Oleh: Buya Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H.
DI negeri yang riuh oleh arus mudik dan arus balik, kita menyaksikan pemandangan yang nyaris ritualistik, yaitu berupa jalanan macet, media sosial penuh keluhan, destinasi wisata membludak, dan pusat kota dipadati manusia yang merayakan kebebasan pasca-Ramadhan. Ada yang menertawakan kemacetan, ada yang mengeluh, ada pula yang sekadar mengabadikan momen. Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan kepada diri sendiri: ke mana perginya ruh Ramadhan yang baru saja kita jalani?
Ramadhan, dalam tradisi Islam, bukan sekadar bulan ibadah musiman. Ia adalah madrasah ruhaniyah, yaitu ruang pendidikan yang intensif, yang melatih manusia menjadi hamba yang sadar, bukan sekadar patuh secara seremonial. Di bulan itu, manusia ditempa dengan kurikulum langit: puasa yang menahan, shalat malam yang menguatkan, tilawah yang menenangkan, sedekah yang melapangkan, dan doa yang menghidupkan harapan.
Namun persoalan klasik umat manusia bukan pada ketidaktahuan, melainkan pada ketidakberlanjutan.
Ketika seseorang mengaku beriman, sejatinya ia telah mengikatkan diri dalam sebuah perjanjian eksistensial dengan Tuhan.
Dalam perspektif teologis, iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan komitmen total untuk tunduk dan patuh dalam setiap dimensi kehidupan. Maka ketaatan bukanlah aktivitas musiman, melainkan identitas permanen.
Di sinilah letak problem mendasar, banyak dari kita memperlakukan ibadah seperti proyek temporer yang intens di bulan Ramadhan, tetapi redup setelahnya. Padahal, Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat filosofis melalui perumpamaan dalam Surat An-Nahl ayat 92 tentang seorang perempuan yang dengan susah payah memintal benang menjadi kain yang indah, lalu merusaknya kembali dengan tangannya sendiri, sebagaimana Allah SWT berfirman:
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَاثًاۗ
"Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan tenunannya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali." (Q.S. An Nahl ayat 92).
Itulah gambaran tragis manusia yang tekun beribadah, tetapi gagal merawat hasilnya.
Secara sosiologis, Ramadhan menciptakan atmosfer kesalehan kolektif. Masjid penuh, kajian ramai, sedekah meningkat, bahkan media sosial dipenuhi konten religius. Namun atmosfer ini seringkali bersifat struktural, bukan kultural. Ia hadir karena momentum, bukan karena kesadaran yang mengakar.
Begitu momentum berlalu, struktur itu runtuh. Yang tersisa hanyalah individu yang kembali bernegosiasi dengan hawa nafsunya masing-masing.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kesalehan kita seringkali bersifat situasional, bukan eksistensial. Kita saleh karena lingkungan mendukung, bukan karena hati telah terdidik. Maka ketika lingkungan berubah, perilaku pun ikut berubah.
Dalam sejarah peradaban Islam, para ulama dan salihin menempatkan istiqamah sebagai puncak spiritualitas. Bahkan ada ungkapan yang terkenal: “Istiqamah lebih berat daripada seribu karamah.” Sebab keajaiban sejati bukan pada kemampuan melakukan hal luar biasa, tetapi pada kemampuan menjaga kebaikan secara konsisten.
Para generasi awal Islam tidak mengenal istilah “ibadah musiman”. Bagi mereka, Ramadhan adalah titik awal, bukan puncak. Ia menjadi batu loncatan untuk kehidupan yang lebih taat, bukan sekadar ritual tahunan yang berulang tanpa transformasi.
Di era modern, tantangan ketaatan semakin kompleks. Ramadhan pun tidak luput dari komodifikasi. Ibadah seringkali berdampingan dengan konsumsi: buka puasa mewah, belanja besar-besaran, hingga wisata religi yang lebih menonjolkan estetika daripada makna.
Akibatnya, spiritualitas berpotensi tereduksi menjadi simbol, bukan substansi.
Kita rajin beribadah, tetapi mudah marah di jalan. Kita khusyuk berdoa, tetapi lalai menjaga kejujuran. Kita gemar bersedekah, tetapi abai terhadap keadilan sosial. Di sinilah ironi itu terasa: ketaatan yang tidak membumi dalam perilaku sehari-hari.
Merawat ketaatan bukanlah perkara mudah. Ia membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan yang paling penting adalah kesadaran diri.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur'an Surat Al-Hijr Ayat 99:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْن
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian)."
Ayat ini menegaskan bahwa ketaatan tidak mengenal titik akhir selain kematian. Ia adalah perjalanan panjang sepanjang hayat.
Secara praktis, merawat ketaatan dapat dimulai dari hal-hal sederhana namun konsisten, seperti menjaga shalat tepat waktu, melanjutkan interaksi dengan Al-Qur’an, membiasakan sedekah, serta mengendalikan lisan dan emosi. Kecil, tetapi jika terus dijaga, ia menjadi fondasi kokoh bagi kehidupan spiritual.
Pada akhirnya, ketaatan bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju kedekatan dengan Tuhan. Ia bukan beban, tetapi kebutuhan jiwa. Sebab manusia, dalam hakikatnya, adalah makhluk yang selalu mencari makna.
Ramadhan telah menunjukkan kepada kita versi terbaik dari diri kita. Kini pertanyaannya: apakah kita akan merawatnya, atau justru merusaknya dengan tangan kita sendiri?
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern—kemacetan, keramaian, dan distraksi tanpa henti—merawat ketaatan adalah bentuk perlawanan paling sunyi, tetapi paling bermakna.
Sebab pada akhirnya, yang menentukan bukan seberapa tinggi kita pernah terbang di bulan Ramadhan, tetapi seberapa teguh kita berjalan setelahnya.***
(Buya Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H. Penulis; Ketua Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PERSIS) Kota Pekanbaru)