KAMPAR, AmiraRiau.com – Kabupaten Kampar kembali menunjukkan jati dirinya sebagai pusat peradaban Melayu yang religius melalui perayaan Hari Rayo Onam (Hari Raya Enam) pada Sabtu, 28 Maret 2026. Tradisi yang dilaksanakan setiap 8 Syawal ini menjadi momen paling dinanti, bahkan melebihi euforia Idulfitri bagi masyarakat Bangkinang dan sekitarnya.
Rangkaian acara diawali dengan Festival Lomang di Desa Pulau Lawas pada Jumat (27/3/2026) dan memuncak pada prosesi ziarah kubur massal yang diikuti oleh ribuan warga, termasuk para perantau yang pulang kampung.
Bupati Kampar, H. Ahmad Yuzar, S.Sos., MT, memimpin langsung rombongan ziarah yang dimulai sejak pukul 06.30 WIB dari Pemakaman Musiro, Kampung Godang. Didampingi Sekda Riau Syahrial Abdi, Pj Sekda Kampar Ardi Mardiansyah, serta Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho, rombongan berjalan kaki mengunjungi sedikitnya 15 lokasi pemakaman di Kecamatan Bangkinang.
"Ayo Onam adalah kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang kita. Ini bukan hanya adat, tapi memiliki dasar agama yang kuat berdasarkan sunnah puasa enam hari di bulan Syawal," ungkap Bupati Ahmad Yuzar saat membuka Festival Lomang.

Hari Raya Enam atau yang dikenal dengan Hari Raya Ziarah (Ayo Zora) memiliki makna khusus bagi masyarakat Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar.
Bupati Kampar, Ahmad Yuzar, menyampaikan bahwa tradisi ini terus dijaga sejak masa kecilnya hingga tahun 2026. Perayaan ini dilakukan setiap tanggal 8 Syawal, seminggu setelah Idulfitri.
“Berbicara tentang Hari Raya Onam, ingatan kita langsung tertuju ke Kecamatan Bangkinang Lama, satu-satunya daerah di Riau yang merayakan hari raya enam hari setelah puasa Ramadan,” ungkap Bupati Ahmad Yuzar saat membuka Festival Lomang Ayo Onam di depan Kantor Desa Pulau Lawas, Jumat (27/3/2026).
Bupati yang lahir dan besar di Bangkinang ini menekankan bahwa Ayo Onam merupakan kearifan lokal yang diwariskan nenek-moyang mereka.
“Saya lahir di sini, tiga rumah dari kantor desa ini. Tradisi ini bukan hanya adat, tapi juga memiliki dasar agama yang kuat,” ujarnya sambil bernostalgia.

Bupati Ahmad Yuzar, menjelaskan puasa enam hari setelah Ramadan berlandaskan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshari:
“Barang siapa berpuasa Ramadan, kemudian mengikutkannya enam hari dari bulan Syawal, maka seperti puasa satu tahun.”
Menurut Bupati, masyarakat Bangkinang memaknai puasa enam hari ini secara berurutan dan merayakannya sebagai Hari Raya Enam. Tradisi ini menjadi momen penting untuk mengumpulkan masyarakat, termasuk warga yang merantau.
“Uniknya, Ayo Onam kini juga menjadi kalender pariwisata Kabupaten Kampar. Tradisi ini lestari dan menjadi wadah silaturahmi bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang tidak pulang saat Idulfitri,” tambah Bupati.
Sekda Riau, Syahrial Abdi, yang mewakili Gubernur Riau, menambahkan bahwa ziarah kubur ini adalah pengingat hakiki bagi setiap manusia.
"Momentum ini adalah bentuk jalinan silaturahmi sekaligus pengingat bahwa kita semua akan kembali kepada Sang Khaliq," tuturnya.
Kehadiran Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, memberikan warna tersendiri dalam perayaan tahun ini. Ia menegaskan bahwa secara historis dan emosional, Pekanbaru dan Kampar tidak dapat dipisahkan.
"Belum lengkap Idulfitri jika tidak menghadiri Raya Onam. Tiga perempat warga Pekanbaru adalah masyarakat Kampar. Kami hadir untuk memperkuat persaudaraan ini," ujar Agung Nugroho yang juga memberikan sumbangan pribadi sebesar Rp 20 juta untuk pembangunan Masjid Mujahidin.
Puncak acara ditutup dengan shalat berjamaah dan Makan Bajambau (makan bersama) di Masjid Mujahidin, Desa Muara Uwai. Tradisi makan bersama ini menjadi simbol kekompakan dan kesolidan masyarakat dalam membangun kehidupan sosial.
Tokoh masyarakat Bangkinang, H. Zainal Abidin, menyatakan rasa syukurnya atas kelestarian tradisi ini.
"Semangat Ayo Onam luar biasa. Alhamdulillah, kita semua dapat berkumpul dan silaturahmi ini harus terus kita kuatkan," pungkasnya.(ADV)***
Penulis: Ali Akbar