Filipina dan Kekuatan ASEAN

A

administrator

Senin, 03 November 2025 | 00:00 WIB

Filipina dan Kekuatan ASEAN

Oleh Hasrul Sani Siregar, MA

ESTAFET kepemimpinan ASEAN akan segera berganti dari Malaysia ke Filipina. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-47 di Kualalumpur Malaysia telah dilaksanakan penyerahan estafet kepemimpinan Ketua ASEAN yang mana, Filipina akan mengetuai ASEAN di tahun 2026 yang mestinya Myanmar sebagai Ketua ASEAN tahun 2026. Namun, Myanmar dianggap tidak siap untuk mengetuai ASEAN tahun 2026 mengingat konflik yang berkepanjangan di negara tersebut. Para anggota ASEAN termasuk Timor Leste yang baru bergabung dalam ASEAN pada 26 Oktober 2025 telah menyepakati tahun 2026, Filipina menjadi Ketua ASEAN untuk 1 tahun ke depan. Tantangan yang akan di hadapi oleh Filipina sebagai ketua ASEAN akan semakin berat dan kompleks mengingat konflik di internal ASEAN sendiri dan juga melibatkan negara di luar ASEAN.

Konflik internal di Myanmar, konflik di Laut China Selatan (LCS) dan masalah etnis Rohingya di Myanmar akan menjadi tugas Filipina sebagai ketua ASEAN dalam menyelesaikan masalah tersebut. Konflik Thailand dan Kamboja sudah dapat diselesaikan dengan dokomen perjanjian damai yang sudah ditandatangani dalam KTT ASEAN tahun 2025 di Kualalumpur, Malaysia. Negara-negara yang tergabung dalam komunitas ASEAN seperti Malaysia, Vietnam, Philipina dan Brunai Darussalam masih memiliki sengketa dengan Tiongkok dalam perebutan wilayah di sepanjang perairan Laut China Selatan (LCS). Sebagai Ketua ASEAN nantinya, Filipina akan berupaya untuk meneruskan tugas-tugas dan kepemimpinan Malaysia sebagai Ketua ASEAN tahun 2025. 

Filipina salah satu negara pendiri ASEAN yang tentu memiliki pengalaman dalam penyelesaian konflik baik di negara sendiri dengan kelompok Moro di Mindanao, Filipina Selatan maupun dalam internal ASEAN sendiri. Pada 8 Agustus 1967 ASEAN berdiri yang mana Filipina sebagai salah negara pendiri bersama sama dengan Indonesia, Thailand, Singapura dan Malaysia. ASEAN didirikan dengan beberapa tujuan diantaranya untuk menyelesaikan konflik yang terjadi khususnya di kawasan Asia Tenggara. Sebagai Ketua ASEAN 2026 nantinya, Filipina dituntut untuk secara terus menerus mengupayakan tindakan nyata yang secara bersama-sama berupaya membangun kepercayaan, suasana damai, menciptakan kestabilan di kawasan ASEAN serta mendorong kerjasama yang bermanfaat bagi seluruh pihak yang berkepentingan khususnya bagi sesama negara-negara anggota ASEAN lainnya dan komunitas internasional sebagai mitra ASEAN seperti dalam KTT East Asian Summit yang melibatkan Jepang, Korea Selatan dan China (ASEAN + 3).

ASEAN sebagai organisasi regional di kawasan Asia Tenggara yang Filipina akan menjadi ketua ASEAN memiliki kepentingan menjaga kawasan tersebut sebagai kawasan damai dan keamanan regional. Oleh sebab itu, ASEAN akan bermitra dengan negara-negara lainnya. Dalam Forum Regional ASEAN, selain negara-negara yang tergabung dalam ASEAN, juga melibatkan Mitra Wicara ASEAN seperti Rusia, Amerika Serikat, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang dan Uni Eropa. Konflik di Laut China Selatan yang melibatkan negara-negara anggota ASEAN dengan Tiongkok tentunya menjadikan Forum Regional ASEAN sangat penting dalam upaya menyelesaikannya melalui meja perundingan.

ASEAN Regional Forum (ARF) merupakan suatu forum yang dibentuk oleh negara-negara anggota ASEAN pada 25 Juli 1994 di Bangkok, Thailand sebagai suatu wahana bagi dialog dan konsultasi mengenai hal-hal yang terkait dengan politik dan keamanan di kawasan khususnya Asia Tenggara dan Asia Pasifik serta membahas dan menyamakan pandangan antara negara-negara peserta forum regional ASEAN sebagai upaya memperkecil ancaman terhadap stabilitas dan keamanan kawasan. Forum ini merupakan konsep keamanan menyeluruh yang tidak hanya mencakup aspek-aspek militer dan isu keamanan, juga menyangkut aspek politik, ekonomi dan sosial-budaya. Semenjak berdiri pada 25 Juli 1994 hingga saat ini, Forum Regional ASEAN telah mengalami suatu proses pembentukan forum kesepakatan yang salah satunya bertujuan dalam hal pengembangan diplomasi pencegahan, pendekatan untuk pencegahan konflik serta peningkatan keperayaan antar negara yang tergabung dalam forum ARF tersebut. 

Tiongkok yang merasa memiliki kepentingan terhadap isu Laut China Selatan (LCS) akhirnya juga sepakat untuk terus mengadakan dialog dan mencegah konflik terbuka sesama negara yang mengakui sebagian atau seluruhnya. Amerika Serikat yang juga tergabung dalam forum ARF juga merasa berkepentingan dengan menyebut memiliki kepentingan nasional dalam kebebasan navigasi, akses terbuka terhadap kepentingan bersama serta tetap menghormati hukum internasional khususnya di kawasan Laut China Selatan. Pada akhirnya, negara-negara peserta forum ARF sepakat untuk menyerukan agar dilakukan pendekatan multi-lateral terhadap isu-isu yang menyangkut tentang Kepulauan Spratly, Paracel dan Pratas di Gugusan Laut China Selatan yang sebagian atau seluruh bagiannya diklaim (dimiliki) oleh para peserta forum ARF seperti Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina, Cina dan Taiwan.

Sebagai suatu wahana utama dalam mewujudkan tujuan ASEAN yaitu menciptakan stabilitas dan keamanan regional maka forum ARF ini memiliki dua tujuan utama diantaranya; pertama, mengembangkan dialog dan konsultasi konstruktif mengenai isu-isu politik dan keamanan yang menjadi kepentingan dan perhatian bersama negara-negara yang tergabung dalam ARF tersebut. Kedua; memberikan konstribusi positif dalam berbagai upaya untuk mewujudkan dan membangun rasa saling percaya (confidence building), diplomasi pencegahan (preventive diplomacy) dan resolusi konflik (conflict resolution) di Kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Jika kedua tujuan utama forum ARF tersebut dilaksanakan, isu-isu yang menyangkut tentang pengakuan di Kawasan Laut China Selatan dapat diselesaikan dengan cara-cara damai dan penyelesaiannya melalui meja perundingan. Filipina akan mengambil peran tersebut sebagai Ketua ASEAN tahun 2026.***

(Oleh Hasrul Sani Siregar, MA. Penulis; Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM, SelangorMalaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau).