Oleh: Muhammad Herwan
KETIKA suatu sore sahabat karib saya menelpon bahwa saat itu dia sedang di Malaka. Beliau bercerita dengan ketakjuban sekaligus membandingkan perubahan dan kemajuan peradaban Kota Malaka saat ini dengan negeri-negeri di daerah Riau sebagai sesama Rumpun Melayu. Sayapun mendengarkan sambil membayangkan—bernostalgia dengan memori lini-masa saat beberapa kali perjalanan ke Negeri Malaka.
Ada sebuah ironi manis di Selat Malaka. Dumai—di sisi Pantai Timur Pulau Sumatera—dianugerahi bumi yang kaya: minyak bumi, kelapa sawit, dan hutan. Sementara Malaka—di sisi Pantai Barat Semenanjung Malaysia—di seberangnya, hanya dikaruniai tanah yang biasa dan laut yang sama. Namun dari "kekurangan" itulah, Malaka justru menjelma menjadi kota berperadaban yang disegani dunia. Malaka dan Dumai, dua serumpun yang berhadapan di Selat Malaka, memilih jalan berbeda untuk meraih kemajuan. Lalu, resep apa yang meramu Malaka menjadi Kota Peradaban Melayu ?
Malaka: Menggali Kedalaman Sejarah, Warisan sebagai Mata Uang Abadi
Malaka membangun kejayaannya di atas fondasi sejarah yang kaya. Dikenal sebagai pusat perdagangan dunia abad ke-15, kota ini mengandalkan posisi strategis dan pengelolaan bandar yang mumpuni untuk menjadi pelabuhan tersibuk di zamannya. Kini, warisan itu menjadi modal utama.
Pendekatan Malaka modern adalah menggali potensi masa lalu. Strategi utamanya adalah mengembangkan pariwisata berbasis budaya, memanfaatkan statusnya sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Ketika Dumai fokus pada kilang minyak, Malaka fokus pada memory. Mereka sadar, minyak habis, tetapi sejarah tidak. Maka, setiap batu-bata tua, benteng Portugis, dan gang-gang Pecinan dirawat dengan ritual sakral. Hasilnya? Adanya pengakuan UNESCO, wisatawan berbondong-bondong, dan ekonomi bergerak tanpa harus merusak lingkungan. Ini adalah ekonomi kesadaran, bukan ekstraksi.
Malaka menjadikan warisan sebagai "mata uang" abadi—menjual memori sejarah sebagai komoditas. Pengakuan UNESCO bukan sekadar plakat, melainkan fondasi strategi. Lebih dari 220 acara kebudayaan, warisan, dan seni digelar sepanjang “Tahun Melawat Melaka 2.0 (TMM 2.0)” untuk memastikan pengalaman pelancong tidak pernah usang . Teknologi pun digerakkan lewat Smart Tourism Melaka AI dan Passport Pelancongan Visit Melaka 2.0, memadukan kemegahan masa lalu dengan kemudahan masa kini.
Perencanaan Kota yang "Melayani" Manusia
Pemerintah Malaka berinvestasi dalam perencanaan kota berkelanjutan dan konektivitas, seperti yang tertuang dalam Melaka State Structure Plan 2040, untuk tetap menjadi kota yang layak huni dan maju di masa depan.
Malaka tidak membangun gedung pencakar langit untuk menyaingi Kuala Lumpur. Mereka membangun trotoar yang ramah pejalan kaki, sungai yang dihidupkan kembali sebagai ikon kota, dan taman-taman yang menenangkan. Ini menunjukkan peradaban yang matang: “kota dibangun untuk manusia, bukan untuk mesin industri”.
Mengubah Posisi Menjadi Prestise
Malaka tidak memiliki tambang, tapi ia memiliki lokasi. Alih-alih hanya menjadi jalur lintas, Malaka mengubah selatnya menjadi panggung peradaban. Mereka membangun bukan dengan mengeruk sumber daya alam, melainkan dengan mengelola sumber daya manusia dan lintas budaya. Bandar Malaka dulu bukan sekadar pelabuhan, ia adalah mesin pertukaran ide, agama, dan ilmu dari Cina, India, Arab, dan Eropa.
Malaka sadar, wisatawan sejarah bisa datang sekali, tapi pasien kesehatan akan kembali. "Kota Kesihatan" (Health City) seluas 9.99 hektar di Ayer Keroh dibangun dengan dua rumah sakit swasta baru (Putra Specialist Hospital 2 dan Brain and Spine Hospital) berbiaya RM.678 juta, menambah total menjadi enam rumah sakit swasta.
Hasilnya? Lebih dari 10.000 pengunjung dari negara tetangga, terutama Indonesia, datang untuk berobat . Keahlian medis dan biaya kompetitif menjadi daya tarik utama . Bahkan, rumah sakit seperti Mahkota Medical Centre berekspansi dengan gedung 10 lantai dan teknologi SMART Hospital. Jaringan lintas negara pun dibangun, seperti kerja sama Putra Specialist Hospital dengan Sumatera Barat untuk menciptakan paket "travel for health" yang menggabungkan pengobatan dan wisata budaya.
Akses mudah adalah kunci perdagangan. Terminal Feri Antarabangsa Melaka-Dumai menjadi urat nadi yang menghubungkan dua negeri serumpun, memungkinkan arus wisatawan dan barang bergerak cepat. Sinergi keamanan Selat Malaka antara Polda Riau dan Polis Melaka memastikan jalur perdagangan ini tetap aman, sebuah bukti nyata bahwa stabilitas adalah prasyarat ekonomi.
Kunci Sukses: Kolaborasi Satu Visi
Keajaiban Malaka terletak pada kesatuan gerak semua instansi dan berbagai komponen masyarakat—pendekatan pentahelix collaboration. Bukan kerja sendiri-sendiri, tapi bahu-membahu menjual Malaka. Pada awal otonomi daerah tahun 1999, konsep kebersamaan dan bersatu-padu membangun negeri seperti ini, penulis pernah melemparkan gagasan "Riau Inkorporasi dan Riauisasi", untuk membangun Riau terutama dalam upaya mewujudkan Visi Riau 2020.
Paradigma dalam konsep kemitraan membangun negara dilakukan dengan menyatukan dan melibatkan secara sungguh-sungguh (sinergi dan kolaborasi erat) pilar-pilar utama pembangunan utama (ABG++), yakni Academic (Akademisi/Perguruan Tinggi), Bussines (Dunia Usaha/Industri), Government (Pemerintah), dan Civil Society (elemen masyarakat sipil/media massa, NGO/ormas), saat ini populer dengan sebutan Kolaborasi Pentahelix (Pentahelix Collaboration), di Jepang disebut “Japan Incorporated” atau "San-Gaku-Kan-Min Renkei", sedangkan di Korea dikenal dengan "O-ja Hyeopryeok" atau "Ji-San-Hak Hyeopryeok".
Malaka membuktikan bahwa kemajuan sejati tidak bergantung pada kekayaan alam, melainkan pada kekuatan visi dan kerja sama. Dari "kekurangan" sumber daya, Malaka justru membangun tiga pilar utama: wisata sejarah, wisata kesehatan, dan perdagangan, yang diikat oleh satu semangat kolektif: "Menjual Malaka", inilah gerakan paling strategis.
Pemerintah Negeri bertindak sebagai arsitek: meluncurkan TMM 2.0, mengalokasikan insentif, dan membangun infrastruktur kesehatan. Tourism Malaysia dan Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) menjadi motor promosi nasional, menggarap pasar Indonesia dengan program unggulan. Sektor Swasta (rumah sakit, hotel, asosiasi) bergerak sebagai ujung tombak layanan dan inovasi, seperti membangun jaringan medis hingga ke provinsi di Sumatera dan provinsi-provinsi Indonesia lainnya. Komunitas dan Pelaku Budaya dihidupkan dengan insentif RM.300.000 agar terus menciptakan atraksi otentik.
Peran Kunci DMDI dan Datuk Seri Ali Rustam dalam Kemajuan Malaka
Di balik kesuksesan Malaka, ada satu sosok dan satu organisasi yang menjadi motor penggeraknya: Datuk Seri Ali Rustam dan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI). Ali Rustam, yang menjabat sebagai Ketua Menteri Malaka selama tiga periode (1999-2013) sebelum menjadi Yang Dipertua Negeri, adalah arsitek utama di balik transformasi Malaka dari kota biasa menjadi destinasi dunia.
DMDI adalah wadah yang menghimpun negara-negara Melayu-Islam di dunia—dari Malaysia, Indonesia, Brunei, hingga Afrika Selatan dan Australia . Dari posisi ini, Ali Rustam mengarahkan DMDI untuk menjadi katalis pembangunan yang melampaui batas negeri. DMDI mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus dimulai dari dalam negeri sendiri. Dengan membangun jaringan antar negara serumpun, sebuah kota bisa mendatangkan investasi, pengetahuan, dan pasar dari luar.
