“Berbagai model baju tunik, gamis, outer, kemeja dan blazer nanti akan dihasilkan dari karya designer yang direkrut khusus oleh owner Rumah Batik Nagori. Orderan baju batik saat ini sudah overload, tidak ada stok lagi di outlet-outlet kami maupun mitra kami. Tentunya produksi baju akan ditingkatkan lagi, dan kami juga akan siapkan designer terbaik untuk merancang model-model baju batik nagori,” ujarnya.
Rumah Batik Nagori ini salah satu industri batik di Riau yang banyak membuka lapangan kerja untuk masyarakat tempatan. Saat pandemi Covid-19, ratusan orang mulai dari mahasiswa hingga ibu rumah tangga menjadi pengrajin batik di Rumah Batik Nagori. Dan bahkan, Syura membangun gedung baru untuk produksi Batik Jalur Batik Nagori dengan luas bangunan 19x8 meter persergi di dekat tempat tinggalnya.
“BRK Syariah memiliki peran juga dalam pengembangan Rumah Batik Nagori ini melalui pembiayaan yang diperolehnya tahun 2021, pasca pandemi Covid-19. Jumlah permintaan meningkat drastis, sementara bahan dasar terbatas, begitu juga dengan tenaga pengrajinnya. Berkat pembiayaan yang kami peroleh dari BRK Syariah, kami mampu memenuhi permintaan konsumen,” kata Syura.
Namun membuat batik membutuhkan sumber daya manusia yang terlatih, modal kerja yang relatif tinggi, sarana dan prasana yang memadai, tekat dan kemauan yang kuat, dan yang tidak kalah penting adalah hadirnya seorang leader yang handal untuk meramu semua potensi yang ada. Itulah alasan kenapa Rumah Batik Nagori menerima pengrajin pemula yang belum pernah membatik dengan syarat mereka siap dan konsisten mengikuti pelatihan yang diberikan.
“Untuk mereka yang rajin dan mau terus belajar akan menuai hasil yang maksimal, tetapi untuk mereka yang ingin mendapatkan nilai besar di awal sementara belum memiliki keahlian, tentu tidak akan terwujud. Sehingga banyak juga yang mengundurkan diri dan mencari pekerjaan dengan pendapatan tetap. Padahal kalau di sini, pendapatan minimal pengrajin itu Rp.3 jutaan. Mereka dibayar sesuai dengan jumlah batik yang mereka kerjakan, dalam 2 hari bisa menyelesaikan 15 lembar batik,” kata Dosen UIN Jurusan Kewirausahaan ini.
Batik Kuansing semakin disukai dan diminati oleh masyarakat Riau bahkan oleh masyarakat di luar Sumatera. Kata Syura, kualitas dan kuantitas produksi masih diakui terbaik oleh konsumen, tak heran permintaan konsumen saat ini 3.000 lembar dalam status inden. Meski harganya tidak murah, ini membuktikan konsumen menghargai karya cipta yang bernilai budaya tinggi yang dituangkan di dalam lembaran kain.
“Harga ini tergantung bahan dan jenis batiknya, harga termurah itu untuk batik cap Rp.225 ribu dengan panjang 225 cm dan lebar 115 cm dan untuk batik tulis Rp575 ribu dengan ukuran yang lebih besar dan bahan semi sutra yang kita pesan dari APR, Pekalongan dan Solo. Dengan 36 pengrajiin saat ini, masih jauh jumlahnya untuk memenuhi daftar tunggu pesanan. Maka dari itu, kami selalu membuka lowongan kerja hingga seratus tenaga kerja untuk di rumah produksi Batik Nagori ini,” kata Syura yang juga sebagai staf Analisis Desa dan Kelurahan di Kantor Camat Gunung Toar.
Tingginya permintaan Batik Jalur Batik Nagori ini, kata Syura, juga tidak terlepas dari dukungan pemerintah Kabupaten Kuansing yang mewajibkan pegawainya mengenakan pakaian dinas harian batik dalam rangka pelestarian budaya identitas dan peningkatan ekonomi daerah dan mengutamakan motif batik Kuansing. Kemudian disusul oleh perusahaan-perusahaan daerah seperti Bank Riau Kepri Syariah dan instansi lainnya.
