PEKANBARU, AmiraRiau.com - Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Riau menindaklanjuti laporan dugaan tindakan asusila yang terjadi di Klinik Pratama 101 kampus Unri tersebut.
Kasatgas PPKPT Unri, Separen, mengatakan bahwa terduga pelaku yang merupakan seorang dokter di klinik telah dinonaktifkan sejak 27 April 2026. Langkah ini diambil segera setelah laporan pertama diterima oleh Satgas.
“Begitu laporan masuk, kami langsung mengambil tindakan cepat dengan menonaktifkan yang bersangkutan karena posisinya sebagai tenaga medis yang melayani mahasiswa di klinik Universitas Riau,” ujar Separen, Selasa (28/4/2026).
Saat ini, Satgas PPKPT tengah memasuki tahap pemeriksaan dan pendalaman kasus. Sejauh ini, tiga korban telah dipanggil untuk dimintai keterangan, dan proses pengembangan kasus masih terus berlangsung.
Separen juga mengungkapkan bahwa jumlah laporan yang masuk terus bertambah secara signifikan. Hingga hari ini, tercatat sebanyak 30 orang telah melaporkan dugaan tindakan asusila yang terjadi saat pemeriksaan medis oleh dokter tersebut.
“Kasus ini sedang kami proses melalui gelar perkara. Pemeriksaan masih berjalan, dan kami akan terus mengembangkan berdasarkan laporan yang masuk,” katanya.
Satgas PPKPT menegaskan komitmennya untuk menangani kasus ini secara serius dan memastikan perlindungan terhadap para korban, sekaligus menjaga lingkungan kampus tetap aman dari segala bentuk kekerasan seksual.
Pengakuan Mahasiswi Unri
Dimana sebelumnya kasus ini heboh setelah sejumlah mahasiswi membagikan pengalaman mereka melalui media sosial. Unggahan itu kemudian viral di Instagram, salah satunya melalui akun @sudut_fkip.
Tak hanya satu orang, korban diduga mencapai puluhan mahasiswi. Mereka mengaku mengalami tindakan pelecehan seksual saat pemeriksaan berlangsung di ruang tertutup tanpa didampingi tenaga medis lain seperti perawat.
"Waktu dicek, saya disuruh buka dua kancing baju bagian atas dengan alasan pemeriksaan. Tapi saat diperiksa, terasa seperti menyentuh payudara, bukan dada," ujar salah seorang mahasiswi yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Pengakuan lain juga menyebut oknum dokter tersebut kerap menghubungi pasien setelah pemeriksaan.
"Dia sering menghubungi saya setelah berobat karena punya nomor telepon saya. Kadang telepon atau video call, tapi tak pernah saya respon," katanya.***