Oleh: Mardianto Manan
PERNAHKAH lidah Anda terkunci oleh sebuah rasa yang sulit dijabarkan dengan rumus teknik atau perencanaan kota paling rumit sekalipun? Bagi kami, orang Pangean di tanah Kuantan, "pengunci" itu bernama Gulai Cangkuak.
Bayangkan, tunas bambu muda yang dicincang halus, diasamkan sekian malam dalam "bocong" atau takar besar hingga mencapai derajat keasaman yang sempurna. Bahkan seorang turis bertanya " dari apa cangkuak dibuat ? Saya jawab dari bambu muda. Wauuu .... bambu muda saja begitu enaknya, apalagi yang tua ya? Katanya serius, saya jawab saja asbun "cubo lah makan dek ang suak, biar bi patah gigi mamak" je saya hahaha.
Lalu, ia (cangkuak) beradu dalam kuali bersama sisik ikan, atau kalau sedang beruntung, bertemu dengan tulang dan tetelan daging sapi—kami menyebutnya jawi—bahkan kerbau.
Masuk ke dalam kuali, ia berjodoh dengan kacang belimbing, kemumu, kerupuk kulit, hingga pisang tua. Mak oi... lemaknya bukan main! Inilah mahakarya dari dapur seorang perempuan hebat yang kami panggil Omak.
Gulai Cangkuak alias Sirobuang ini bukan sekadar urusan perut. Ia adalah magnet. Jutaan orang, baik warga asli maupun perantau, selalu tergoda untuk pulang karenanya. Bahkan kawan-kawan kita dari suku Minang, Batak, hingga Wong Jowo yang bertugas di Pangean—atau mungkin yang "kecantol" dengan ketampanan dan kecantikan orang Pangean—pasti menyerah pada suapan pertama. Lidah mereka terkunci. Rasanya, tak ingin pindah lagi dari bumi Kenagorian Pangean.
Itulah alasan kenapa sesibuk apa pun urusan di kota, saya wajibkan diri ini setidaknya sekali sebulan untuk pulang. Saya bersyukur, Alhamdulillah, Omak kami, Hj. Roslaini, masih bisa kami temui secara kasat mata. Di usianya yang sudah memasuki 86 tahun, tangan beliau masih "ajaib." Masakannya? Tak ada lawan di dunia ini! Kalaupun ada yang mendekati, barulah masakan istri sendiri di rumah.
Kadang saya berpikir, banyak kawan sebaya yang kini hanya bisa mengirim doa ke pusara, tak bisa lagi menikmati indahnya makan bersama Omak di kampung. Maka, bagi Anda yang Omaknya masih ada, ayo balik kampung! Kalau perlu, kita buat "Gerakan Pulang Bersama Menemui Mak."
Jangan takut merepotkan beliau. Ketika kita balik, dialah orang yang paling sibuk di dapur. Apakah beliau capek? Justru itulah rahasia sehatnya. Bagi Omak-Omak kita di kampung, olahraga itu ya bekerja di "palak lakang" (kebun belakang) rumah dan berkutat di dapur.
"Kalau kalian balik, bertambah enak selera makan Omak," begitu katanya suatu ketika. Ternyata, kehadiran anak-anaknya adalah bumbu paling sedap. Tanpa kita, selera makan beliau hilang, cukup dengan sambal geseng, goreng ikan asin sambal balacan, dan pucuk ubi saja.
Maka, selagi raga masih menyatu dengan nyawa, selagi Omak masih bisa menyendokkan gulai ke piring kita, pulanglah. Nikmati suasana rindu itu sambil bersila di depan mak kita yang sederhana. Sebab, semahal apa pun restoran di kota, tak akan pernah bisa menandingi rasa Gulai Cangkuak buatan Omak yang dimasak dengan api kasih sayang. Alhamdulillah terimakasih ya Allah.***
Salam Pulang Kampung!