Karya: Mardianto Manan
HARI ini usiaku bertambah lagi,
Lima puluh tujuh tahun sudah perjalanan ini kulewati.
Rambut mungkin tak lagi sehitam dahulu,
Langkah mungkin tak lagi sekuat masa muda,
Dan wajah mulai menyimpan garis-garis cerita
Tentang perjuangan, air mata, kehilangan,
Juga kebahagiaan yang tak selalu bisa diceritakan.
Aku pernah menjadi seseorang
Yang hanya punya mimpi dan harapan.
Pernah tidur beralaskan lantai,
Menatap langit-langit rumah dengan sejuta pikiran,
Menghitung hari, menakar rezeki,
Dan bertanya dalam diam,
Sampai kapan perjalanan hidup akan seperti ini?
Namun waktu mengajarkanku satu hal:
Bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai,
Tetapi siapa yang tetap berjalan bersama kita
Ketika jalan terasa berat dan dunia seolah tak berpihak.
Dua puluh enam tahun menjalani rumah tangga,
Bukan waktu yang sebentar untuk sebuah kesetiaan.
Ada tawa yang pernah kita bagi,
Ada tangis yang diam-diam kita sembunyikan,
Ada pertengkaran yang akhirnya menjadi pelajaran,
Dan ada doa-doa panjang
Yang mungkin hanya Tuhan dan kita yang tahu.
Untuk istriku tercinta,
Engkaulah teman perjalanan yang sesungguhnya.
Kau mengenalku bukan hanya ketika aku berhasil,
Tetapi juga ketika aku belum menjadi siapa-siapa.
Kau menyaksikan hari-hari sulitku,
Menemani mimpi yang belum tentu menjadi nyata.
Jika hari ini kita telah memiliki rumah istimewa bagi kita,
Ketahuilah, yang paling istimewa bukanlah bangunannya,
Tetapi perempuan yang ada di dalamnya,
Yang selama ini menjadi bagian dari setiap perjuanganku.
Untuk Dian, Dilla, dan Andi, anak-anakku tersayang,
Kalian adalah tiga alasan
Mengapa ayah tidak boleh menyerah.
Dian, anak perempuan pertamaku,
Dilla, putri keduaku yang kusayangi,
Dan Andi, anak laki-lakiku yang terakhir,
Kalian adalah warna dalam perjalanan hidup ayah.
Mungkin ayah tidak selalu sempurna,
Tidak selalu mampu memberikan semua yang kalian inginkan,
Bahkan mungkin ada keinginan kalian
Yang dahulu belum sanggup ayah penuhi.
Tetapi percayalah,
Dalam setiap langkah dan doa ayah,
Nama kalian selalu ikut serta.
Kalian bersama ibunda adalah sumber inspirasiku,
Setelah ayah dan ibu yang lebih dahulu melahirkan
Dan mengajarkanku arti kehidupan.
Dari orang tua, aku belajar tentang pengorbanan.
Dari istri dan anak-anak, aku belajar
Bahwa cinta adalah alasan untuk terus bertahan.
Hari ini aku berdiri di rumah kita,
Rumah yang dahulu hanya menjadi angan-angan.
Aku teringat masa ketika tidur di lantai
Tanpa banyak yang bisa dibanggakan.
Kini, ketika Allah memberikan tempat berteduh
Yang terasa begitu istimewa bagi keluarga kita,
Aku justru ingin menangis dalam syukur.
Bukan karena aku telah menjadi kaya,
Bukan pula karena semua keinginan telah terpenuhi.
Tetapi karena aku masih diberi kesempatan
Melihat istri dan anak-anakku tersenyum,
Duduk bersama dalam satu rumah,
Menyebut nama Tuhan dalam setiap doa.
Ya Allah,
Jika hari ini usiaku telah mencapai lima puluh tujuh,
Jangan biarkan hatiku kehilangan rasa syukur.
Masukkan bapakku ke surga ya Allah
Panjangkanlah umur omakku nan tiada henti memberi kasih
Sehatkanlah istri yang kucintai,
Jagalah Dian, Dilla, dan Andi,
Bimbinglah langkah mereka menuju masa depan.
Jangan biarkan rumah ini kehilangan kehangatan,
Dan jangan biarkan cinta kami kalah oleh waktu.
Untuk diriku sendiri,
Selamat ulang tahun.
Tak perlu lagi terlalu sibuk membuktikan sesuatu kepada dunia.
Sebab ada empat hati yang begitu berharga
Yang membuat hidup ini lebih dari cukup.
Jika kelak rambut semakin memutih,
Jika langkah semakin perlahan,
Dan jika suatu hari kita hanya bisa mengenang
Apa yang pernah kita perjuangkan,
Aku ingin tetap duduk bersama kalian,
Menikmati secangkir kopi,
Mendengar cerita sederhana,
Sambil diam-diam mengucap syukur kepada Tuhan.
Terima kasih, istriku.
Terima kasih, Dian, Dilla, dan Andi.
Aku sayang kalian semua.
Tanpa kalian, mungkin aku tetap hidup,
Tetapi hidupku akan terasa hampa.
Sebab rumah bukan sekadar tempat pulang,
Rumah adalah kalian,
Tempat cinta menemukan alamatnya,
Tempat lelah menemukan istirahatnya,
Dan tempat seorang lelaki tua kelak
Ingin menghabiskan sisa waktunya.
Hari ini, di usia lima puluh tujuh,
Aku tak meminta hidup yang lebih mewah.
Aku hanya ingin satu hal:
Semoga Allah mengizinkan kita
Lebih lama bersama,
Lebih banyak tertawa,
Lebih sedikit air mata,
Dan tak pernah kehabisan alasan
Untuk saling mencintai.
Karena pada akhirnya,
Bukan berapa banyak yang berhasil kukumpulkan,
Tetapi siapa saja yang masih ada di sampingku.
Dan hari ini, aku tahu jawabannya.
KALIANLAH HARTA TERINDAH DALAM HIDUPKU.
- Mardianto Manan -
3 November 2026 | Usia 57 Tahun