Oleh: Mardianto Manan Datuk Rajo Lelo Bangun
MASYARAKAT Kuansing juga harus belajar dari perkara ini. Jangan sampai kita mempertahankan marwah dengan cara yang justru merusak marwah itu sendiri.
Jangan menghina balik.
Jangan menyerang keluarga.
Jangan menyerang suku.
Jangan mengaitkan persoalan individu dengan seluruh masyarakat Samosir.
Jangan pula melakukan persekusi digital.
Karena kalau penghinaan dibalas dengan penghinaan, maka kita hanya sedang membuat lingkaran baru yang tidak pernah selesai.
“Bila api dibalas api, yang terbakar bukan hanya kayu, tetapi rumah.”
Maka setelah proses hukum dan mediasi berjalan, masyarakat hendaknya memberikan ruang kepada para pihak.
Biarkan mediator bekerja.
Biarkan aparat bekerja.
Biarkan adat memberikan kesejukan.
Dan biarkan masyarakat kembali menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.
Jangan Pula Perdamaian Dipakai Untuk Menghapus Pelajaran
Ada satu hal penting.
Perdamaian tidak boleh membuat kita melupakan pelajaran dari tragedi ini.
Pacu Jalur adalah budaya yang semakin dikenal dunia.
Semakin terkenal sebuah budaya, semakin banyak pula orang datang dari luar daerah.
Karena itu Kuansing harus memiliki tata kelola budaya yang lebih baik.
Tamu harus diberikan pemahaman tentang adat.
Konten kreator harus diberikan batas etika ketika membuat konten.
Penyelenggara harus mempunyai mekanisme komunikasi dan penanganan konflik.
Tokoh masyarakat, ninik mamak, pemuka agama, pemuda dan pemerintah harus menjadi satu mata rantai penjaga marwah budaya.
Jangan menunggu konflik baru kemudian sibuk mencari siapa yang salah.
o0o
Adat bukan hanya hadir ketika perkara sudah terbakar. Adat harus hadir sebelum api menyala.
Dari Peristiwa Ini, Kita Harus Naik Kelas
Saya melihat persoalan Ustad Darwis dan Polda Sitanggang harus kita jadikan momentum untuk menaikkan kelas kebudayaan Kuansing.
Pacu Jalur jangan hanya hebat di sungai.
Jangan hanya hebat dalam perlombaan.
Jangan hanya hebat dalam seremoni.
Tetapi juga harus hebat dalam adab menerima tamu, kedewasaan menghadapi perbedaan, kecerdasan menyelesaikan konflik dan kebijaksanaan menjaga marwah.
Kita ingin dunia datang melihat Pacu Jalur.
Tetapi kita juga ingin dunia pulang membawa cerita:
“Orang Kuansing itu beradat.”
Itulah kemenangan yang sesungguhnya.
Bukan ketika seseorang dipermalukan.
Bukan ketika seseorang dihukum.
Bukan ketika satu kelompok merasa lebih tinggi daripada kelompok lain.
Tetapi ketika sebuah persoalan besar dapat diselesaikan dengan cara yang bermartabat.
Damai yang Bermarwah
Karena itu, jika para pihak benar-benar ingin berdamai, mari kita dorong perdamaian yang tulus, terbuka, terukur dan bermartabat.
Ustad Darwis jangan dipaksa melupakan keberatannya.
Polda Sitanggang jangan dipaksa kehilangan kehormatannya.
Masyarakat Kuansing jangan kehilangan marwahnya.
Masyarakat Samosir jangan diseret menjadi sasaran kemarahan.
Dan hukum jangan dilemahkan oleh emosi.
Semua harus ditempatkan pada tempatnya.
Yang salah diperbaiki.
Yang terluka dipulihkan.
Yang tersinggung dihormati.
Yang meminta maaf diterima.
Yang berdamai jangan lagi saling menyerang.
Inilah adat yang hidup.
Sebab orang beradat bukan orang yang tidak pernah berselisih.
Orang beradat adalah orang yang tahu bagaimana menyelesaikan perselisihan tanpa kehilangan marwah.
Dalam bahasa orang tua-tua kita:
“Kato mufakat membawa berkat, kato nan elok menjauhkan kusut.”
Dan akhirnya, saya ingin mengatakan kepada semua pihak:
Jangan jadikan Pacu Jalur sebagai panggung pertengkaran. Jadikan ia panggung persaudaraan.
Sungai Kuantan telah mengajarkan kita satu hal:
Air yang mengalir tidak pernah bertanya dari mana batu berasal.
Ia terus berjalan menuju muara.
Begitu pula kita.
Boleh berbeda kampung.
Boleh berbeda suku.
Boleh berbeda pandangan.
Tetapi kita semua adalah manusia yang mempunyai hati, kehormatan dan keluarga.
Maka kalau pintu damai sudah terbuka, jangan kita tutup dengan kesombongan.
Bukalah dengan hati.
Duduklah bersama.
Bicarakan dengan adat.
Selesaikan dengan hukum.
Akhiri dengan maaf.
Dan setelah itu, jangan lagi menoleh ke belakang untuk mencari bara.
Biarlah yang berlalu menjadi pelajaran, bukan menjadi dendam.
Karena sesungguhnya marwah Kuansing bukan terletak pada seberapa keras kita membalas penghinaan, tetapi seberapa tinggi kita mampu mengangkat martabat ketika menghadapi penghinaan.
Yang kusut kita selesaikan.
Yang keruh kita jernihkan.
Yang retak kita sambungkan.
Yang jauh kita dekatkan.
Yang salah kita perbaiki.
Dan yang damai kita jaga.
Itulah adat.
Itulah marwah.
Itulah kebesaran hati orang Kuantan.***
(Mardianto Manan – Datuk Rajo Lelo Bangun. Penulis; Putra Daerah berasal dari Pangean Kuantan Singingi Riau)