilan. Bahkan UMKM pengolahan pangan ikut merasakan dampaknya.
Artinya, qurban bukan hanya soal menyembelih hewan, tetapi juga menghidupkan denyut ekonomi masyarakat kecil.
Di daerah-daerah pedesaan, musim qurban sering menjadi harapan tahunan para peternak lokal. Mereka merawat ternak berbulan-bulan dengan penuh kesabaran demi menyambut Idul Adha. Ketika masyarakat membeli hewan qurban dari peternak rakyat, sesungguhnya kita sedang membantu ekonomi keluarga kecil agar tetap bertahan dan berkembang.
Inilah wajah Islam yang menghadirkan keadilan sosial.
Qurban mengajarkan bahwa kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan tertentu. Islam menanamkan prinsip distribusi kesejahteraan melalui ibadah sosial. Daging qurban dibagikan kepada masyarakat, sementara nilai ekonominya menggerakkan sektor usaha rakyat dari hulu hingga hilir.
Karena itu, semangat qurban harus diarahkan menjadi gerakan pemberdayaan ekonomi umat. Masjid, organisasi kemasyarakatan, lembaga zakat, dan pemerintah daerah perlu membangun pola kemitraan dengan peternak lokal. Jangan sampai kebutuhan hewan qurban justru lebih banyak dipenuhi dari luar daerah sementara peternak sekitar tidak mendapatkan manfaat maksimal.
Konsep “berqurban sambil memberdayakan” harus menjadi gerakan bersama. Dengan membeli ternak dari petani dan peternak lokal, maka qurban menjadi instrumen penguatan ekonomi berbasis kerakyatan. Ini penting, terutama di tengah tantangan ekonomi global yang masih dirasakan masyarakat bawah.
Di sisi lain, qurban juga mengajarkan nilai penting tentang pengorbanan dan kepedulian sosial. Dalam kehidupan modern hari ini, tantangan terbesar manusia sering kali bukan kekurangan harta, melainkan lemahnya rasa empati. Banyak orang hidup berkecukupan, tetapi lingkungan sekitarnya masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Maka Idul Adha hadir untuk mengetuk hati nurani. Bahwa dalam setiap rezeki yang Allah titipkan, ada hak masyarakat yang membutuhkan.
Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi semangat gotong royong, Indonesia sesungguhnya memiliki modal sosial yang sangat kuat. Spirit qurban dapat menjadi energi besar dalam memperkuat solidaritas kebangsaan sekaligus memperkuat ekonomi rakyat.
Apalagi saat ini pembangunan ekonomi tidak cukup hanya bertumpu pada investasi besar. Ekonomi kerakyatan harus menjadi fondasi utama. Peternak kecil, pedagang pasar, pelaku UMKM, dan masyarakat desa harus diberi ruang tumbuh secara berkelanjutan. Salah satu momentum yang sangat potensial untuk itu adalah Idul Adha.
Karena itulah, qurban jangan dipahami sekadar agenda tahunan yang bersifat seremonial. Lebih dari itu, qurban adalah pendidikan sosial, pendidikan ekonomi, sekaligus pendidikan kemanusiaan.
Islam mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Maka orang yang berqurban sejatinya tidak hanya sedang mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga sedang menebarkan manfaat sosial dan menghidupkan ekonomi masyarakat.
Spirit qurban harus melahirkan umat yang kuat secara spiritual, kokoh secara sosial, dan mandiri secara ekonomi. Sebab Islam tidak menghendaki umatnya lemah. Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan kesejahteraan, antara ketakwaan dan kepedulian sosial.
Idul Adha mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya ketika mampu memiliki, tetapi ketika mampu berbagi dan memberdayakan sesama.
(H. Aswandi. Penulis; Ketua Umum DPP ASPEKNAS dan Sekjen DPP GATAKI).