PEKANBARU, AmiraRiau.com – Pasca suksesi kepemimpinan dalam Kongres Luar Biasa (KLB) 26 April lalu, Ketua Umum terpilih Ikatan Keluarga Jawa Riau (IKJR), Drs. H. Kampriwoto, langsung tancap gas. Bertempat di Sekretariat IKJR, Marpoyan Damai, Kampriwoto mengumpulkan 36 ketua paguyuban untuk menyusun formasi kepengurusan DPP IKJR masa bakti 2026-2031.
Pertemuan ini sekaligus menjadi ajang pembubaran Panitia KLB yang diketuai oleh Ns. H. Widodo, S.Kep., SH, yang dinilai sukses menyelenggarakan forum tertinggi organisasi dalam waktu singkat.
Dalam arahannya, Kampriwoto menegaskan adanya perubahan fundamental dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) hasil KLB 2026. Kini, keanggotaan IKJR tidak lagi bersifat individu, melainkan berbasis paguyuban.
"IKJR ada karena ada paguyuban-paguyuban yang menjadi soko gurunya. Jika paguyuban tidak ada, maka IKJR lebih baik bubar. Jiwa 'Bonek' saya meronta melihat antusiasme 36 paguyuban yang berkomitmen nyengkuyung (mendukung) kebangkitan organisasi ini," tegas Kampriwoto.
Ketua Tim Revisi AD/ART, DR. Santoso, menjelaskan bahwa perubahan ini bertujuan agar IKJR tidak berebut anggota dengan paguyuban di bawahnya. Sebaliknya, setiap individu potensial yang ingin berkiprah di IKJR wajib mendapatkan mandat dari paguyuban asalnya.
Kepengurusan baru akan mengacu pada konsep Tri Tunggal Eka Bakti, yang menyatukan tiga unsur kekuatan, yaitu Majelis Kasepuhan diisi oleh tokoh sepuh berpengalaman (diketuai H. Suryadi Khusaini, S.Sos., MM), Dewan Pakar bertugas menghasilkan kajian strategis sebagai rekomendasi bagi pemangku kepentingan di Riau dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) sebagai eksekutor program kerja organisasi.
Pertemuan yang dipandu Karsinem Subowo (Ketua Paguyuban Kulonprogo) ini dibanjiri masukan bernas. Dr. Suwarto, tokoh Jawa asal Bengkalis, menekankan agar Dewan Pakar menjadi "otak" organisasi yang manfaatnya dirasakan nyata oleh masyarakat Riau secara luas. Sementara Dr. Kusnadi (IKB Jateng) mengingatkan pentingnya menempatkan figur Majelis Kasepuhan berdasarkan kedalaman pengalaman, bukan sekadar usia.
Pendiri IKJR, Ir. H. Sudirno, MM, menutup dengan pesan penyemangat. "Kerja kita baru dimulai. Para pendiri akan mengawal dari kamar Majelis Kasepuhan agar jalannya organisasi tetap jejeg (tegak) dan lurus sesuai cita-cita luhur tahun 2005," pungkasnya.
Acara penuh kekeluargaan ini diakhiri dengan sesi foto bersama dan ramah tamah menyantap hidangan bakso, simbol kebersamaan masyarakat Jawa yang kental.***
Penulis: M.Wan