Malaka maju karena Ali Rustam tidak hanya membangun di dalam Malaka, tetapi juga membangun jaringan Malaka ke seluruh dunia Melayu. Itulah kunci peradaban yang sejati: tidak melihat ke dalam dengan rasa kekurangan, tetapi melihat ke luar dengan semangat kolaborasi.
Pembelajaran untuk Dumai dan Negeri Melayu Riau
Dumai adalah kota yang dibangun dari "nol". Berawal dari dusun nelayan kecil, statusnya baru meningkat menjadi Kotamadya pada tahun 1999. Dengan sejarah yang lebih muda, strategi Dumai adalah mengoptimalkan potensi industri dan sumber daya alam.
Kota ini mengandalkan keberadaan Kilang Minyak Pertamina Refinery Unit II—satu di antara kilang terbesar di Indonesia—sebagai lokomotif ekonomi. Pemerintah kota saat ini berfokus pada pembangunan infrastruktur, peningkatan SDM, dan penguatan branding kota. Komitmen untuk pembangunan yang inklusif dan menjunjung tinggi budaya Melayu juga menjadi sorotan. Langkah strategis seperti menyusun Blueprint City Branding bersama ITB juga ditempuh untuk memperkuat identitasnya sebagai kota pelabuhan dan industri modern.
Dumai memiliki apa yang tidak dimiliki Malaka: kekayaan alam melimpah. Namun kekayaan sering menjadi jebakan. Jika Dumai terus mengandalkan "apa yang dikeluarkan dari perut bumi", ia akan gentar saat harga minyak turun. Bayangkan jika Dumai tidak hanya menjadi kota transit minyak, tetapi juga pusat budaya Melayu modern. Dengan laut yang sama dan sejarah serumpun, Dumai dan Negeri Melayu Riau bisa meniru cara berpikir Malaka: menjadikan identitas sebagai komoditas, dan keramahan sebagai infrastruktur.
Malaka mengajarkan bahwa kolaborasi lintas sektor dan negara mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Dumai, dengan kekayaan alam dan sejarah Melayu yang sama, bisa meniru cara berpikir ini: Bangun Ekosistem, Bukan Tunggal: Jangan hanya fokus pada kilang. Kembangkan kesehatan dan budaya sebagai produk ekonomi baru. Sinergi Lintas Batas: Gunakan hubungan serumpun untuk menarik investasi dan wisatawan, seperti koridor kesehatan Malaka-Sumatera. Satu Suara-Satu Gerak Langkah: Pemerintah, swasta, dan masyarakat harus memiliki misi yang sama: menjual Dumai sebagai destinasi.
Meskipun Malaka dan Dumai berbeda, keduanya memiliki benang merah. Malaka memoles warisan untuk menjadi ikon global, sementara Dumai membangun fondasi untuk menjadi lokomotif industri. Sebuah kontras yang justru bisa menjadi kekuatan bagi keduanya untuk saling melengkapi. Kesamaan posisi geografis dan latar belakang budaya Melayu mendorong keduanya menjalin hubungan sister city. Bagi Dumai, hubungan ini adalah kesempatan untuk belajar langsung dari kesuksesan Malaka dalam mengelola kota maju, terutama di sektor pariwisata dan tata kota. Sebaliknya, Malaka dapat melihat Dumai sebagai pintu gerbang ke sumber daya alam dan pasar di Sumatera.
Malaka mengajarkan bahwa kekuatan sejati negeri Melayu bukan bergantung dengan kekayaan sumber daya alam, tapi pada akal budi dan jejak leluhur. Malaka maju bukan karena apa yang ada di bawah tanah, tapi karena apa yang ada di dalam kepala dan hati anak negerinya: sebuah visi bersama yang dijalankan dengan kolaborasi penuh. Keterbatasan sumber daya memaksa untuk berpikir kreatif, merawat yang ada, dan membangun dari jiwa, bukan dari bumi. Itulah warisan tak kasat mata yang paling berharga untuk ditiru. Dumai pun bisa.***
(Muhammad Herwan. Penulis; Timbalan Ketua Umum FKPMR / Wakil Ketua I DPP Apindo Riau)
(M.H-190826)