Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA
TEPAT tanggal 8 Desember 2024 merupakan peristiwa jatuhnya rezim Bashar al-Assad oleh pihak militan di Suriah yaitu kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) pimpinan Abu Mohammed Al Julani. Dan tepat tanggal 8 Desember 2025 lalu satu tahun kejatuhan rezim Bashar al-Assad. Lebih kurang 50 tahun rezim Assad berkuasa yang dimulai dengan Presiden Hafez al-Assad, bapaknya Bashar al-Assad yang berkuasa sejak tahun 1971. Bashar al-Assad sendiri sudah berkuasa sejak tahun 2000 hingga kejatuhan rezimnya yang diawali dengan musim semi arab tahun 2011 hingga perang saudara yaitu lebih kurang 14 tahun. Jatuhnya kota Damaskus menandai berakhirnya kekuasaan Bashar al-Assad dan juga menandai terjadinya perubahan di kawasan timur tengah khususnya yang dikenal dengan “The Arab Spring”.
Serangkaian protes dan demonstrasi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang dimulai dari Tunisia pada musim semi tahun 2011 yang kemudian diikuti oleh Mesir, Libya dan terakhir Suriah. “The Arab Spring” merupakan kekacauan politik dan pemberontakan terhadap pemerintah yang menimbulkan kekacauan sosial, ekonomi dan politik. Dengan jatuhnya rezim Bashar al-Assad, tentunya mempengaruhi konstelasi politik yang tidak hanya di dalam negeri Suriah sendiri, juga dampaknya terhadap negara-negara yang selama ini mendukung Bashar al-Assad khususnya Iran, China dan Rusia yang sejak dulu mendukung pemerintahan Bashar al-Assad.
Bashar al-Assad sendiri telah berkuasa selama lebih kurang 24 tahun sejak tahun 2000. Jatuhnya Damaskus ke tangan kelompok militan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) telah menandai perubahan konstelasi politik khususnya di kawasan timur tengah dan hubungan mitra strategisnya dengan Rusia, China dan Iran. Bashar al-Assad dapat melarikan diri ke Rusia melalui pangkalan militer Rusia di Damaskus yang tentu saja mendapat dukungan dari Presiden Rusia Vradimir Putin. Rusia memiliki pengaruh yang sangat kuat baik politik dan militer di Suriah. Beberapa pangkalan militer Rusia berada di Suriah. Faktor kemanusiaan menjadi alasan mengapa Rusia memberikan suaka politik kepada Bashar al-Assad. Tentu tidak hanya faktor kemanusiaan saja, hubungan yang sudah terjalin lama semenjak Uni Sovyet hingga digantikan oleh Rusia.
Setahun sudah Suriah memiliki Presiden sementara yaitu Ahmad al-Sharaa yang hingga kini masih di hadapkan dalam konflik saudara yaitu antara pasukan pemerintah yang baru dan kelompok lain di berbagai wilayah seperti kelompok Kurdi yang diperangi juga oleh Turki dan Druze yang didukung oleh Israel serta kelompok sisa sisa pendukung Bashar al-Assad dan kelompok ISIS. Dibawah kepemimpinan sementara Presiden Ahmad al-Sharaa, Suriah telah membuka lembaran baru yaitu hubungan dengan Amerika Serikat dan juga negara-negara yang memusuhi Suriah sebelumnya. Momentum tersebut diantaranya menghapus kelompok Hayat Tahrir al-Sham yang berafiliasi dengan Al-Qaeda sebagai kelompok teroris dan nama Ahmed al-Sharaa Presiden Suriah sementara dikeluarkan dari kelompok teroris tersebut. Tentu hubungan antara Suriah dan Amerika Serikat akan membuka lembaran baru yang selama pemerintahan Bashar al-Assad, Amerika Serikat dan Israel menjadi musuh Suriah dan lebih dekat ke Iran, China dan Rusia.
Kunjungan Ahmed al-Sharaa ke Amerika Serikat baru-baru ini dan berjumpa Presiden Donald Trump adalah kunjungan pertama kali presiden Suriah sejak merdeka 79 tahun yang lalu. Dan ini kunjungan pertama kali Presiden Suriah ke Amerika Serikat. Suriah telah membangun dengan komunitas internasional khususnya dalam diplomasi dan kerjasama internasional. Suriah juga menjalin komunikasi dengan seluruh anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) termasuk Rusia dan Cina yang dulu mendukung rezim Bashar al-Assad dari upaya pemberontakan yang ingin menjatuhkan kekuasaannya. Presidan sementara Suriah Ahmad Al-Sharaa, berpidato di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan menjadi pemimpin Suriah pertama yang mengunjungi Gedung Putih sejak 17 April 1946 yang mana pada tahun 1946 merupakan tahun kemerdekaan Suriah dari Prancis.***
(Hasrul Sani Siregar, MA. Penulis; Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM, Bangi Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau)