Social Perfectionism: Sumber Penderitaan Batin

I

Isman

Rabu, 06 Mei 2026 | 09:48 WIB

Social Perfectionism: Sumber Penderitaan Batin

Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.

DALAM percakapan publik, penderitaan kerap direduksi pada dua hal, yaitu ketiadaan materi dan buruknya kesehatan. Padahal, pengalaman manusia jauh lebih kompleks. Di tengah kemajuan ekonomi dan medis, banyak orang tetap merasa gelisah, cemas, bahkan hampa. Di sinilah psikologi modern memberi diagnosis yang lebih halus, yaitu salah satu sumber penderitaan terbesar justru berasal dari dorongan untuk selalu tampak “sempurna” di hadapan orang lain yang merupakan sebuah kondisi yang dikenal sebagai social perfectionism, sebagaimana dijelaskan oleh Paul L. Hewitt dan Gordon Flett, serta dikembangkan dalam kajian kontemporer oleh Profesor Rory O'Connor.

Social perfectionism adalah kondisi ketika seseorang merasa harus selalu memenuhi ekspektasi sosial yang tinggi, takut dikritik, dan terobsesi dengan bagaimana orang lain memandang dirinya. Ia bukan sekadar ingin menjadi baik, tetapi ingin dianggap baik oleh semua orang. Akibatnya, hidup berubah menjadi panggung tanpa jeda, dan diri menjadi aktor yang lelah memainkan peran yang tak pernah selesai.

Fenomena ini berkaitan erat dengan kecemasan sosial, depresi, bahkan kelelahan mental (burnout). Individu yang terjebak di dalamnya cenderung overthinking, mudah tersinggung terhadap kritik, dan kehilangan keaslian diri. 

Dalam bahasa sederhana: ia hidup bukan untuk menjadi dirinya, tetapi untuk memenuhi bayangan orang lain tentang dirinya.

Dalam perspektif sosiologis, social perfectionism tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh subur dalam masyarakat yang semakin menilai manusia berdasarkan citra, bukan substansi. Era media sosial memperkuat fenomena ini: kehidupan dipoles, kegagalan disembunyikan, dan standar “kesempurnaan” diproduksi secara massal.

Akibatnya, individu terus-menerus membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis. Ia merasa harus selalu “cukup” di mata orang lain—cukup sukses, cukup baik, cukup religius, bahkan cukup bahagia. Tekanan ini melahirkan kegelisahan kolektif yang sering tak disadari.

Menariknya, jauh sebelum psikologi modern mengidentifikasi fenomena ini, tradisi intelektual Islam telah memberikan peringatan yang sangat mendalam. Imam Syafi'i pernah mengungkapkan:

إِنَّ رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ

“Sesungguhnya keridaan manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah bisa dicapai.”

Ungkapan ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi juga analisis psikologis yang tajam. Manusia memiliki preferensi, kepentingan, dan perspektif yang beragam. Maka, menjadikan keridaan manusia sebagai tujuan hidup adalah proyek yang sejak awal mustahil.

Dalam sejarah pemikiran Islam, sikap zuhud sosial—tidak bergantung pada penilaian manusia—dipandang sebagai jalan menuju kebebasan batin. Bukan berarti anti-sosial, melainkan menempatkan penilaian manusia pada proporsinya.

Secara filosofis, social perfectionism menyentuh pertanyaan mendasar: apakah nilai diri ditentukan oleh apa yang kita ada, atau oleh apa yang orang lain anggap? Jika yang kedua, maka identitas manusia menjadi rapuh, karena bergantung pada sesuatu yang eksternal dan tidak stabil.

Filsafat eksistensial mengajarkan bahwa manusia otentik adalah mereka yang berani menjadi diri sendiri, bukan sekadar refleksi dari ekspektasi sosial. Ketika seseorang terus-menerus mengejar validasi eksternal, ia kehilangan otonomi eksistensialnya.

Dalam perspektif religius, solusi terhadap penderitaan ini adalah mengembalikan orientasi hidup dari “ridha manusia” kepada “ridha Allah”. Ketika standar penilaian berpindah dari manusia yang terbatas kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui, beban psikologis menjadi lebih ringan.

Ridha Allah tidak diukur dari kesempurnaan citra, tetapi dari keikhlasan niat dan kesungguhan usaha. Ini memberikan ruang bagi manusia untuk menjadi autentik, menerima keterbatasan, dan tetap bermakna tanpa harus sempurna di mata semua orang.

Melepaskan diri dari social perfectionism bukan berarti menjadi acuh terhadap orang lain, tetapi menata ulang prioritas. Beberapa langkah reflektif dapat ditempuh:
- Membedakan antara kritik konstruktif dan penilaian subjektif;
- Mengurangi ketergantungan pada validasi eksternal;
- Melatih penerimaan diri (self-acceptance).

Kebebasan batin lahir ketika seseorang tidak lagi hidup untuk memenuhi semua ekspektasi orang lain, tetapi hidup dengan integritas terhadap nilai yang diyakininya.

Penderitaan terbesar manusia sering kali bukan karena kekurangan materi atau lemahnya fisik, melainkan karena tekanan batin untuk selalu terlihat sempurna di mata orang lain. Social perfectionism adalah jebakan halus yang membuat manusia kehilangan dirinya sendiri.

Di tengah kompleksitas dunia modern, hikmah klasik tetap relevan bahwa keridaan manusia adalah tujuan yang tak akan pernah tercapai. Maka, kebijaksanaan sejati adalah berhenti mengejarnya dan mulai menemukan makna dalam kejujuran diri serta kedekatan dengan Yang Maha Menilai.***

(Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Dai, Akademisi, Pemerhati Pendidikan Karakter dan Kebijakan Publik)