RANAH SINGKUANG, AmiraRiau.com – Derasnya arus digitalisasi sektor keuangan kini tidak lagi menjadi monopoli masyarakat perkotaan. Di tingkat perdesaan, penetrasi transaksi nontunai justru melahirkan jagoan-jagoan ekonomi baru. Salah satu bukti nyatanya adalah Yesi, perempuan muda asal Desa Ranah Singkuang yang sukses memosisikan diri sebagai pahlawan inklusi keuangan sekaligus mencetak pendapatan bersih belasan juta rupiah per bulan.
Lewat bendera Agen BRILink, Yesi berhasil memitigasi keterbatasan akses perbankan di desanya menjadi ceruk bisnis yang sangat menjanjikan. Memulai operasional dari nol, kini lini usaha mikro tersebut konsisten menghasilkan omzet Rp10 juta hingga Rp13 juta setiap bulannya.
Langkah awal perjalanan bisnis Yesi dimulai pada akhir tahun 2024. Saat sebagian besar rekan sebayanya masih ragu untuk mengambil risiko finansial, ia jeli melihat tingginya perputaran uang di desanya yang tidak diimbangi oleh kehadiran kantor kas perbankan resmi.
Pada awal 2025, dengan modal awal yang tergolong minim yakni hanya Rp1 juta, Yesi memberanikan diri membuka jasa transfer uang sederhana. Di fase awal ini, ia belum memiliki ruko mandiri. Operasional harian terpaksa menumpang di kediaman abang sepupunya, Afrizal, yang kebetulan menjabat sebagai Sekretaris Desa Ranah Singkuang.
Meski berjalan secara bersahaja, insting bisnisnya terbukti tepat. Pada periode Januari hingga Mei 2025, ia sudah mampu mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp3 juta per bulan dari ceruk transaksi tetangga sekitar.
Perjalanan Yesi menuju tangga kesuksesan tidak melulu berjalan mulus. Dinamika naik-turun lokasi usaha sempat menguji keteguhan mentalnya.
Pada Juni 2025, Yesi memindahkan lapak ke pos masuk Desa Ranah Singkuang (arah Air Tiris). Lokasi strategis ini mengatrol pendapatannya ke angka Rp5 juta–Rp6 juta per bulan. September 2025, lapak tersebut terpaksa dikosongkan karena area tersebut dialokasikan masyarakat setempat untuk kegiatan siskamling desa dan pada Oktober 2025 tanpa patah arang, ia menyewa tempat baru yang lebih representatif seharga Rp500 ribu untuk durasi enam bulan.
Titik balik masif (turning point) bisnis Yesi terjadi pada awal tahun 2026. Guna mengikis ketergantungan transfer berbasis aplikasi ponsel pintar (smartphone), Yesi berinvestasi membeli mesin Mini ATM Bersama senilai Rp2 juta. Agresivitas ini berbuah manis saat dirinya resmi dipinang untuk memegang lisensi kemitraan resmi Agen BRILink di wilayahnya.
"Kunci utama dari bertahannya bisnis ini adalah konsistensi, niat yang kuat, serta restu orang tua. Saya percaya, ketika kita berniat membantu mempermudah urusan transaksi keuangan tetangga dan warga desa, Allah akan membukakan jalan rezeki yang lebih luas," tutur Yesi ramah.
Kini, portofolio layanan usaha Yesi tidak lagi sebatas transfer tunai, melainkan meluas ke penarikan uang, pembayaran listrik, token, BPJS, hingga pengisian saldo dompet digital (e-wallet). Sebuah bukti nyata bagaimana modal Rp1 juta, jika dikelola dengan ketekunan, mampu tumbuh menjadi jangkar ekonomi desa yang kokoh.***
Penulis: Ali Akbar