Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
ADA orang yang pagi harinya masih menyusun rencana, siangnya tertawa bersama keluarga, tetapi sore harinya namanya telah tercatat dalam berita duka. Ada pula yang semalam masih berbincang tentang masa depan, tetapi pagi berikutnya telah terbujur kaku, meninggalkan rumah, harta, jabatan, dan segala impian yang belum sempat diwujudkan.
Begitulah kematian. Ia tidak selalu datang setelah rambut memutih, tubuh melemah, atau usia mencapai senja. Ia tidak menunggu seseorang menyelesaikan pembangunan rumah, melunasi seluruh utang, meraih jabatan tertinggi, atau menyaksikan anak-anaknya sukses. Kematian datang menurut ketetapan Allah, sementara manusia tidak pernah benar-benar mengetahui kapan gilirannya tiba.
Ironisnya, kita sering menjalani kehidupan seolah-olah memiliki waktu yang tidak terbatas. Kita sibuk menghitung penghasilan, merancang masa depan, mengejar kedudukan, dan memperluas kekuasaan, tetapi jarang menghitung berapa banyak waktu yang telah kita habiskan untuk memperbaiki diri. Kita takut kehilangan harta, tetapi tidak selalu takut kehilangan kejujuran. Kita khawatir reputasi tercemar, tetapi kadang tidak merasa gelisah ketika hati mulai kehilangan kepekaan.
Padahal, kematian bukan sekadar akhir perjalanan biologis manusia. Dalam perspektif Islam, kematian adalah pintu menuju kehidupan akhirat, tempat manusia mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia.
Kematian: Kepastian yang Sering Dilupakan
Al-Qur'an mengingatkan manusia dengan kalimat yang sangat tegas:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (Q.S. Ali 'Imran [3]: 185).
Tidak ada pengecualian dalam ketentuan ini. Orang kaya dan miskin, penguasa dan rakyat, orang berpendidikan tinggi dan mereka yang tidak sempat mengenyam pendidikan, semuanya berada dalam barisan yang sama di hadapan kematian.
Gelar akademik tidak dapat membatalkan ajal. Kekayaan tidak dapat membeli tambahan usia. Jabatan tidak dapat memerintahkan kematian untuk menunggu. Teknologi kedokteran dapat memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kualitas kesehatan, tetapi tidak menjadikan manusia abadi.
Dalam ilmu biologi, kematian berkaitan dengan berhentinya fungsi vital organisme secara permanen. Namun, dalam pandangan keagamaan, makna kematian melampaui dimensi biologis. Kematian mengingatkan manusia bahwa kehidupan memiliki batas, sedangkan pertanggungjawaban moral tidak boleh diabaikan.
Kesadaran tentang keterbatasan hidup semestinya melahirkan kebijaksanaan. Manusia tidak harus menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari betapa berharganya kebersamaan. Tidak perlu menunggu jatuh sakit untuk menghargai kesehatan. Tidak perlu menunggu berada di ambang kematian untuk meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti.
Sayangnya, manusia sering kali baru memahami nilai sesuatu setelah kehilangan kesempatan untuk memilikinya kembali.
Kita baru menyadari betapa berharganya orang tua setelah mereka tiada. Kita baru menyesali kata-kata kasar setelah tidak lagi memiliki kesempatan untuk menariknya kembali. Kita baru ingin memperbaiki hubungan ketika jarak telah berubah menjadi perpisahan yang permanen.
Karena itu, mengingat mati sesungguhnya bukan sekadar memikirkan bagaimana kita akan meninggalkan dunia, melainkan bagaimana kita menjalani kehidupan sebelum waktunya berakhir.
Sebuah nasihat yang diriwayatkan dari Jibril kepada Rasulullah SAW mengandung pesan mendalam tentang kefanaan manusia.
Dalam riwayat yang dicantumkan oleh Imam ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam al-Awsath, disebutkan:
عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ
'Isy mā syi'ta fa'innaka mayyitun.
Artinya, “Hiduplah sesukamu, sesungguhnya engkau pasti akan mati.”
Nasihat tersebut tidak bermaksud mengajak manusia menjalani hidup tanpa aturan. Sebaliknya, kalimat itu menegaskan bahwa kebebasan manusia tidak menghapus konsekuensi dari setiap pilihan. Kita boleh mengejar cita-cita, membangun usaha, menuntut ilmu, mengembangkan karier, dan mengumpulkan kekayaan. Namun, semua itu harus dijalankan dengan kesadaran bahwa kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya.
Harta yang dikumpulkan dengan cara halal dapat menjadi sarana kebaikan. Jabatan yang dijalankan dengan amanah dapat menjadi jalan pengabdian. Ilmu yang dibagikan dengan ikhlas dapat menerangi kehidupan orang lain. Sebaliknya, harta yang diperoleh melalui kezaliman, kekuasaan yang digunakan untuk menindas, dan ilmu yang dipakai untuk menipu akan menjadi persoalan moral yang harus dipertanggungjawabkan.
