Ketika Allah Menegur Hamba-Nya

I

Isman

Jumat, 01 Mei 2026 | 10:32 WIB

Ketika Allah Menegur Hamba-Nya

Oleh: H. Farhan Alfaruq Ajidin, Lc

DALAM sejarah spiritual umat manusia, jarang ada momen yang begitu jernih memperlihatkan relasi antara langit dan bumi selain ketika Tuhan menegur manusia pilihan-Nya sendiri. Peristiwa turunnya Surah ‘Abasa bukan sekadar fragmen sejarah kenabian, melainkan cermin abadi tentang bagaimana manusia—bahkan yang paling mulia sekalipun—tetap berada dalam proses pembelajaran etik di hadapan Tuhan.

Kisah ini sederhana namun mengguncang: seorang nabi sedang berdialog dengan elite sosial demi membuka pintu dakwah yang lebih luas, lalu datang seorang tunanetra, Abdullah bin Umm Maktum, dengan niat tulus mencari kebenaran. Dalam logika sosial biasa, pilihan Nabi untuk memprioritaskan tokoh berpengaruh tampak rasional. Namun dalam logika ilahi, justru di situlah letak koreksi.

Untuk memahami kedalaman pesan Surah ‘Abasa, penting melihat secara singkat dimensi etimologis (asal-usul kata) dan terminologis (makna konseptualnya).

Kata ‘abasa (عَبَسَ) secara etimologis berarti “bermuka masam”—bukan kemarahan terbuka, melainkan ekspresi halus ketidaksenangan. Sementara tawallā (تَوَلَّىٰ) berarti “berpaling”, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara perhatian dan empati. Adapun al-a‘mā (ٱلْأَعْمَىٰ) berarti “yang buta”, namun dalam terminologi Qur’ani sering mengandung makna lebih luas: bisa jadi fisik tidak melihat, tetapi hatinya justru terang.

Istilah yazzakkā mengandung akar makna “bersih dan tumbuh”, yang dalam terminologi merujuk pada proses penyucian diri (tazkiyah). Sedangkan tazkirah berarti “peringatan” atau “pengingat”, menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak memaksa, tetapi menyadarkan.

Dari sini tampak bahwa teguran Allah bukan hanya menyasar tindakan, tetapi juga membenahi cara pandang, orientasi hati, dan struktur kesadaran manusia.

Ayat pertama Surah ‘Abasa dimulai dengan nada yang tegas: “Dia bermuka masam dan berpaling…” Sebuah teguran yang bukan sekadar kritik perilaku, tetapi dekonstruksi terhadap cara pandang manusia yang sering terjebak pada hirarki sosial.

Secara filosofis, peristiwa ini menyingkap ketegangan antara rasionalitas instrumental—yakni memilih yang “strategis” secara sosial—dengan rasionalitas moral-transendental yang menilai manusia berdasarkan ketulusan hati. Dalam perspektif ini, wahyu hadir bukan hanya sebagai petunjuk ibadah, tetapi sebagai korektor terhadap bias kognitif manusia.

Dalam konteks historis, masyarakat Arab pra-Islam sangat menekankan status, garis keturunan, dan kekuatan ekonomi. Surah ‘Abasa datang sebagai revolusi nilai: menggeser ukuran kemuliaan dari status sosial menjadi ketakwaan. Ini sejalan dengan prinsip universal Al-Qur’an bahwa manusia paling mulia adalah yang paling bertakwa.

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa Islam sejak awal telah membangun fondasi egalitarianisme spiritual bahwa akses terhadap kebenaran tidak boleh dimonopoli oleh elite.

Jika ditarik ke realitas modern, pesan Surah ‘Abasa terasa semakin relevan. Masyarakat hari ini masih terjebak dalam berbagai bentuk stratifikasi: ekonomi, pendidikan, jabatan, bahkan popularitas digital.

Kita sering menyaksikan fenomena, yaitu lebih cepat merespons “orang penting”, dan lebih ramah kepada yang “menguntungkan”, serta lebih menghargai penampilan daripada ketulusan.

Surah ini menjadi kritik tajam terhadap bias status (status bias) dalam interaksi sosial. Ia mengajarkan bahwa perhatian seharusnya diberikan kepada mereka yang memiliki kebutuhan eksistensial, bukan sekadar nilai simbolik dalam struktur sosial.

Dari sudut pandang psikologi, peristiwa ini mengungkap kecenderungan alami manusia terhadap halo effect yaitu menilai seseorang dari status atau citra, dan selective attention yang dimaknai sebagai fokus pada yang dianggap “penting” serta social reward orientation yaitu mencari keuntungan sosial.

Teguran ilahi ini adalah latihan reframing mental, yaitu mengubah cara kita memaknai “penting” dan “tidak penting”. Orang yang datang dengan niat belajar dan memperbaiki diri justru memiliki nilai psikologis dan spiritual yang jauh lebih tinggi.

Lebih dari itu, Surah ‘Abasa melatih empati aktif, suatu kemampuan untuk melihat kebutuhan orang lain yang sering tersembunyi di balik keterbatasan fisik atau sosial.

Secara teologis, peristiwa ini menunjukkan bahwa bahkan seorang nabi tidak lepas dari bimbingan dan koreksi. Ini mengandung pesan mendalam bahwa agama bukan sekadar doktrin, tetapi proses pembentukan karakter yang terus-menerus.

Setelah teguran itu, Nabi Muhammad justru memuliakan Abdullah bin Umm Maktum. Ini bukan sekadar respons, tetapi implementasi nyata dari wahyu. Di sinilah terlihat bahwa dalam Islam, teori dan praksis adalah satu kesatuan.

Ayat-ayat selanjutnya dalam Surah ‘Abasa mengajak manusia merenung tentang asal-usulnya yang hina, kehidupannya yang singkat, dan kematiannya yang pasti. Ini adalah refleksi eksistensial bahwa manusia tidak layak sombong karena seluruh eksistensinya bergantung pada Tuhan.

Dalam kerangka ini, sikap meremehkan orang lain bukan hanya kesalahan sosial, tetapi juga kegagalan memahami hakikat diri sendiri.

Surah ‘Abasa bukan hanya pelajaran untuk para dai, tetapi untuk semua manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan untuk fokus pada mereka yang benar-benar ingin belajar, bukan hanya yang “berprestise” dan dalam birokrasi hendaklah melayani masyarakat kecil dengan kesungguhan, bukan hanya pejabat, serta dalam relasi sosial untuk mendengarkan suara yang jarang didengar. Kemudian dalam dakwah bahwa mengukur keberhasilan bukan dari jumlah audiens, tetapi dari ketulusan niat. Lebih jauh, surat ini mengajarkan bahwa ikhlas diuji justru ketika tidak ada keuntungan duniawi.

Teguran Tuhan bukanlah bentuk hukuman, melainkan kasih sayang. Ia hadir untuk meluruskan, bukan menjatuhkan. Jika seorang nabi saja ditegur, maka manusia biasa seharusnya lebih terbuka terhadap kritik dan introspeksi.

Surah ‘Abasa adalah undangan untuk membangun peradaban yang lebih manusiawi, suatu peradaban yang tidak menilai manusia dari statusnya, tetapi dari hatinya; yang tidak mengejar yang tampak besar, tetapi merawat yang sungguh-sungguh mencari kebenaran.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh pencitraan dan hierarki sosial, pesan ini terasa seperti bisikan langit yang lembut namun tegas bahwa yang kecil di mata manusia, bisa jadi besar di hadapan Tuhan.***

Tanjung Balai Karimun, 1 Mei 2026.

(H. Farhan Alfaruq Ajidin, Lc. Penulis; Mahasiswa Program Pascasarjana (S2) Institut Agama Islam Diniyyah Pekanbaru dan Muthawwif Haji dan Umrah).