Pengajaran dari 'Empat Alam': Refleksi untuk Sahabatku Datuk Panglimo Dalam

I

Isman

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:38 WIB

Pengajaran dari 'Empat Alam': Refleksi untuk Sahabatku Datuk Panglimo Dalam

Oleh : Mardianto Manan 

​RODA kehidupan itu berputar, dan hidup ba-pusiang, gelanggang ba-giliang. Hari ini kita di atas dipuji dan disanjung, esok lusa ketika angin berubah arah, manusia yang dulu berdesak-desak hendak bersalaman, jangankan menyapa, menoleh pun mungkin enggan.

​Kejadian yang menimpa sahabat saya, Datuk Panglimo Dalam Suhardiman Amby, adalah cermin besar bagi kita semua yang pernah atau sedang menggenggam tampuk kekuasaan. Sebagai seorang sahabat, tentu hati ini merasa prihatin. Kita manusia tak pernah luput dari khilaf dan salah. Saat ini, Datuk harus berhadapan dengan proses hukum untuk mempertanggungjawabkan setiap jejak langkah yang telah berlalu. Namun di balik riuh rendah tuduhan dan sorak-sorai mereka yang berbalik arah, pesan saya hanya satu: semoga Datuk tetap tabah, sabar, dan lapang dada menjalani cobaan ini.

​Satu hal yang paling menggelitik hati saya hari ini adalah melihat tingkah pola manusia di sekeliling kekuasaan. Dulu, ketika Datuk masih memegang pimpinan, semua orang sibuk ingin berfoto bersama. Foto itu dipajang di dinding-dinding kehormatan, diunggah ke media sosial dengan caption penuh sanjungan. Para pejabat atau kalangan pencari muka berlomba-lomba mengaku sebagai sahabat dekat, bahkan mengaku badunsanak (bersaudara).
​Namun, begitu badai datang dan Datuk dipanggil oleh aparat penegak hukum, ke mana mereka semua pergi?

​Foto-foto di dinding itu dengan cepat diturunkan. Unggahan di media sosial dihapus tanpa sisa. Bahkan, yang paling tragis, mereka yang dulu menggantungkan hidup dan makan gaji dari kebijakan Datuk, kini justru menjadi orang pertama yang paling lantang menyalahkan.

Laksana menumbuk di lesung, mendelik di cermin—lupa akan budi, sibuk menyelamatkan muka sendiri. Dulu sewaktu saya reses sebagai anggota DPRD Provinsi Riau pun, ada pejabat lokal yang takut bukan main hanya untuk sekadar memberi izin tempat reses di kampungnya, takut Datuk tersinggung hanya karena beda perahu politik. Sekarang, ketika Datuk dalam kesusahan, mereka beramai-ramai mengaku "tak pernah dekat" dengan Suhardiman.

​Fenomena ini mengingatkan saya pada nasehat mendalam dari seorang abang di kampung saya, Pangean. Beliau seorang petani biasa dari Dusun 3 Pasir Putiah Pulau Tengah, namanya Bang Buyung Begab. Petuah beliau sewaktu saya hendak dilantik dan menjelang purna tugas dari DPRD Riau terus saya pegang teguh hingga hari ini. Beliau menyampaikan petuah ilmiah bertema "Empat Jenis Alam":

​Alam Burung: Salobek-lobek buah kayu aro, sagalonyo burung inggok situ ma. Tapi cincirak tak numpang makan ro, inyo hanyo golak kasitu karena buah kayu aro ru tak suai ka muncuangnyo. Tapi kalaulah nyo tak babuah le ro, jaan ken cincirak, punai nen biasa lobo makanpun tak datang lagi do.
Itulah gambaran manusia yang mengerumuni kita saat kita 'babuah' (berkuasa). Begitu pohon itu tak berbuah lagi, seekor burung pun tak akan hinggap.

​Alam Ikan: Ketika ayiar dalam, ko sampai ka pangkal pandakian koto, lawuak cari makan. Tapi sa senti ayiar manjojak suruik, enyo mancari lubuak le ma. Tak kan ado tangkok situ le ro.

Ini persis tabiat orang politik dan pemburu jabatan. Air pasang mereka mendekat, air surut sedikit saja mereka cepat-cepat lari menyelamatkan diri ke tempat yang aman.

​Alam Hewan: Tabukak pintu kandang, langsung mandudu jo makannyo. Tak peduli butan siapa, nen pontiang badan gopuak.

Menggambarkan karakter yang tak peduli etika dan asal-usul, yang penting syahwat kekuasaan dan perutnya terisi.

​Alam Manusio: Hidup ba-inggo, ba-bate, ba-kotak, ba-rue. Obe halal horam dek inyo.

Inilah tingkatan tertinggi. Manusia yang tahu batas, tahu mana yang patut dan tidak patut, serta sadar betul akan hukum halal dan haram.

​Orang Melayu Kuantan sudah lama mengingatkan kita lewat peribahasa: "Kalu tak ado berada, takkanlah tempua bersarang rendah." Orang mendekat karena ada mau dan keuntungannya. Bila manfaat itu hilang, lenyap pulalah muka-muka tersenyum yang pernah mengelilingi kita.

​Oleh karena itu, dalam berpolitik maupun menjalani hidup, cukuplah kita memakai Alam Manusio. Jangan sampai kita terbawa oleh sifat alam burung, alam ikan, atau alam hewan. Karena pada akhirnya, jabatan akan tanggal, kekuasaan akan habis, dan yang tersisa hanyalah harga diri serta pertanggungjawaban kita di hadapan Sang Pencipta.

​Untuk Datuk Panglimo Dalam Suhardiman Amby sahabatku, hadapilah ujian ini dengan tegak dan sabar. Anggaplah ini pembersih diri dan pengingat dari Tuhan. Orang boleh menjauh, foto boleh diturunkan, tapi ujian ini adalah momen untuk melihat siapa yang benar-benar kawan dan siapa yang sekadar penikmat umpan.

​Hati-hati melangkah di jalan yang licin, elok-elok memegang kemudi di tengah badai. Sabar ya, Datuk. Semoga Allah SWT memberikan ketabahan dan jalan terbaik dalam menghadapi cobaan ini.***

(Mardianto Manan. Penulis; Sahabat Datuk Panglimo Dalam Suhardiman Amby)