PEKANBARU, AmiraRiau.com – Politik seringkali dianggap sebagai panggung kata-kata, namun satu tahun terakhir di Kota Pekanbaru, narasi itu dipatahkan. Di bawah komando Walikota Agung Nugroho dan Wakil Walikota Markarius Anwar, Ibu Kota Provinsi Riau ini tidak lagi sekadar berwacana. Pekanbaru sedang berlari kencang, melakukan akselerasi yang disebut banyak pihak sebagai "Revolusi Sunyi"—bekerja dalam senyap namun berbuah kepuasan masyarakat yang nyata.
Langkah paling heroik yang diambil pasangan ini di awal masa jabatan adalah membenahi dapur keuangan daerah. Pekanbaru sempat terhimpit utang warisan senilai Rp 467 miliar. Angka yang cukup untuk melumpuhkan pembangunan jika tidak dikelola dengan nyali.
Namun, Agung-Markarius memilih jalan sulit: melunasi utang tersebut tanpa memangkas program kerakyatan. Hasilnya? Selain beban fiskal hilang, kepercayaan investor kembali tumbuh. Efisiensi ini diikuti dengan digitalisasi perizinan melalui Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang kini rampung hanya dalam satu jam. Sebuah rekor yang menempatkan Pekanbaru sebagai kota ramah investasi.
Visi besar Agung-Markarius terletak pada investasi manusia. Melalui program Zero Putus Sekolah, pemerintah kota secara agresif menjaring 1.778 anak yang terancam berhenti sekolah. Sebanyak 757 anak telah kembali ke kelas, lengkap dengan bantuan perlengkapan sekolah dan solusi ijazah yang sempat tertahan.

Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho
Tak berhenti di situ, komitmen wajib belajar 13 tahun diperkuat dengan integrasi 1 PAUD 1 Kelurahan yang menyatu dengan layanan Posyandu. Bagi mahasiswa, kucuran beasiswa dari jenjang S1 hingga S3, termasuk jalur khusus bagi Hafiz Al-Qur’an, menjadi bukti bahwa masa depan Pekanbaru sedang dirajut dari bangku pendidikan.
Masalah klasik seperti banjir dan sampah ditangani dengan pendekatan teknokratis yang terukur. Normalisasi sungai sepanjang 78,2 km serta pembenahan drainase dan DAS sepanjang 109,5 km dilakukan untuk meminimalisir genangan di 20 titik rawan.
Di sektor sampah, Pekanbaru tidak lagi hanya memindahkan tumpukan ke TPA. Melalui proyek Waste to Energy (WTE) di Muara Fajar, sampah kini dipandang sebagai sumber energi masa depan. Penguatan Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS) di 83 kelurahan memastikan urusan sampah selesai sejak dari tingkat rumah tangga.
"Pekanbaru Aman" bukan sekadar slogan. Peluncuran Tim Reaksi Cepat (TRC) 112 memberikan rasa tenang bagi warga di malam hari. Sementara di sektor ekonomi, Program Rp 100 Juta per RW memberikan otonomi bagi warga untuk membangun lingkungannya sendiri.
Akselerasi Program Strategis Nasional (PSN) juga berjalan mulus. Dari 27 dapur umum untuk Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga pembangunan 20 ribu sambungan gas kota, semua dilakukan untuk menurunkan beban hidup masyarakat bawah.

Dunia internasional dan nasional mulai melirik. Peringkat dua nasional pada Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 yang diterima Agung Nugroho menjadi pengakuan resmi atas keberhasilan menekan angka kemiskinan dan stunting secara signifikan.
Satu tahun ini adalah tentang pondasi. Pekanbaru kini memiliki jalan yang lebih halus (42 km diperbaiki), udara yang lebih segar (15 ribu pohon ditanam), dan birokrasi yang lebih melayani (Mobil AMAN).
Agung Nugroho dan Markarius Anwar telah menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang mampu mengubah janji di atas kertas menjadi bukti di atas tanah. Perjalanan masih panjang, namun Pekanbaru telah berada di jalur yang benar—jalur menuju kota yang bersih, sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan.***
Penulis: Afnan