Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA
IRAN dan Rusia memiliki sejarah panjang dalam kerjasama melawan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan juga kerjasama dengan China. Tentu Iran yang selama ini dikatakan sebagai Pro Palestina dan Lebanon tentu menjadi harapan untuk menghadapi Israel yang selama ini didukung dan dilindungi oleh Amerika Serikat sebagai sekutu terdekatnya di Timur Tengah. Namun di sebalik dukungan Amerika Serikat tersebut ke Israel, Iran sebagai kekuatan militer di kawasan Timur Tengah juga telah menjalin kerjasama militer dengan Rusia dan China sebagai mitra untuk menghadapi Israel yang didukung oleh Amerika Serikat.
Baru baru ini latihan bersama antara Iran, Rusia dan China telah menimbulkan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Latihan militer antara Iran dengan dua negara sekutu Iran, Rusia dan China tersebut telah meningkatkan ketegangan dengan Amerika Serikat dengan hadirnya armada laut Rusia dan China. Latihan militer tersebut dilakukan di Laut Oman dan perairan Samudera Hindia. Angkatan Bersenjata Iran, Angkatan Laut Garda Revolusi dan militer dari Rusia dan China. Dilaporkan oleh media Iran, Nour News melaporkan bahwa latihan gabungan dengan Rusia dan China akan berlangsung di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudera Hindia. Selat Hormuz dikenal sebagai jalur internasional dalam perdagangan internasional.
Latihan militer yang melibatkan tiga negara trilateral yaitu Iran, Rusia dan China telah menimbulkan kekhawatiran akan pecah perang antara Iran dan Amerika Serikat yang tentu saja akan berdampak terhadap stabilitas regional di timur tengah. Iran tentu akan mempertahankan kedaulatannya oleh siapa saja yang akan menyerang Negara tersebut. Sejarah mencatat hubungan dan kerjasama militer antara Rusia dan Iran telah terjalin sejak Uni Sovyet masih berdiri. Seiring dengan runtuhnya Uni Sovyet, praktis kekuatan militer digantikan oleh Rusia sebagai penerus dari Uni Sovyet dan menjadi kekuatan penyeimbang terhadap kekuatan militer Amerika Serikat. Iran dikenal sebagai sekutu terdekat Rusia dan China di kawasan Timur Tengah.
Iran menjadi satu satunya negara di Timur Tengah yang dikatakan mampu untuk berhadapan dengan Israel dan Amerika Serikat. Moskow dan Teheran telah bersepakat melakukan kerjasama dalam membangun persenjataan bagi Iran seperti pabrik drone di Rusia yang dapat memproduksi ribuan drone per tahun. Rata rata Drone yang digunakan oleh Iran untuk menyerang Israel merupakan produksi dari Rusia sebagai mitra aliansi militer Rusia dan Iran. Selain drone, Rusia dan Iran juga bekerjasama dalam pembuatan jet tempur militer canggih, helikopter, dan sistem pertahanan udara.
Tahun 2015, Rusia dan Iran telah menandatangani perjanjian kerja sama militer yang tentu saja akan memperkuat pertahanan dan keamanan yang utama menghadapi kekuatan Israel yang juga memiliki senjata nukler. Dengan perjanjian aliansi militer antara Rusia dan Iran tentu saja ini sebagai upaya Rusia untuk memiliki pengaruh di kawasan Timur Tengah. Rusia dan China menjadi kekuatan internasional dalam menghadapi dominasi Amerika Serikat dan sekutunya khususnya Israel di kawasan Timur Tengah.
Pada 14 April 2025 dini hari militer Iran menyerang Israel dengan lebih kurang 300 Drone tanpa awak, rudal dan senjata artileri berupa peluru kendali yang sebagiannya merupakan bantuan dari Rusia dalam kerjasama militer yang sudah terjalin dalam perjanjian militer ke dua negara yaitu Rusia dan Iran. Dalam perang 12 hari tersebut, konflik Iran dan Israel, telah mengubah posisi keamanan dan geo-strategis Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Praktis tidak ada negara negara di Timur Tengah yang berani menyerang Israel secara langsung kecuali Iran. Serangan Iran ke Israel merupakan serangan balasan sebagai upaya membela diri Iran yang sebelumnya, Israel menyerang terlebih dahulu ke konsulat Iran di Damaskus, Suriah. Serangan balasan Iran ke Israel membuka kemungkinan akan terjadinya konflik terbuka antara negara-negara Arab dan Israel dan dikhawatirkan akan menimbulkan ketidakstabilan di kawasan regional Timur Tengah. ***
(Hasrul Sani Siregar, MA. Penulis; Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM, Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau)