Oleh: H. Aswandi, S.E.
ADA daerah yang dibangun dengan beton dan baja. Tetapi ada pula daerah yang sesungguhnya dibangun oleh sesuatu yang lebih fundamental: kepercayaan, persatuan, dan kesediaan hidup bersama dalam perbedaan. Riau adalah salah satunya.
Memasuki usia ke-69 tahun, Hari Jadi Provinsi Riau tidak semestinya berhenti sebagai seremoni. Ia harus menjadi momentum untuk bercermin: apa yang telah dicapai, apa yang masih tertinggal, siapa yang menikmati hasil pembangunan, dan ke mana ekonomi Riau hendak diarahkan.
Tema “Bersatu dalam Keragaman, Maju dalam Pembangunan” bukan sekadar slogan. Ia mengandung pesan penting bahwa pembangunan membutuhkan persatuan sebagai modal sosial dan pertumbuhan ekonomi sebagai mesin kesejahteraan.
Tanpa persatuan, energi pembangunan mudah terpecah. Tanpa pembangunan, persatuan kehilangan makna ketika kesejahteraan tak kunjung dirasakan rakyat.
Karena itu, tantangan Riau ke depan bukan sekadar membangun lebih banyak, tetapi membangun lebih bermakna.
Riau bukan masyarakat satu warna. Melayu menjadi akar kebudayaan yang kuat, tetapi Riau juga tumbuh dari kontribusi Minangkabau, Jawa, Batak, Bugis, Banjar, Sunda, Tionghoa dan berbagai kelompok masyarakat lainnya.
Keragaman tidak seharusnya dipandang sebagai beban. Dalam perspektif ekonomi pembangunan, keragaman yang dikelola dengan baik justru merupakan modal sosial dan modal ekonomi.
Kepercayaan, jaringan sosial, gotong royong, pengetahuan dan budaya kerja dapat memperkuat produktivitas, memperluas kerja sama dan menekan biaya sosial akibat konflik.
Filosofi Melayu tentang marwah, musyawarah, kesantunan dan gotong royong memiliki relevansi besar dengan pembangunan modern yaitu membangun ekonomi sekaligus menjaga keadaban.
Menjadi Riau bukan berarti semua orang harus menjadi sama. Menjadi Riau berarti mampu hidup bersama tanpa kehilangan identitas masing-masing.
Riau dianugerahi sumber daya alam yang besar, seperti migas, perkebunan, kehutanan, kelautan dan berbagai potensi ekonomi lainnya.
Namun ada satu hukum pembangunan yang tidak boleh dilupakan: sumber daya alam dapat habis, sementara kualitas manusia harus terus bertumbuh.
Karena itu, Riau perlu mempercepat transformasi dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis manusia dan pengetahuan.
Minyak menghasilkan pendapatan. Perkebunan menghasilkan komoditas. Pelabuhan membuka perdagangan. Jalan memperkuat konektivitas.
Tetapi nilai ekonomi akan jauh lebih besar apabila semua itu dikelola oleh manusia yang terdidik, terampil, inovatif dan berintegritas.
Ukuran keberhasilan pembangunan karena itu tidak cukup dilihat dari berapa panjang jalan yang dibangun atau berapa banyak investasi yang masuk.
Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak rakyat yang naik kelas secara ekonomi? Berapa banyak anak muda memperoleh pekerjaan layak? Berapa banyak UMKM berkembang? Berapa banyak petani dan nelayan memperoleh nilai tambah? Berapa banyak desa berubah menjadi pusat produksi?
Di situlah pembangunan menemukan makna kemanusiaannya.
Jalan bukan sekadar aspal. Jembatan bukan sekadar beton. Pelabuhan bukan sekadar bangunan. Semuanya harus menjadi infrastruktur ekonomi.
Jalan harus menghubungkan petani dengan pasar. Pelabuhan harus menurunkan biaya logistik dan membuka akses perdagangan. Internet harus menghubungkan anak muda dengan pengetahuan dan pekerjaan. Kawasan industri harus menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
Dengan demikian, pembangunan infrastruktur bukan sekadar menghubungkan tempat, tetapi menghubungkan manusia dengan kesempatan.
Kita jangan hanya menghitung berapa proyek yang selesai. Ukuran yang lebih penting adalah berapa biaya ekonomi rakyat yang dapat ditekan dan berapa kesempatan baru yang tercipta.
Tantangan Riau bukan hanya menghasilkan komoditas, tetapi menciptakan nilai tambah. Jika bahan mentah keluar dan produk jadi kembali masuk dengan harga lebih tinggi, sebagian besar nilai ekonomi justru dinikmati di luar daerah. Karena itu, hilirisasi harus menjadi agenda strategis.
Sawit, karet, hasil perikanan dan berbagai produk pertanian harus didorong dari sekadar komoditas primer menjadi produk olahan bernilai tinggi.
Riau membutuhkan ekosistem ekonomi yang membuat komoditas lokal melahirkan industri lokal, lapangan kerja lokal dan nilai tambah lokal.
Inilah cara kekayaan alam diterjemahkan menjadi kesejahteraan rakyat.
Riau tidak boleh membangun masa depan hanya dengan mengandalkan harga komoditas hari ini.
Dunia sedang memasuki era kecerdasan buatan, ekonomi digital, otomatisasi, ekonomi kreatif dan teknologi finansial. Karena itu, investasi terbesar bukan hanya pada physical capital, tetapi juga human capital.
Pendidikan harus melahirkan keterampilan. Perguruan tinggi harus semakin dekat dengan kebutuhan industri. Pendidikan vokasi dan pelatihan kerja harus berbasis kebutuhan pasar. Literasi digital dan kewirausahaan harus diperluas.
Anak muda Riau harus dipersiapkan menjadi pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja. Namun modernitas tidak boleh membuat mereka kehilangan akar budaya. Kita membutuhkan generasi yang modern dalam berpikir, kompetitif dalam bekerja, tetapi tetap berakar pada nilai. Melayu boleh berakar di Riau, tetapi pikiran anak mudanya harus mampu menjangkau dunia.
Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti pemerataan kesejahteraan. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya: seberapa besar ekonomi Riau tumbuh? Tetapi: siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut?
Apakah petani mendapatkan harga yang layak? Nelayan memperoleh akses pasar? UMKM mendapatkan pembiayaan? Masyarakat lokal memperoleh pekerjaan? Anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan pendidikan berkualitas?
Pembangunan harus inklusif. Keadilan bukan berarti semua orang memperoleh hasil yang sama. Keadilan berarti setiap orang memperoleh kesempatan yang layak untuk berkembang.
Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang mengurangi kemiskinan, memperluas kelas menengah, membuka mobilitas sosial dan memperbesar kesempatan ekonomi.
Riau juga membutuhkan kedewasaan politik. Perbedaan pilihan adalah keniscayaan demokrasi. Tetapi kita harus mampu membedakan lawan politik dengan musuh sosial.
Lawan politik dapat berganti setelah pemilu. Masyarakat tetap harus hidup bersama. Karena itu, politik Riau harus semakin berorientasi pada gagasan: pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, UMKM, investasi, hilirisasi, lingkungan, infrastruktur dan kesejahteraan.
Rakyat tidak hidup dari slogan. Rakyat membutuhkan pekerjaan, pendapatan, pendidikan, kesehatan, harga yang terjangkau dan masa depan yang lebih pasti.
Politik yang bermakna adalah politik yang mampu menerjemahkan kekuasaan menjadi kebijakan dan kebijakan menjadi kesejahteraan.
Riau memiliki modal yang besar. Pemerintah memiliki kewenangan. Dunia usaha memiliki investasi. Akademisi memiliki pengetahuan. Ulama dan tokoh masyarakat memiliki kekuatan moral. Generasi muda memiliki energi. Masyarakat memiliki pengalaman. Media memiliki kekuatan narasi.
Jika berjalan sendiri-sendiri, energi itu terpecah. Tetapi jika ditenun dalam satu visi, keberagaman berubah menjadi kekuatan kolektif. Inilah hakikat pembangunan berbasis kolaborasi.
Pada usia ke-69 tahun, Riau tidak cukup bertanya, “Apa yang telah kita dapatkan dari Riau?”
Kita perlu bertanya lebih jauh:
“Apa yang telah kita berikan untuk Riau?”
Sebab Riau bukan sekadar wilayah tempat kita tinggal. Ia adalah rumah bersama yang harus dijaga persatuannya, budayanya, lingkungannya, integritasnya dan masa depannya.
Riau tidak membutuhkan keseragaman. Riau membutuhkan persatuan.
Tidak cukup membangun jalan menuju suatu tempat. Kita harus membangun jalan menuju kesejahteraan.
Tidak cukup membangun gedung. Kita harus membangun manusia.
Tidak cukup mengejar pertumbuhan. Kita harus menghadirkan pemerataan.
Tidak cukup menjual kekayaan alam. Kita harus menciptakan nilai tambah.
Dan tidak cukup mewariskan sumber daya alam. Kita harus mewariskan peradaban.
Mari menjahit perbedaan menjadi persaudaraan, menenun potensi menjadi kekuatan ekonomi, dan merajut kebijakan menjadi kesejahteraan.
Sebab pada akhirnya, Riau bukan hanya masa lalu yang kita banggakan, tetapi masa depan yang sedang kita tenun bersama. Dan setiap kita adalah benangnya.
Selamat Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau.***
Bersatu dalam Keragaman, Maju dalam Pembangunan.
(H. Aswandi, S.E. Penulis; Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Legislatif dan Eksekutif DPD PDI Perjuangan Provinsi Riau)