Ayiar Nan Tagonang: Ketika Jalan Protokol Berubah Fungsi Jadi Parit Raksasa

I

Isman

Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:15 WIB

Ayiar Nan Tagonang: Ketika Jalan Protokol Berubah Fungsi Jadi Parit Raksasa

​Oleh: Mardianto Manan

PAGI ini, Pekanbaru kembali "ber-estetika" dengan genangan. Warga sibuk menjemur kasur, sementara para netizen sibuk mengunggah video "sungai dadakan". Namun, ada satu pemandangan yang secara nalar teknis sangat mengusik jiwa saya sebagai orang PWK (Perencanaan Wilayah dan Kota). Mari kita tengok Jalan Sudirman ujung, area simpang dekat bandara hingga ke arah bawah.

​Kejadiannya unik tapi tragis: Hujan lebat turun, air di parit tampak "malas-malasan" dan volumenya sedikit, sementara di permukaan aspal jalan, air mengalir deras layaknya jeram sungai yang sedang mencari mangsa. Dalam logika kampung kita, ini bukan sekadar banjir, tapi “Ayiar Nan Tagonang”—air yang bingung, linglung, tak tahu lagi ke mana jalan pulang menuju sungai.

​Anatomi "Air Sesat" di Jalan Protokol
Secara ilmiah, fenomena air yang lebih suka "balapan" di atas aspal daripada masuk ke parit ini adalah bukti nyata terjadinya Inversion of Level atau sungsangnya elevasi. Di Sudirman ujung, kita melihat kegagalan fatal pada sistem drainase permukaan.

​Pertama, masalah Inlet yang Terisolasi. Parit kita banyak yang sudah jadi "monumen beton" karena tertutup ruko atau trotoar yang tidak memiliki lubang kontrol (inlet) yang memadai. Data lapangan menunjukkan banyak titik drainase di Pekanbaru tertutup beton bangunan permanen. Air yang turun di aspal mau masuk ke parit tapi "pintu"-nya dikunci rapat oleh pembangunan yang egois. Akhirnya? Ya, air memilih jalur tol di atas aspal.

​Kedua, fenomena Overlay Tanpa Koreksi. Setiap tahun jalan kita dilapis aspal baru (overlay) agar mulus, tapi elevasi parit tetap di situ-situ saja. Akibatnya, permukaan jalan terus meninggi melampaui bibir parit. Secara gravitasi, air akan mencari tempat terendah. Jika aspal lebih rendah dari lubang masuk drainase karena sedimentasi atau kesalahan elevasi, maka aspal itulah yang secara otomatis menjadi parit utama.
​Data yang Berbicara

Pemerintah Kota Pekanbaru memang sudah punya kajian tentang Pengendalian Banjir di Kota Pekanbaru, dengan identifikasi sekitar 371 titik masalah. Namun, pelaksanaannya tampak masih meraba-raba, sepanjang yang saya ketahui tak satupun proyek drainase betul betul mempedomani kajian tersebut. APBD 2026 konon mengalokasikan sekitar Rp100 miliar untuk drainase, tapi kalau hanya sekadar "cuci parit" tanpa memperbaiki elevasi dan memutus kemacetan air akibat kabel utilitas di bawah sana, ya sama saja bohong.

​Di Sudirman ujung, elevasi adalah kunci. Kawasan ini merupakan jalur vital, namun seringkali mengalami backwater (aliran balik). Ketika parit utama sudah tersumbat sedimentasi dan "kolesterol" sampah, air yang seharusnya masuk justru tertolak keluar. Inilah yang menyebabkan air mengalir kencang di permukaan jalan sementara paritnya terlihat sepi. Paritnya bukan kosong karena airnya masuk, tapi paritnya "kenyang" duluan oleh sedimen sehingga tak sanggup lagi menelan air hujan.

​Logika Sederhana untuk Pengambil Kebijakan
Sebagai dosen, saya sering katakan: Merencanakan kota itu jangan pakai perasaan, tapi pakai ukuran. Jangan bangga dengan jalan yang hitam mulus kalau setiap hujan turun ia berubah fungsi jadi waduk.
​Kita butuh konsistensi menjalankan Masterplan walaupun master plan drainase sampai saat ini belum ada. Jangan tiap ganti pimpinan, ganti pula teorinya. Kita membutuhkan sekarang adalah audit elevasi total di sepanjang Jalan Sudirman. Bongkar ruko-ruko yang menutup drainase tanpa izin, dan pastikan setiap meter jalan punya tali air yang terkoneksi langsung ke sistem induk.

​Jangan biarkan rakyat kita terus-menerus melihat drama "ayiar nan tagonang" ini. Air itu makhluk yang jujur; kalau jalannya kita tutup, dia akan mencari jalan sendiri, bahkan kalau harus lewat ruang tamu rumah kita atau di atas aspal mahal yang kita bangun.
​Pekanbaru butuh solusi teknis yang berani, bukan sekadar solusi seremonial gotong royong setahun sekali. Kalau tidak, siap-siap saja Jalan Sudirman berganti nama menjadi "Sungai Sudirman" setiap kali langit mendung menyapa.

​Salam perencanaan, salam kritis!
​Tulisan ini adalah bentuk keprihatinan akademis atas kondisi drainase kota yang kian memprihatinkan.

(Mardianto MananDosen Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Islam Riau)