Di sinilah pentingnya membedakan antara keberhasilan duniawi dan kebermaknaan hidup.
Tidak semua orang yang terkenal telah memberikan manfaat. Tidak semua orang yang kaya telah menjadi mulia. Tidak semua orang yang berkuasa telah berlaku adil.
Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya tidak cukup ditentukan oleh seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi juga oleh seberapa banyak kebaikan yang ditinggalkannya.
Kematian mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan, melainkan juga tentang apa yang telah diberikan.
Mengingat Mati Bukan Berarti Berhenti Hidup
Ada anggapan bahwa terlalu sering mengingat kematian akan membuat seseorang kehilangan semangat menjalani kehidupan. Padahal, jika dipahami secara proporsional, kesadaran akan kematian justru dapat membantu manusia menentukan prioritas, mengendalikan ambisi, dan menggunakan waktunya secara lebih bijaksana.
Orang yang menyadari keterbatasan waktu akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Ia tidak mudah mengorbankan keluarga demi ambisi yang tidak berkesudahan. Ia tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan. Ia juga tidak menganggap penghinaan terhadap orang lain sebagai perkara kecil yang dapat dibiarkan begitu saja.
Kesadaran akan kematian semestinya membuat manusia lebih berani melakukan kebaikan dan lebih takut melakukan kezaliman.
Mengapa kita harus memelihara kebencian bertahun-tahun jika usia kita sendiri tidak diketahui panjangnya? Mengapa kita harus mengorbankan persaudaraan demi perebutan harta yang kelak akan diwariskan? Mengapa kita merasa paling benar hingga merendahkan orang lain, padahal setiap manusia memiliki kelemahan dan akan menghadapi pertanggungjawabannya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk melemahkan semangat hidup, melainkan untuk meluruskan arah kehidupan.
Islam tidak mengajarkan manusia meninggalkan dunia dan mengabaikan tanggung jawabnya. Islam justru mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Dalam Q.S. Al-Qashash [28]: 77, manusia diperintahkan untuk mengupayakan kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagiannya di dunia serta berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya.
Dengan demikian, mengingat kematian bukan berarti menunggu kematian. Mengingat kematian berarti memperbaiki cara hidup, menata niat, memperhalus akhlak, dan memastikan bahwa setiap kesempatan yang masih diberikan Allah digunakan untuk sesuatu yang bernilai.
Bekal yang Tidak Ikut Dikuburkan
Ketika seseorang meninggal dunia, keluarga dan kerabat mengantarkan jenazahnya ke pemakaman. Rumah duka perlahan sepi. Tangisan mereda. Para pelayat kembali ke rumah masing-masing. Kehidupan dunia terus berjalan, meskipun satu kehidupan telah berakhir.
Rasulullah SAW bersabda:“Ada tiga hal yang mengikuti jenazah: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali, sedangkan satu tetap bersamanya.”
Hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim ini kemudian menjelaskan bahwa keluarga dan harta akan kembali, sedangkan amal tetap menyertai manusia.
Pesannya sederhana, tetapi mengguncang kesadaran: tidak semua yang kita perjuangkan di dunia dapat dibawa menuju kehidupan berikutnya.
Rumah megah akan tetap berdiri, tetapi penghuninya dapat pergi. Kendaraan mahal akan tetap berada di garasi, tetapi pemiliknya tidak lagi mengendarainya. Jabatan akan diisi orang lain. Kursi kekuasaan akan diduduki penerusnya. Bahkan nama yang dahulu dielu-elukan dapat perlahan dilupakan.
Namun, kebaikan yang dilakukan dengan tulus dapat terus menghadirkan manfaat.
Ilmu yang diajarkan dapat menerangi pikiran generasi berikutnya. Anak yang dididik dengan iman dan akhlak dapat tumbuh menjadi sumber kebaikan. Harta yang disedekahkan dapat membantu kehidupan orang lain. Kebijakan yang adil dapat meninggalkan manfaat bagi masyarakat. Perkataan yang bijaksana dapat menyelamatkan seseorang dari keputusan yang keliru.
Rasulullah saw. juga menjelaskan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Karena itu, pertanyaan penting bagi setiap orang bukan hanya berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, melainkan berapa banyak manfaat yang dapat terus dirasakan orang lain setelah dirinya tiada.
Jangan sampai kita menghabiskan seluruh usia untuk membangun sesuatu yang hanya membesarkan nama, tetapi lupa membangun sesuatu yang memperbaiki kehidupan.
Memperbaiki Diri Sebelum Terlambat
Mengingat kematian akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti sebagai renungan sesaat. Kesadaran itu harus diterjemahkan menjadi perubahan nyata dalam perilaku sehari-hari.
Pertama, perbaiki hubungan dengan Allah. Jaga salat, tumbuhkan keikhlasan, perbanyak istigfar, dan jadikan ibadah sebagai sumber kekuatan moral, bukan sekadar rutinitas. Kesalehan tidak cukup diukur dari banyaknya simbol keagamaan, tetapi juga dari kejujuran, amanah, keadilan, dan kasih sayang yang tumbuh dalam diri.
Kedua, perbaiki hubungan dengan sesama manusia. Jika pernah menyakiti, mintalah maaf. Jika memiliki utang, tunaikanlah. Jika pernah mengambil hak orang lain, kembalikanlah. Jangan biarkan kesombongan menghalangi permintaan maaf dan jangan menunggu momentum yang belum tentu datang untuk memperbaiki persaudaraan.
Ketiga, periksa kembali cara memperoleh dan menggunakan harta. Kekayaan bukanlah kesalahan, tetapi cara mendapatkannya dan tujuan menggunakannya menentukan nilai moralnya. Jangan sampai keinginan hidup berkecukupan membuat kita mengabaikan hak orang lain.
Keempat, gunakan ilmu dan kedudukan untuk menghadirkan kemaslahatan. Seorang guru dapat meninggalkan warisan berupa karakter murid-muridnya. Seorang pemimpin dapat meninggalkan kebijakan yang adil. Seorang akademisi dapat mewariskan pemikiran yang mencerahkan. Seorang advokat dapat memperjuangkan keadilan dan melindungi hak mereka yang terpinggirkan. Setiap profesi menyediakan kesempatan untuk berbuat baik.
Kelima, berhentilah menunda kebaikan. Kita sering berkata, kelak akan lebih rajin beribadah, nanti akan bersedekah lebih banyak, suatu hari akan mengunjungi orang tua, atau setelah urusan selesai akan meminta maaf. Padahal, tidak seorang pun memegang jaminan bahwa kesempatan itu akan selalu tersedia.
Tentu, manusia tidak akan pernah sempurna. Akan selalu ada kekurangan yang perlu diperbaiki dan kesalahan yang harus disesali. Namun, kesempurnaan bukan syarat untuk memulai perubahan. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk mengakui kekeliruan, belajar, bertobat, dan terus memperbaiki diri.
Sebab, orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang tidak menjadikan kesalahannya sebagai alasan untuk berhenti menjadi lebih baik.
Kematian Menguji Makna Kehidupan
Kematian akan datang kepada setiap manusia. Pertanyaan tentang kapan dan bagaimana ia datang bukanlah sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali kita. Yang masih dapat kita upayakan adalah bagaimana menjalani waktu yang tersedia sebelum perjumpaan itu tiba.
Kita tidak dapat menentukan berapa lama usia yang akan diberikan Allah, tetapi kita dapat berusaha menentukan kualitas amal yang mengisi usia tersebut. Kita tidak dapat membawa seluruh kekayaan ke dalam kubur, tetapi kita dapat mengubah sebagian kekayaan menjadi jalan pertolongan bagi sesama. Kita tidak dapat meminta waktu yang telah berlalu kembali, tetapi kita masih dapat menggunakan hari ini untuk memperbaiki kesalahan kemarin.
Jangan menunggu sakit untuk bersyukur atas kesehatan. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai kebersamaan. Jangan menunggu ajal mendekat untuk memperbaiki ibadah. Jangan menunggu nama kita tercantum dalam berita duka untuk menyadari bahwa hidup seharusnya memberi manfaat.
Kematian memang akhir dari kesempatan beramal di dunia, tetapi kesadaran terhadapnya dapat menjadi awal perubahan dalam kehidupan.
Maka, selagi napas masih berembus, manfaatkanlah untuk kebaikan. Selagi hati masih mampu merasakan, gunakanlah untuk menyayangi. Selagi akal masih berpikir, arahkanlah untuk mencari kebenaran. Selagi tangan masih dapat bergerak, ulurkanlah untuk menolong. Dan selagi pintu pertobatan masih terbuka, jangan biarkan kesombongan menghalangi kita untuk kembali kepada Allah.
Sebab, pada akhirnya, kehidupan tidak diukur semata-mata dari panjangnya usia, tetapi juga dari kedalaman makna dan kebaikan yang ditinggalkannya.
Ingatlah kematian, bukan agar kita takut menjalani kehidupan, melainkan agar kita tidak menyia-nyiakannya. Perbaikilah diri, bukan ketika waktu hampir habis, melainkan sejak hari ini.
Kita tidak pernah tahu kapan perjalanan ini berakhir. Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan apakah waktu yang tersisa akan berlalu tanpa makna atau menjadi jalan menuju rida Allah.
Kematian adalah kepastian. Waktu kedatangannya adalah rahasia. Sementara memperbaiki diri adalah ikhtiar yang tidak sepatutnya ditunda.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.***
(Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Ketua Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PERSIS) Kota Pekanbaru dan Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Provinsi Riau)