Melangitkan Doa, Diwujudkan Bumi

I

Isman

Senin, 27 Juli 2026 | 12:57 WIB

Melangitkan Doa, Diwujudkan Bumi

Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.

DI tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat, manusia semakin akrab dengan bahasa harapan. Setiap hari jutaan doa melangit dari bibir orang-orang yang menginginkan kesehatan, rezeki yang lapang, keluarga yang bahagia, pendidikan yang bermutu, bangsa yang damai, hingga kehidupan yang diridhai Allah Swt. Doa menjadi bahasa universal orang beriman; ia melintasi sekat usia, profesi, bahkan perbedaan budaya. Namun, di balik jutaan doa yang terucap itu, tersimpan sebuah pertanyaan yang layak menjadi bahan muhasabah bersama: berapa banyak doa yang benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata di bumi?

Kita sering kali begitu fasih menengadahkan tangan kepada langit, tetapi belum sepenuhnya terampil menggerakkan tangan yang sama untuk bekerja, berkarya, dan mengabdi. Kita memohon keberkahan, tetapi terkadang lalai menjemput sebab-sebab datangnya keberkahan. Kita meminta kemajuan umat, tetapi belum sungguh-sungguh membangun budaya ilmu, disiplin, dan profesionalisme. Kita menginginkan masyarakat yang adil, tetapi masih enggan memulai kejujuran dari diri sendiri.

Di sinilah letak salah satu pelajaran besar Islam. Agama ini tidak pernah mempertentangkan langit dan bumi. Langit adalah tempat doa dipanjatkan, sedangkan bumi adalah tempat doa dibuktikan. Langit adalah ruang penghambaan ('ubudiyyah), sementara bumi adalah ruang pengabdian (khidmah). Semakin tinggi spiritualitas seseorang, seharusnya semakin besar pula manfaat yang ia hadirkan bagi kehidupan.

Islam tidak mengenal kesalehan yang berhenti di atas sajadah. Kesalehan harus menjelma menjadi akhlak, etos kerja, kepedulian sosial, keadilan, dan pembangunan peradaban. Sebab, dalam pandangan Al-Qur'an, manusia diciptakan bukan hanya untuk beribadah dalam makna ritual, tetapi juga untuk memakmurkan bumi sebagai khalifah Allah.

Allah Swt. berfirman:

وَهُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

"Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya." (Q.S. Hud [11]: 61).

Ayat ini menegaskan bahwa memakmurkan bumi merupakan bagian dari misi penciptaan manusia. Karena itu, bekerja, menuntut ilmu, membangun keluarga yang kokoh, menegakkan keadilan, mengembangkan ekonomi yang berkeadilan, menjaga lingkungan, hingga melahirkan inovasi yang bermanfaat merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah. Ibadah dalam Islam tidak hanya berdimensi vertikal, tetapi juga horizontal.

Maka, doa bukanlah akhir dari sebuah ikhtiar, melainkan awal dari sebuah perjalanan. Doa bukan tempat melarikan diri dari kenyataan, tetapi sumber energi untuk menghadapi kenyataan. Doa yang benar akan melahirkan keberanian untuk bertindak, kesabaran untuk berproses, dan keikhlasan untuk menerima hasil.

Allah Swt. berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'" (Q.S. Ghafir [40]: 60).

Ayat ini menjadi fondasi optimisme seorang mukmin. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa karena doa merupakan inti penghambaan. Rasulullah SAW bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

"Doa adalah ibadah." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Secara etimologis, kata ad-du'ā' (الدعاء) berasal dari akar kata da'ā–yad'ū yang berarti memanggil, menyeru, memohon, atau menghadapkan diri dengan penuh harap. Dalam pengertian syariat, doa bukan sekadar rangkaian kalimat permohonan, melainkan pengakuan atas kefakiran manusia di hadapan Allah Yang Mahakaya. Doa adalah deklarasi tauhid bahwa tidak ada kekuatan yang mutlak selain kekuasaan-Nya.

Namun, Islam juga mengajarkan bahwa doa tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan ikhtiar. Allah tidak menjadikan doa sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, doa adalah ruh yang menghidupkan usaha. Karena itu Al-Qur'an menegaskan:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ۝ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ

"Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan." (Q.S. An-Najm [53]: 39–40).

Ayat ini meletakkan prinsip dasar yang sangat penting: doa tidak menghapus hukum sebab-akibat (sunnatullah). Allah menjanjikan pertolongan, tetapi pertolongan itu datang melalui jalan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Di sinilah lahir keseimbangan yang indah antara doa, ikhtiar, dan tawakal. Doa meluruskan niat, ikhtiar menggerakkan tenaga, sedangkan tawakal menenangkan jiwa. Orang yang hanya berdoa tanpa bekerja akan terjebak dalam angan-angan, sementara orang yang hanya bekerja tanpa berdoa mudah terperangkap dalam kesombongan.

Keseimbangan inilah yang menjadi fondasi lahirnya peradaban Islam. Sejarah para nabi menunjukkan bahwa mukjizat tidak pernah menghapus kewajiban untuk berusaha. Justru sebelum datangnya pertolongan Allah, selalu ada perjuangan, kesabaran, dan pengorbanan manusia. Langit tidak pernah mengajarkan manusia untuk berpangku tangan. Sebaliknya, langit mengajarkan manusia agar mengubah doa menjadi karya, harapan menjadi tindakan, dan iman menjadi peradaban.

Inilah makna terdalam dari melangitkan doa dan mewujudkannya di bumi.

(Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Ketua PD PERSIS Kota Pekanbaru dan Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Provinsi Riau)