“Empat motif yang paling best seller itu, Perahu Baganduang, Jalur, Dayung dan Takuluak Barembai yang merupakan motif pakaian tradisi Kenegerian Taluk Kuantan. Dan semua motif batik di karya cipta Rumah Batik Nagori ini sudah didaftarakan ke Kementerian Hukum dan Hak Azazi Manusia serta mempunyai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Kita juga mendapatkan rekomendasi dari Dinas Koperasi Perdagangan UKM dan Industri Kabupaten Kuansing untuk mendaftarkan hak ciptanya,” ujar Syura lagi.
Dibeberkan Syura, pada kegiatan Carnival Lancang Kuning 2024 lalu, Batik Nagori penjualannya mencapai Rp30 juta. Untuk transaksi pembayaran di outletnya menerima melalui QRIS BRK Syariah. Layanan Bank Riau Kepri Syariah sangat dirasakan manfaatnya, apalagi mayoritas pembeli notabenenya merupakan PNS yang tentunya juga nasabah BRK Syariah.
“Awalnya merintis industri batik ini tak sedikit dana pribadi yang dikeluarkannya. Namun karena keseriusan kami menekuni UMKM ini dengan membawa anggotanya mengikuti pelatihan-pelatihan membatik, kini kami dapat merasakan nikmat yang luar biasa. Saya tidak perlu terjun lagi membatik, semua sudah dilakukan oleh pengrajian kita. Mereka kami berikan kepercayaan untuk membatik sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan,” katanya.
Selain bangunan Rumah Industri Batik Nagori, Syura akan membeli ruko di kota Taluk untuk mengembangkan usahanya. Untuk mewujudkan itu, Syura kembali mempercayakan Bank Riau Kepri Syariah sebagai mitra yang tepat untuk mendukungnya. Ia mengajukan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp.500 juta dengan jangka waktu angsuran 5 tahun.
“Batik Nagori kian hari semakin viral, banyak yang datang ingin melihat langsung hasil batik Nagori. InsyaAllah kami akan membuka gerai baru di Taluk untuk memenuhi kebutuhan konsumen, apalagi saat ini selain batik ada usaha Tenun yang juga sedang kami jalankan. Alhamdulillah, kami juga mendirikan TK dan SD IT di Desa ini. Di sini juga saya akan buat tempat ramah anak, yang nantinya dapat dimanfaatkan pengrajin untuk menitipkan anak-anaknya saat sedang bekerja,” tutur Syura.***
“Berbagai model baju tunik, gamis, outer, kemeja dan blazer nanti akan dihasilkan dari karya designer yang direkrut khusus oleh owner Rumah Batik Nagori. Orderan baju batik saat ini sudah overload, tidak ada stok lagi di outlet-outlet kami maupun mitra kami. Tentunya produksi baju akan ditingkatkan lagi, dan kami juga akan siapkan designer terbaik untuk merancang model-model baju batik nagori,” ujarnya.
Rumah Batik Nagori ini salah satu industri batik di Riau yang banyak membuka lapangan kerja untuk masyarakat tempatan. Saat pandemi Covid-19, ratusan orang mulai dari mahasiswa hingga ibu rumah tangga menjadi pengrajin batik di Rumah Batik Nagori. Dan bahkan, Syura membangun gedung baru untuk produksi Batik Jalur Batik Nagori dengan luas bangunan 19x8 meter persergi di dekat tempat tinggalnya.
“BRK Syariah memiliki peran juga dalam pengembangan Rumah Batik Nagori ini melalui pembiayaan yang diperolehnya tahun 2021, pasca pandemi Covid-19. Jumlah permintaan meningkat drastis, sementara bahan dasar terbatas, begitu juga dengan tenaga pengrajinnya. Berkat pembiayaan yang kami peroleh dari BRK Syariah, kami mampu memenuhi permintaan konsumen,” kata Syura.
Namun membuat batik membutuhkan sumber daya manusia yang terlatih, modal kerja yang relatif tinggi, sarana dan prasana yang memadai, tekat dan kemauan yang kuat, dan yang tidak kalah penting adalah hadirnya seorang leader yang handal untuk meramu semua potensi yang ada. Itulah alasan kenapa Rumah Batik Nagori menerima pengrajin pemula yang belum pernah membatik dengan syarat mereka siap dan konsisten mengikuti pelatihan yang diberikan.
“Untuk mereka yang rajin dan mau terus belajar akan menuai hasil yang maksimal, tetapi untuk mereka yang ingin mendapatkan nilai besar di awal sementara belum memiliki keahlian, tentu tidak akan terwujud. Sehingga banyak juga yang mengundurkan diri dan mencari pekerjaan dengan pendapatan tetap. Padahal kalau di sini, pendapatan minimal pengrajin itu Rp.3 jutaan. Mereka dibayar sesuai dengan jumlah batik yang mereka kerjakan, dalam 2 hari bisa menyelesaikan 15 lembar batik,” kata Dosen UIN Jurusan Kewirausahaan ini.
