69 Tahun Riau: Dulu Diperjuangkan dengan Marwah, Kini Diuji dengan Amanah

I

Isman

Minggu, 09 Agustus 2026 | 12:49 WIB

69 Tahun Riau: Dulu Diperjuangkan dengan Marwah, Kini Diuji dengan Amanah

Oleh : Mardianto Manan 

SELAMAT  Hari Jadi Provinsi Riau ke-69 — 9 Agustus 2026

HARI ini, 9 Agustus 2026, Provinsi Riau genap berusia 69 tahun. Enam puluh sembilan tahun bukanlah usia yang pendek.

Ia adalah rentang waktu yang cukup panjang untuk bertanya: sudah sejauh mana cita-cita para pendiri Riau kita tunaikan?

Pertanyaan itu terasa semakin penting ketika kita membuka kembali lembaran sejarah perjuangan pembentukan Provinsi Riau.

Dalam sebuah catatan sejarah yang saya baca dengan Judul "Berjuang Tanpa Pamrih" Penerbit FKPMR 2003, tertulis dengan jelas bagaimana para tokoh Riau Buya Ma'arifat Mardjani Tokoh Republik Indonesia berasal dari Kuantan Singingi Riau, dan beberapa Tokoh lainnya berjuang untuk satu tujuan berdirinya Provinsi Riau dan memisahkan diri dengan Provinsi Sumatera Tengah.

Pada masa itu memperjuangkan pembentukan provinsi bukan dengan jalan kekerasan, bukan pula dengan meminta belas kasihan, tetapi melalui resolusi, diplomasi, argumentasi hukum dan perjuangan politik.

Mereka datang ke Jakarta membawa suara rakyat.
Mereka berhadapan dengan pemerintah pusat.
Mereka menjelaskan bahwa Riau mempunyai alasan historis, geografis, sosial, ekonomi dan budaya untuk berdiri sebagai daerah otonom.

Yang paling menarik adalah satu pesan yang terasa masih sangat relevan hingga hari ini:
"Riau tidak boleh hanya menjadi daerah penghasil kekayaan, tetapi harus menjadi daerah yang masyarakatnya menikmati kekayaan itu".
Dulu para pendahulu kita berjuang agar Riau memiliki rumah sendiri.
Hari ini rumah itu sudah berdiri.

Tetapi pertanyaannya:
Apakah rumah itu sudah benar-benar nyaman bagi seluruh rakyatnya?

Riau Kaya, Tetapi Mengapa Rakyat Masih Harus Berjuang?
Riau dikenal sebagai daerah kaya.
Minyak dan gas bumi, perkebunan kelapa sawit, kehutanan, industri, perkebunan rakyat, letaknya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka—semuanya adalah modal ekonomi yang luar biasa.
Bahkan ekonomi Riau pada triwulan I 2026 masih tumbuh 4,89 persen secara tahunan, menurut Bank Indonesia. 

Tetapi angka pertumbuhan ekonomi tidak boleh membuat kita terlena.
Sebab pembangunan bukan hanya soal berapa persen ekonomi tumbuh, melainkan juga siapa yang menikmati pertumbuhan itu.
Di situlah persoalannya.

Jika sumber daya alam terus dieksploitasi, tetapi sebagian masyarakat masih menghadapi persoalan pekerjaan, pendapatan, biaya hidup, infrastruktur dan pelayanan publik, maka kita harus berani bertanya:
Pertumbuhan untuk siapa?

Riau tidak boleh hanya menjadi gudang bahan mentah bagi perekonomian nasional.

Riau harus naik kelas.
Dari daerah penghasil minyak menjadi daerah pengolah energi.
Dari daerah penghasil sawit menjadi pusat industri hilir.
Dari daerah penghasil kayu menjadi pusat ekonomi hijau.
Dari daerah yang menjual sumber daya alam menjadi daerah yang menjual nilai tambah, teknologi dan pengetahuan.

Selamat Hari Jadi Provinsi Riau ke-69
9 Agustus 1957 – 9 Agustus 2026
Bersatu dalam Keberagaman, Maju dalam Pembangunan.

Tetapi izinkan saya menambahkan satu kalimat:
“Jangan hanya maju membangun Riau. Majulah dengan menjaga marwah, keadilan, hukum, budaya dan alam Riau.”
Sebab Riau bukan sekadar wilayah di peta.
Riau adalah amanah sejarah.
Dan amanah itu hari ini berada di tangan kita semua.
Selamat Hari Jadi Provinsi Riau ke-69.

Mari kita jaga Riau, bukan sekadar untuk hari ini, tetapi untuk generasi yang belum lahir.

(Mardianto Manan. Penulis; Anggota Majelis Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau/FKPMR)