Oleh: Yanto Budiman Situmeang
Di TENGAH riuh rendah perdebatan tentang masa depan hutan Indonesia, nama Ir. Robert Hendrico, S.H. kembali muncul sebagai sosok yang tak gentar bersuara. Aktivis ’98 yang dulu berdiri di barisan depan perjuangan demokrasi itu kini tetap setia pada jalan yang sama—jalan untuk menghadirkan keadilan, keberpihakan pada rakyat kecil, dan keberanian untuk menyuarakan yang sering kali tak terdengar.
Sebagai Ketua Forum LSM Riau Bersatu, Robert kembali menunjukkan komitmennya melalui Dialog Kebangsaan “Membedah Perkebunan Sawit dalam Kawasan Hutan Ditinjau dari Perpres No. 5 Tahun 2025 dan Keberadaan PT Agrinas.”
Tak ada sponsor besar, tak ada kepentingan gelap. Acara itu berdiri dari keberaniannya sendiri, dibiayai dengan keringat perjuangan—bukan dari cukong, bukan dari perambah, bukan dari siapa pun yang ingin menunggangi agenda kebenaran.
Dalam forum itu, Robert menghadirkan suara-suara penting yang selama ini berada di persimpangan kepentingan agraria, sosial, dan lingkungan.
Mayjen (Purn) Prihadi Agus Rianto, mantan Danrem 031/Wira Bima, memberikan perspektif dari sisi negara dan pengalaman lapangan yang panjang.
Abdul Aziz membawa cerita pilu dari Bentang Alam Tesso Nilo—tentang masyarakat yang jadi korban kebijakan, tentang mereka yang diusir dari tanah yang mereka rawat, tentang luka yang tidak pernah selesai dari operasi penertiban.
Lalu suara Fauzi Kadir menggema keras, menohok logika keadilan yang sering kali timpang. Ia mempertanyakan mengapa perusahaan bisa meraih ruang enclave, sementara masyarakat adat tak diberi kesempatan untuk sekadar diakui.
“Kenapa perusahaan bisa di-enclave, sementara masyarakat adat tidak?” tegasnya.
“UU yang dibuat tak lebih dari hasil pesanan para oligarki.”
Kata-kata itu seperti menyentil nurani banyak orang, mengingatkan bahwa di balik luasnya hamparan sawit dan hutan yang terus menyempit, ada kisah manusia yang sering terpinggirkan oleh regulasi yang dibuat bukan untuk mereka.
Robert: Konsistensi yang Tak Dibeli Waktu
Apa yang dilakukan Robert bukan hal baru. Sejak muda ia percaya bahwa perubahan hanya mungkin lahir dari keberanian berbicara, sekalipun suara itu harus melawan arus besar.
Tahun 2024, ia menghadirkan Rocky Gerung dalam seminar bertajuk “79 Tahun Indonesia Merdeka, Riau Dapat Apa?”—sebuah pertanyaan tajam yang menggugah kesadaran publik. Dan kini, Robert kembali menyalakan ruang diskusi kritis, mendorong publik agar tidak diam melihat ketimpangan yang makin nyata.
Di tengah banyaknya aktivis yang perlahan diam atau memilih jalan aman, Robert tetap berjalan di jalur yang sama:
jalur perjuangan, jalur keberanian, jalur kebenaran.
Untuk Robert, Perjuangan Bukan Agenda—Melainkan Napas
Kisah perjalanan hidupnya mengingatkan kita bahwa perubahan tidak lahir dari meja-meja bisnis atau ruang-ruang berisi kepentingan, tetapi dari keberanian orang-orang yang percaya bahwa negara seharusnya berpihak pada rakyatnya sendiri.
Dialog Kebangsaan yang ia gelar bukan sekadar acara. Ia adalah cermin bahwa di Riau masih ada yang menjaga, masih ada yang melawan, masih ada yang berdiri.
Dan selama sosok seperti Robert Hendrico tetap menyuarakan kebenaran, maka harapan itu tidak akan padam—di Riau, di Indonesia, dan di hati mereka yang percaya bahwa negeri ini masih bisa lebih adil.
(Yanto Budiman Situmeang. Penulis; Wartawan senior/Ketua Pro Jurnalismedia Siber Riau)