Batik Kuansing semakin disukai dan diminati oleh masyarakat Riau bahkan oleh masyarakat di luar Sumatera. Kata Syura, kualitas dan kuantitas produksi masih diakui terbaik oleh konsumen, tak heran permintaan konsumen saat ini 3.000 lembar dalam status inden. Meski harganya tidak murah, ini membuktikan konsumen menghargai karya cipta yang bernilai budaya tinggi yang dituangkan di dalam lembaran kain.
“Harga ini tergantung bahan dan jenis batiknya, harga termurah itu untuk batik cap Rp.225 ribu dengan panjang 225 cm dan lebar 115 cm dan untuk batik tulis Rp575 ribu dengan ukuran yang lebih besar dan bahan semi sutra yang kita pesan dari APR, Pekalongan dan Solo. Dengan 36 pengrajiin saat ini, masih jauh jumlahnya untuk memenuhi daftar tunggu pesanan. Maka dari itu, kami selalu membuka lowongan kerja hingga seratus tenaga kerja untuk di rumah produksi Batik Nagori ini,” kata Syura yang juga sebagai staf Analisis Desa dan Kelurahan di Kantor Camat Gunung Toar.
Tingginya permintaan Batik Jalur Batik Nagori ini, kata Syura, juga tidak terlepas dari dukungan pemerintah Kabupaten Kuansing yang mewajibkan pegawainya mengenakan pakaian dinas harian batik dalam rangka pelestarian budaya identitas dan peningkatan ekonomi daerah dan mengutamakan motif batik Kuansing. Kemudian disusul oleh perusahaan-perusahaan daerah seperti Bank Riau Kepri Syariah dan instansi lainnya.
“Empat motif yang paling best seller itu, Perahu Baganduang, Jalur, Dayung dan Takuluak Barembai yang merupakan motif pakaian tradisi Kenegerian Taluk Kuantan. Dan semua motif batik di karya cipta Rumah Batik Nagori ini sudah didaftarakan ke Kementerian Hukum dan Hak Azazi Manusia serta mempunyai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Kita juga mendapatkan rekomendasi dari Dinas Koperasi Perdagangan UKM dan Industri Kabupaten Kuansing untuk mendaftarkan hak ciptanya,” ujar Syura lagi.
Dibeberkan Syura, pada kegiatan Carnival Lancang Kuning 2024 lalu, Batik Nagori penjualannya mencapai Rp30 juta. Untuk transaksi pembayaran di outletnya menerima melalui QRIS BRK Syariah. Layanan Bank Riau Kepri Syariah sangat dirasakan manfaatnya, apalagi mayoritas pembeli notabenenya merupakan PNS yang tentunya juga nasabah BRK Syariah.
“Awalnya merintis industri batik ini tak sedikit dana pribadi yang dikeluarkannya. Namun karena keseriusan kami menekuni UMKM ini dengan membawa anggotanya mengikuti pelatihan-pelatihan membatik, kini kami dapat merasakan nikmat yang luar biasa. Saya tidak perlu terjun lagi membatik, semua sudah dilakukan oleh pengrajian kita. Mereka kami berikan kepercayaan untuk membatik sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan,” katanya.
Selain bangunan Rumah Industri Batik Nagori, Syura akan membeli ruko di kota Taluk untuk mengembangkan usahanya. Untuk mewujudkan itu, Syura kembali mempercayakan Bank Riau Kepri Syariah sebagai mitra yang tepat untuk mendukungnya. Ia mengajukan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp.500 juta dengan jangka waktu angsuran 5 tahun.
“Batik Nagori kian hari semakin viral, banyak yang datang ingin melihat langsung hasil batik Nagori. InsyaAllah kami akan membuka gerai baru di Taluk untuk memenuhi kebutuhan konsumen, apalagi saat ini selain batik ada usaha Tenun yang juga sedang kami jalankan. Alhamdulillah, kami juga mendirikan TK dan SD IT di Desa ini. Di sini juga saya akan buat tempat ramah anak, yang nantinya dapat dimanfaatkan pengrajin untuk menitipkan anak-anaknya saat sedang bekerja,” tutur Syura.***