Hal tersebut dibuktikan dengan penandatanganan kontrak politik oleh Abdul Wahid dari masyarakat bukit Kerikil.
Menurut Husein, Desa Bukit Kerikil masih menghadapi banyak kekurangan, salah satunya adalah kondisi jalan poros yang sudah 28 tahun tidak ada perbaikan. Jalan yang rusak parah tersebut kerap memakan korban jiwa akibat kecelakaan.
Meski cuaca sepanjang hari diguyur hujan, suasana berubah cerah saat Wahid tiba, seolah alam mendukung kedatangannya. "Desa ini dibangun oleh orang-orang yang tidak kaya, tetapi berjuang dengan darah dan keringat mereka," kata Husein menambahkan.
Wahid, yang turut merasakan buruknya kondisi jalan tersebut, mengungkapkan pengalamannya. "Saya melalui jalan itu dengan kendaraan darat, rasanya sangat tidak nyaman. Pinggang saya terasa sangat sakit karena terombang-ambing. Ini bukti bahwa infrastruktur di sini sangat memprihatinkan, Bukit Krikil menjadi prioritas saya, insyaallah" ujar Wahid.
Wahid berjanji untuk menindaklanjuti masalah ini dengan menjadikan perbaikan infrastruktur, termasuk di Bukit Krikil. Hal tersebut salah satu program prioritasnya. "Saya maju menjadi calon gubernur karena ingin menuntaskan masalah yang dihadapi masyarakat. Jika terpilih ada tokoh-tokoh seperti UAS yang akan selalu mengingatkan saya untuk tetap amanah," tegasnya.
Mengenai sumber dana untuk memperbaiki infrastruktur, Wahid menegaskan bahwa cita-cita dan programnya bukan sekadar omong kosong, melainkan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. "Soal dana, itu ada. Program saya ini bukan hal yang mengada-ada, tetapi memang dibutuhkan oleh rakyat," pungkasnya.
Wahid menutup orasinya dengan sebuah pantun, "Sungguh manis si anak kecil, anak kecil berjalan ke bukit batu. Sungguh kami senang ke Bukit Krikil, apalagi Bapak-Ibu cucuk nomor satu".***
Hal tersebut dibuktikan dengan penandatanganan kontrak politik oleh Abdul Wahid dari masyarakat bukit Kerikil.
Menurut Husein, Desa Bukit Kerikil masih menghadapi banyak kekurangan, salah satunya adalah kondisi jalan poros yang sudah 28 tahun tidak ada perbaikan. Jalan yang rusak parah tersebut kerap memakan korban jiwa akibat kecelakaan.
Meski cuaca sepanjang hari diguyur hujan, suasana berubah cerah saat Wahid tiba, seolah alam mendukung kedatangannya. "Desa ini dibangun oleh orang-orang yang tidak kaya, tetapi berjuang dengan darah dan keringat mereka," kata Husein menambahkan.
Wahid, yang turut merasakan buruknya kondisi jalan tersebut, mengungkapkan pengalamannya. "Saya melalui jalan itu dengan kendaraan darat, rasanya sangat tidak nyaman. Pinggang saya terasa sangat sakit karena terombang-ambing. Ini bukti bahwa infrastruktur di sini sangat memprihatinkan, Bukit Krikil menjadi prioritas saya, insyaallah" ujar Wahid.
Wahid berjanji untuk menindaklanjuti masalah ini dengan menjadikan perbaikan infrastruktur, termasuk di Bukit Krikil. Hal tersebut salah satu program prioritasnya. "Saya maju menjadi calon gubernur karena ingin menuntaskan masalah yang dihadapi masyarakat. Jika terpilih ada tokoh-tokoh seperti UAS yang akan selalu mengingatkan saya untuk tetap amanah," tegasnya.
Mengenai sumber dana untuk memperbaiki infrastruktur, Wahid menegaskan bahwa cita-cita dan programnya bukan sekadar omong kosong, melainkan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. "Soal dana, itu ada. Program saya ini bukan hal yang mengada-ada, tetapi memang dibutuhkan oleh rakyat," pungkasnya.
Wahid menutup orasinya dengan sebuah pantun, "Sungguh manis si anak kecil, anak kecil berjalan ke bukit batu. Sungguh kami senang ke Bukit Krikil, apalagi Bapak-Ibu cucuk nomor satu".***