Oleh: Mardianto Manan
HARI raya Idul Adha tahun ini datang dalam suasana yang pelik. Dolar menari-nari naik seperti layangan putus. Harga minyak dunia melambung gara-gara perang Iran dan Timur Tengah. Rupiah sempat tembus di atas Rp17 ribu per dolar AS dan jadi perbincangan nasional.
Rakyat mulai cemas. Minyak antri. Harga barang ikut menegang urat. Plastik pun naik harga. Memang plastik ini aneh. Sifatnya saja sudah molor dan meregang, rupanya harga dia pun ikut meregang tak mau turun-turun.
Kadang kita tertawa sendiri melihat keadaan negeri ini. Angka dolar hampir masuk ke angka “keramat” 17.845. Persis tanggal kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Bedanya dulu bangsa ini merdeka melawan penjajah, sekarang rakyat malah dijajah harga sembako dan antrean BBM.
Di negeri penghasil minyak seperti Riau, masyarakat malah antri minyak dari subuh. Ini ibarat ayam mati di lumbung padi. Tangki minyak berdiri gagah, tapi rakyat di bawahnya memegang jerigen sambil memandang kosong ke langit.
Lucunya lagi, ketika rakyat sibuk menghitung liter minyak, elite daerah malah sibuk menghitung pasal dan dakwaan. Pemerintahan seperti kehilangan fokus. Baru dilantik, belum panas kursi gubernur, eh sudah masuk ring pengadilan resmi. Kalau biasanya kepala daerah turun ke lapangan melihat jalan rusak, sekarang malah turun ke ruang sidang melihat hakim.
Alamak… beginikah nadi Riau hari ini?
Namun justru di sinilah makna Idul Adha menjadi sangat penting.
Qurban bukan sekadar menyembelih sapi lalu selfie dekat tanduk. Qurban adalah pelajaran tentang keikhlasan memotong ego, kerakusan, kesombongan, dan nafsu kekuasaan.
Nabi Ibrahim diuji bukan karena miskin. Tapi karena terlalu mencintai sesuatu sampai lupa bahwa semua hanya titipan.
Hari ini bangsa kita juga diuji. Tapi yang dikorbankan jangan lagi rakyat kecil terus. Jangan rakyat yang disuruh hemat, sementara pejabat hidupnya tetap seperti prasmanan hotel berbintang.
Mungkin Idul Adha tahun ini sedang mengajari pemimpin: potonglah kerakusan sebelum rakyat memotong kepercayaan.
Sebab yang sedang langka hari ini bukan hanya minyak. Tapi juga rasa percaya rakyat kepada pengelola negeri.
Rakyat sudah capek mendengar pidato optimistis sementara harga terus naik. Sudah lelah melihat baliho senyum pejabat, tapi jalan rusak dan BBM kosong. Sudah penat melihat elite saling menyalahkan, sementara dapur rakyat mulai mengecilkan api.
Qurban mengajarkan bahwa pemimpin sejati harus siap kehilangan kenyamanan demi rakyatnya. Bukan malah rakyat yang terus diminta memahami keadaan.
Kalau sapi qurban saja rela rebah demi kemaslahatan banyak orang, masa pejabat tak rela turun sedikit dari kemewahan?
Riau hari ini sebenarnya tidak kekurangan uang. Tidak kekurangan minyak. Tidak kekurangan sawit. Yang kurang mungkin rasa malu.
Maka Idul Adha ini mestinya jadi momentum membersihkan diri. Pemerintah pusat jangan sibuk pencitraan angka makro sementara rakyat sibuk antre mikro. Pemerintah daerah jangan sibuk drama politik sementara rakyat sibuk cari nafkah.
Karena sesungguhnya rakyat tidak minta banyak.
Mereka hanya ingin: minyak ada, harga stabil, pemimpin tenang, dan masa depan tidak terasa seperti plastik yang terus meregang tanpa batas.
Kalau tidak, nanti rakyat makin bingung membedakan mana Idul Adha, mana film survival ekonomi.
Dan akhirnya kita semua cuma bisa tertawa pahit sambil berkata:
“Negeri ini kaya raya, tapi rakyatnya masih rebutan minyak seperti rebutan kupon doorprize. Alamak nasiblah rakyat kecil semakin menggigil...***
(Mardianto Manan. Penulis; Dosen Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota UIR)