Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA
PERPUSTAKAAN tidak hanya sekedar tumpukan buku dan dokumen. Perpustakaan dapat berfungsi sebagai pusat penelitian dan pusat kajian yang strategis dalam memberikan solusi dalam membangun peradaban. Salah satu perpustakaan yang cukup dikenal di Malaysia khususnya di Universiti Kebangsaan Malaysia adalah Perpustakaan Tun Seri Lanang atau yang disingkat dengan PTSL. Bagi yang pernah berkunjung ke PTSL tentu dapat merasakan suasana yang menyenamgkan dan menjadi tempat untuk merenung dan mengkaji dengan berbagai macam jenis buku dan jurnal.
Perpustakaan Tun Seri Lanang yang terletak di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi Selangor merupakan bangunan perpustakaan yang cukup luas dan berdiri pada tahun 1976 yang juga merupakan salah satu perpustakaan terbesar di Asia Tenggara, selain dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. PTSL memiliki luas lebih kurang 280,000 meter persegi. Perpustakaan tersebut memiliki ruang bacaan dengan keseluruhannya bisa menampung 3000 orang. Di setiap sudut perpustakaan Tun Seri Lanang menyediakan buku, jurnal maupun laporan mingguan dari yang berbahasa melayu hingga berbahasa Inggris.
Banyak aktivitas yang dilakukan di perpustakaan seperti halnya di PTSL. Penulis dalam beberapa pengalaman sering menggunakan perpustakaan TSL untuk melakukan penelitian dan sekaligus mencari literature dalam menyelesaikan Tesis. Dengan fasilitas kemudahan yang ada di perpustakaan tersebut, tentu ini menjadi hal yang sangat membantu dalam menyelesaikan setiap tugas yang dilakukan. Bagi penulis perpustakaan tidak saja tempat untuk mencari bahan bacaan, namun juga dapat dimanfaatkan untuk tempat berdiskusi maupun tempat untuk mencari referensi yang diberikan oleh pembimbing dalam penyelesaian tugas tesis. Penelitian di perpustakaan bisa dilakukan berupa penelitian sosial, ekonomi, politik dan keamanan regional serta wilayah perbatasan antar negara.
Penelitian the SEASREP
Beberapa penelian bisa dilakukan dengan merujuk dari beberapa buku dan jurnal. Salah satunya adalah the SEASREP yang merupakan penelitian untuk kajian-kajian di Asia Tenggara. The SEASREP telah memberikan sumbahsih khususnya di kawasan Asia Tenggara. Kajian strategis yang independen salah satunya “The SEASREP Foundation”. The SEASREP merupakan suatu lembaga yang memberikan kontribusi besar dalam kajian-kajian di kawasan Asia Tenggara (komunitas ASEAN). Lembaga ini melibatkan beberapa peneliti yang selalu memberikan solusi dan pemikiran khususnya yang berhubungan dengan masalah-masalah yang terjadi di kawasan Asia Tenggara.
The SEASREP Foundation menjadi lembaga kajian atau think tank yang sudah cukup lama melakukan kajian dan saling tukar informasi sesama peneliti terhadap masalah-masalah yang terjadi di kawasan Asia Tenggara. The SEASREP (Southeast Asian Studies Regional Exchange Program) berdiri pada tahun 1994 yang dikenal sebagai pusat kajian di kawasan Asia Tenggara. Sekretariat penuh the SEASREP berkedudukan di Manila, Philipina yang hingga saat ini telah banyak melakukan penelitian (research) di kawasan Asia Tenggara. The SEASREP sejak didirikan tahun 1994 telah menjadi pusat penelitian di kawasan Asia Tenggara. Sebagai pusat kajian, The SEASREP juga merupakan program pertukaran oleh para peneliti-peneliti di kawasan Asia Tenggara yang mengkaji persoalan-persoalan sosial politik khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Sejak berdirinya, The SEASREP telah memiliki empat program atau kajian yang dibiayai oleh lembaga donor (Funding) diantaranya pertama; pelatihan mengenai bahasa, kedua; program Master dan Doctor, ketiga; pertukaran profesor dalam hal kajian-kajian di kawasan Asia Tenggara. dan keempat adalah kerjasama dengan melibatkan seluruh peneliti-peneliti yang ada di kawasan Asia Tenggara (Collaborative Research). Oleh sebab itu, lembaga penelitian seperti halnya the SEASREP telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam penelitian khususnya di kawasan Asia Tenggara.***
(Hasrul Sani Siregar, MA. Penulis; Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM, Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau)