Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H
ADA pepatah Tiongkok yang sederhana, tetapi sarat hikmah: "Seberapa banyak Anda punya kemenyan, orang lain tak akan tahu kalau tak Anda bakar." Pepatah ini sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang kemenyan, melainkan tentang kehidupan. Kemenyan baru mengeluarkan aroma ketika dibakar. Demikian pula ilmu, kepemimpinan, integritas, dan keimanan; semuanya baru menghadirkan manfaat ketika diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dalam dunia modern, pepatah ini sejalan dengan ungkapan populer, Actions speak louder than words. Tindakan selalu berbicara lebih keras daripada kata-kata. Sebab ucapan dapat disusun dengan indah, tetapi tindakan adalah cermin karakter yang sesungguhnya.
Ilmu psikologi sosial menjelaskan bahwa manusia membangun kepercayaan (trust) bukan terutama dari apa yang didengar, melainkan dari konsistensi perilaku yang diamati. Karena itu, kredibilitas tidak lahir dari retorika, melainkan dari rekam jejak. Orang mungkin terpesona oleh pidato, tetapi mereka memutuskan untuk percaya setelah melihat bukti.
Fenomena ini tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari. Seorang pemimpin dapat menyampaikan seratus pidato tentang kejujuran, tetapi satu tindakan yang bertentangan akan menghapus seluruh kepercayaan publik. Sebaliknya, seseorang yang sedikit berbicara namun konsisten bekerja justru lebih dihormati.
Islam telah mengajarkan prinsip tersebut jauh sebelum teori komunikasi modern berkembang. Allah SWT berfirman:"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (Q.S. Ash-Shaff: 2–3).
Ayat ini menunjukkan bahwa keselarasan antara ucapan dan perbuatan merupakan fondasi moral seorang mukmin. Integritas bukan sekadar kemampuan berbicara benar, melainkan keberanian menjalankan kebenaran.
Hakikat ilmu bukanlah banyaknya hafalan atau luasnya pengetahuan, melainkan pengaruh ilmu itu terhadap amal seseorang. Ilmu yang tidak melahirkan amal justru dapat menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya. Dengan kata lain, ukuran keberhasilan bukan terletak pada apa yang diketahui, tetapi pada apa yang dilakukan.
Pandangan ini sangat relevan dengan tantangan zaman sekarang. Kita hidup pada era ketika kata-kata diproduksi lebih cepat daripada tindakan. Media sosial dipenuhi motivasi, nasihat, slogan, bahkan ceramah. Namun, dunia justru semakin merindukan keteladanan. Masyarakat telah mengalami apa yang disebut sebagai trust deficit, yaitu menurunnya kepercayaan kepada figur publik akibat ketidaksesuaian antara janji dan kenyataan.
Di sinilah pepatah tentang kemenyan menemukan maknanya. Potensi sebesar apa pun tidak akan dikenal bila hanya disimpan. Gelar akademik tidak akan bermakna tanpa karya. Jabatan tidak akan dihormati tanpa pengabdian. Kekayaan tidak akan bernilai tanpa kepedulian. Bahkan keimanan pun tidak akan memancarkan cahaya tanpa amal saleh.
Rasulullah SAW adalah teladan paling nyata. Sebelum beliau dikenal sebagai penyampai wahyu, masyarakat terlebih dahulu mengenalnya sebagai pribadi yang jujur dan dapat dipercaya. Gelar Al-Amin lahir bukan karena kefasihan berbicara, melainkan karena konsistensi akhlaknya. Dakwah beliau berhasil karena perilaku beliau menjadi bukti dari setiap ajaran yang disampaikan.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, pesan ini menjadi semakin penting. Publik tidak lagi membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berjanji, melainkan pemimpin yang bekerja. Dunia pendidikan tidak cukup melahirkan orang-orang pintar, tetapi juga pribadi yang berintegritas. Organisasi tidak cukup memiliki visi yang megah, tetapi harus mampu menerjemahkannya menjadi program yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pepatah Tiongkok itu akhirnya mengajarkan sebuah filosofi universal yaitu harum tidak berasal dari kepemilikan, melainkan dari pengorbanan. Kemenyan harus dibakar agar aromanya tercium. Demikian pula manusia harus berani mengubah ilmu menjadi amal, gagasan menjadi karya, dan iman menjadi keteladanan.
Sejarah tidak mencatat siapa yang paling banyak berbicara. Sejarah lebih menghormati mereka yang diam-diam bekerja, menebarkan manfaat, dan meninggalkan jejak kebaikan. Sebab waktu akan melupakan pidato-pidato yang kosong, tetapi tidak akan pernah melupakan amal yang nyata.
Karena itu, marilah kita membakar "kemenyan" yang kita miliki: ilmu dengan mengajarkannya, harta dengan berbagi, jabatan dengan melayani, dan keimanan dengan menghadirkan akhlak yang mulia. Sebab benar adanya, actions speak louder than words—tindakan akan selalu lebih nyaring daripada kata-kata, dan amal akan selalu lebih harum daripada sekadar wacana.
(Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Ketua Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PERSIS) Kota Pekanbaru Masa Jihad 2026-2031)