Ketika Cahaya Mengusik Kegelapan

I

Isman

Jumat, 07 Agustus 2026 | 19:03 WIB

Ketika Cahaya Mengusik Kegelapan

Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.

TIDAK semua luka lahir karena kita bersalah. Tidak semua pengkhianatan merupakan bukti bahwa kita gagal menjadi manusia yang baik. Ada kalanya, luka justru menjadi harga yang harus dibayar oleh mereka yang memilih tetap jujur ketika orang lain berdamai dengan kepalsuan, tetap ikhlas ketika yang lain sibuk menghitung keuntungan, dan tetap menebarkan cahaya ketika sebagian orang merasa nyaman hidup dalam gelap.

Namun, kita juga perlu bersikap jujur kepada diri sendiri. Tidak setiap orang yang disakiti otomatis adalah orang paling baik, dan tidak setiap penentang didorong oleh iri dengki. Islam mengajarkan muhasabah sebelum menyimpulkan keadaan. Akan tetapi, sejarah para nabi dan orang-orang saleh menunjukkan bahwa kebaikan memang sering mengundang ujian, termasuk berupa kebencian, fitnah, dan pengkhianatan.

Inilah paradoks kehidupan. Cahaya tidak pernah bertengkar dengan kegelapan, tetapi kehadirannya membuat kegelapan kehilangan ruang.

Allah SWT berfirman:"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka belum diuji?" (Q.S. Al-'Ankabut [29]: 2).

Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah konsekuensi iman, bukan tanda kebencian Allah. Semakin tinggi nilai yang diemban seseorang, semakin besar pula tanggung jawab dan ujiannya.

Sejarah manusia dimulai dengan sebuah tragedi yang dipicu oleh iri hati. Qabil membunuh saudaranya, Habil, bukan karena Habil berbuat zalim, melainkan karena amal Habil diterima Allah, sedangkan amal Qabil ditolak.

Allah berfirman:"Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa." (Q S. Al-Ma'idah [5]: 27).

Kisah ini mengajarkan bahwa kebencian sering kali bukan lahir dari kesalahan orang lain, melainkan dari ketidakmampuan seseorang menerima kenyataan bahwa orang lain memiliki kelebihan.

Secara psikologis, iri muncul ketika seseorang lebih sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain daripada memperbaiki dirinya sendiri. Energi yang seharusnya dipakai untuk bertumbuh justru habis untuk menjatuhkan orang lain.

Sebuah lilin tidak pernah berteriak bahwa ia sedang menerangi ruangan. Ia hanya menyala. Namun justru karena nyalanya itulah semua mata tertuju kepadanya.

Demikian pula orang yang berusaha menjaga kejujuran, amanah, dan integritas. Kehadirannya sering menjadi cermin bagi orang-orang yang enggan memperbaiki diri. Bukan karena cahaya itu menyerang, tetapi karena cahaya membuat noda menjadi tampak.

Al-Qur'an menggambarkan kenyataan ini:"Katakanlah, 'Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.'" (QS. Al-Isra' [17]: 81).

Kebenaran tidak perlu berteriak. Ia cukup hadir, dan kehadirannya sering membuat kebatilan merasa terusik.

Luka yang paling dalam bukan berasal dari musuh, tetapi dari orang yang pernah kita percaya.

Nabi Yusuf "alaihissalam" dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri. Nabi Muhammad SAW disakiti oleh kaumnya sendiri. Bahkan dalam perjalanan dakwah, beliau menghadapi cercaan, pemboikotan, dan pengkhianatan dari orang-orang yang mengenalnya sejak kecil.

Karena itu, jangan heran apabila pengkhianatan kadang datang dari lingkaran terdekat. Kedekatan memberi ruang bagi kepercayaan, dan kepercayaan selalu mengandung risiko.

Namun Islam tidak mengajarkan dendam. Allah berfirman:"...Maka maafkanlah mereka dan berlapang dadalah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. Al-Ma'idah [5]: 13).

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan adalah membebaskan hati agar tidak ikut menjadi gelap.

Rasulullah SAW bersabda:"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya."
(H.R. Muslim).

Hadis ini mengubah cara pandang kita terhadap luka. Musibah bukan sekadar penderitaan, tetapi juga ruang pembentukan karakter.

Orang besar tidak lahir dari hidup yang selalu nyaman, melainkan dari kemampuan mengubah luka menjadi hikmah, fitnah menjadi pelajaran, dan pengkhianatan menjadi kedewasaan.

Menjadi baik bukan berarti membiarkan diri terus-menerus dimanfaatkan. Islam mengajarkan kasih sayang sekaligus kebijaksanaan. Memaafkan tidak berarti kehilangan kehati-hatian. Berprasangka baik tidak berarti menutup mata terhadap kenyataan.

Kebaikan harus berjalan bersama kebijaksanaan, dan kelembutan harus disertai ketegasan.

Rasulullah SAW bersabda:"Orang mukmin tidak akan disengat dari satu lubang yang sama dua kali." (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

Artinya, seorang mukmin belajar dari pengalaman tanpa kehilangan sifat pemaafnya.

Matahari tidak pernah sibuk memusuhi malam. Ia hanya terus terbit. Begitu pula orang yang beriman. Ia tidak menghabiskan hidup untuk membalas kebencian, melainkan terus menyalakan manfaat.

Allah SWT berfirman:"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (Q.S. Fussilat [41]: 34).

Inilah puncak akhlak Islam. Membalas keburukan dengan keburukan hanya melahirkan lingkaran dendam. Membalas keburukan dengan kebaikan membuka peluang lahirnya hidayah.

Barangkali hari ini ada yang melukaimu, memfitnahmu, atau mengkhianati kepercayaanmu. Jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa semua itu bukti kemuliaanmu, tetapi jangan pula langsung menganggapnya sebagai tanda bahwa Allah meninggalkanmu. Jadikan setiap ujian sebagai kesempatan untuk bermuhasabah, memperbaiki diri, dan menguatkan hati.

Jika setelah evaluasi diri engkau tetap berada di jalan yang benar, maka jangan biarkan kebencian orang lain memadamkan cahaya yang Allah titipkan kepadamu.

Sebab cahaya memang tidak pernah berisik. Ia hanya terus bersinar.

Dan ketika cahaya mengusik kegelapan, yang sesungguhnya sedang terjadi bukanlah cahaya menjadi lebih kecil, melainkan kegelapan yang mulai kehilangan kuasanya.

(Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Ketua PD PERSIS Kota Pekanbaru dan Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Provinsi Riau)