Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
DI setiap zaman, manusia tidak pernah lepas dari ujian. Ada yang diuji dengan kehilangan orang tercinta, kesempitan rezeki, kegagalan, sakit, tekanan pekerjaan, maupun berbagai persoalan yang membuat dada terasa sesak. Ketika semua pintu seakan tertutup, manusia biasanya mencari sandaran ke mana-mana. Padahal, Al-Qur'an telah mengajarkan bahwa pertolongan pertama yang harus dicari seorang mukmin bukanlah kepada makhluk, melainkan kepada Allah SWT melalui kesabaran dan shalat (isti'anah).
Allah SWT berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (Q.S. Al-Baqarah [2]: 45).
Ayat ini merupakan prinsip agung dalam membangun ketangguhan hidup. Allah tidak memerintahkan hamba-Nya untuk lari dari persoalan, tetapi menghadapinya dengan dua bekal utama: kesabaran dan shalat. Sabar menjaga hati agar tidak putus asa, sedangkan shalat menghubungkan hati dengan sumber segala kekuatan, yaitu Allah Yang Mahaperkasa.
Keteladanan Rasulullah SAW menjadi penjelasan paling nyata terhadap ayat tersebut. Dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud disebutkan:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ فَزِعَ إِلَى الصَّلَاةِ
"Apabila Rasulullah SAW menghadapi suatu urusan yang berat, beliau segera melaksanakan shalat."
Hadis ini mengajarkan bahwa shalat bukanlah pilihan terakhir setelah seluruh ikhtiar gagal. Sebaliknya, shalat adalah langkah pertama seorang mukmin untuk memohon petunjuk, ketenangan, dan pertolongan Allah sebelum melangkah menyelesaikan persoalan.
Jejak yang sama diwariskan oleh para sahabat. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, ketika sedang dalam perjalanan menerima kabar wafatnya putri tercinta, beliau mengucapkan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali." (Q.S. Al-Baqarah: 156).
Beliau kemudian turun dari kendaraannya, menunaikan shalat dua rakaat, lalu kembali melanjutkan perjalanan sambil membaca firman Allah pada Q.S. Al-Baqarah ayat 45. Sikap ini menunjukkan bahwa generasi terbaik umat Islam menjadikan shalat sebagai tempat berlabuh ketika badai kehidupan datang menerpa.
Dari sudut pandang psikologi modern, shalat yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental. Ia membantu menurunkan tingkat stres, mengendalikan kecemasan, meningkatkan ketenangan batin, serta memperkuat resilience atau daya lenting dalam menghadapi tekanan hidup. Namun, bagi seorang mukmin, manfaat shalat tidak berhenti pada aspek psikologis. Shalat adalah ibadah yang menghadirkan pertolongan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT.
Ironisnya, ketika menghadapi masalah, tidak sedikit orang yang justru menjauh dari sajadah. Mereka sibuk mencari solusi ke berbagai arah, tetapi lupa mengetuk pintu langit. Padahal, kekuatan seorang mukmin bukan terletak pada besarnya kemampuan dirinya, melainkan pada kokohnya hubungan dengan Rabb semesta alam.
Shalat juga mendidik manusia menjadi pribadi yang rendah hati. Saat dahi menyentuh bumi, seluruh kesombongan runtuh. Jabatan, kekayaan, kepintaran, dan kedudukan tidak lagi memiliki arti di hadapan Allah. Yang tersisa hanyalah pengakuan bahwa manusia adalah hamba yang lemah dan Allah adalah satu-satunya tempat bergantung.
Karena itu, ketika menghadapi kesulitan ekonomi, konflik keluarga, tekanan pekerjaan, kehilangan orang yang dicintai, atau keputusan besar dalam hidup, biasakanlah mengambil wudu, kemudian menunaikan shalat dua rakaat dengan penuh kekhusyukan. Sampaikan segala keluh kesah kepada Allah, iringi dengan doa, lalu lanjutkan ikhtiar dengan penuh tawakal. Shalat bukan pengganti usaha, melainkan sumber kekuatan yang menyempurnakan setiap usaha.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kehilangan ruang untuk berdialog dengan Tuhannya. Akibatnya, kegelisahan semakin mudah menguasai hati. Padahal, ketenangan sejati tidak lahir dari banyaknya harta atau tingginya jabatan, tetapi dari kedekatan dengan Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28).
Ukuran seorang mukmin bukanlah seberapa sedikit masalah yang ia hadapi, melainkan kepada siapa ia bersandar ketika masalah itu datang. Rasulullah SAW telah memberi teladan, para sahabat telah mempraktikkannya, dan Al-Qur'an telah menunjukkan jalannya. Maka, ketika duka menyelimuti jiwa dan beban terasa begitu berat, jangan biarkan hati tenggelam dalam keputusasaan. Bentangkan sajadah, tegakkan shalat, dan bersujudlah dengan penuh keikhlasan. Sebab, di hamparan sajadah itulah duka menemukan cahaya, air mata berubah menjadi doa, dan seorang hamba menemukan kekuatan yang tidak pernah mengecewakan yaitu pertolongan Allah SWT.
(Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Dai, Akademisi, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan Karakter)