Oleh: Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
Di dunia burung, ada satu fakta unik yang kerap dijadikan metafora kehidupan: satu-satunya yang berani mematuk burung elang adalah burung gagak. Gagak kecil itu hinggap di punggung elang, mematuk kepala dan sayapnya dengan keras, mencoba mengganggu sang penguasa langit. Namun, elang dengan kemuliaan dan kejernihan instingnya tidak pernah membalas serangan tersebut. Yang dilakukan elang hanya satu: terbang semakin tinggi.
Ia naik ke ketinggian udara yang tidak mampu ditoleransi oleh gagak. Pada batas itu, gagak kehabisan nafas, kehilangan tenaga, dan akhirnya melepas cengkeramannya. Elang tetap melesat gagah, sementara pengganggunya tumbang oleh kelemahannya sendiri.
Metafora ini pernah dijadikan motivasi oleh Merry Riana, dan kini menjadi renungan banyak orang bahwa gangguan sering kali datang justru kepada mereka yang sedang naik derajatnya. Semakin tinggi seseorang terbang—dalam prestasi, karier, dakwah, atau kemuliaan akhlak—semakin banyak “gagak-gagak” yang mencoba menahannya.
Pelajaran pertama adalah ketenangan batin. Elang tidak pernah membuang waktunya untuk menoleh, marah, atau membalas. Ia tidak menurunkan levelnya untuk berdebat dengan makhluk yang memang tidak bisa mencapai ketinggiannya. Ini adalah simbol martabat.
Ibrah atau pelajaran kedua adalah kehidupan modern yang bising menghadirkan banyak gangguan: kritik yang tidak konstruktif, fitnah, cibiran, iri hati, hingga penghakiman terburu-buru. Respons terbaik bukanlah meladeni semuanya, tetapi menaikkan level diri, memperbaiki kualitas hidup, dan fokus pada tujuan.
Adapun ibrah ketiga adalah elang menjadi lambang kebijaksanaan, yaitu semakin tinggi kita melangit, semakin sunyi cemooh di bawah.
Nilai ini sejalan dengan perintah Allah dalam Al-Qur’an:“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang setia.” (QS. Fussilat: 34).
Ayat ini menegaskan bahwa keburukan tidak layak dijawab dengan keburukan. Cara terbaik adalah menaikkan akhlak, memperhalus respon, dan menghindari pertarungan yang tidak bermakna.
Allah juga menegaskan:“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujādalah: 11).
Kenaikan derajat—baik intelektual, spiritual maupun sosial—memang sering memancing iri dan gangguan. Namun gangguan itu justru menjadi indikator bahwa Allah sedang mengangkat kita.
Rasulullah SAW mengajarkan makna kekuatan sejati:"Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan diri saat marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Inilah karakter elang: penguasaan diri, bukan agresi. Dan Nabi SAW juga mengingatkan:“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam dunia yang penuh provokasi, diam yang bermartabat jauh lebih kuat daripada kata-kata yang melukai.
Rasulullah SAW bersabda:"Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.” (HR. Tirmidzi).
Gangguan, fitnah, atau cercaan adalah bagian dari ujian. Ia bukan tanda kehancuran, tetapi indikator bahwa seseorang sedang dipersiapkan untuk terbang lebih tinggi bagai elang yang terus melesat ke angkasa.
Kisah elang dan gagak memberi kita pelajaran penting bahwa gangguan tidak selalu tanda kelemahan, tetapi justru tanda kenaikan. Juga, Tidak semua serangan perlu dibalas; beberapa cukup diabaikan. Selain itu, ketinggian akhlak lebih mulia daripada kemenangan perdebatan. Pelajaran terpenting lainnya adalah Allah meninggikan derajat orang yang sabar dan berpegang pada kebaikan.
Dalam kehidupan ini, jangan turunkan diri hanya untuk meladeni mereka yang mematuk dari belakang. Terbanglah lebih tinggi—secara iman, karakter, dan kualitas amal—hingga hanya mereka yang memiliki kejernihan hati yang mampu menyertaimu.
Pada akhirnya, gagak akan kelelahan oleh amarahnya sendiri, sementara elang tetap menjadi penguasa langit.
(Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Dai, Akademisi, Advokat dan Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan)