Oleh: Rudy H. Saleh
KABUPATEN Kepulauan Meranti disebut sebagai “beranda terdepan” Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Secara geografis, kabupaten ini memiliki posisi yang sangat strategis karena terletak di jalur pelayaran internasional Selat Malaka dan berbatasan langsung dengan dua negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura. Letak strategis Kabupaten Kepulauan Meranti ini seharusnya menjadi kekuatan sekaligus peluang untuk menjadi wilayah perdagangan yang maju. Namun pada kenyataannya terlihat perbedaan yang sangat besar antara kondisi pesisir di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti dengan negara tetangga di seberang pulau. Kabupaten Kepulauan Meranti dengan total luas wilayah 6.822,85 km2, meliputi luas wilayah daratan 3.598,06 km2 dan 3.224,79 km2 luas lautan atau 4,26% dari luas wilayah Provinsi Riau, terdiri atas 9 Kecamatan, 101 Desa/Kelurahan, 315 Dusun, 482 RW dan 1.145 RT. Pada tahun 2022, penduduk Kabupaten Kepulauan Meranti berjumlah 213.500 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 1.94% dan jumlah rumah tangga 58.176 RT. Namun demikian tingginya angka kemiskinan menjadi salah satu isu permasalahan di Kabupaten Kepulauan Meranti. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 48.005 jiwa atau sekitar 23,84% penduduk tergolong miskin dan 10.500 jiwa atau sekitar 5,53% penduduk tergolong miskin ekstrem pada tahun 2022 atau yang tertinggi di Provinsi Riau. Bahkan berdasarkan rilis Indikator Kesejahteraan Rakyat Provinsi Riau tahun 2023 oleh BPS, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki persentase penduduk miskin dengan angka tertinggi dibandingkan dengan daerah lain di Riau, yaitu sebanyak 22,98%. Kemudian disusul Rokan Hulu sebesar 9,72%, Pelalawan 8,15%, Kuantan Singingi 8,07%, Rokan Hilir 7,07%, Kampar 7,04%, Bengkalis 6,32%, Indragiri Hulu 6,06%, Indragiri Hilir 5,64%, Siak 5,23%, Dumai 3,21% dan Pekanbaru terendah dengan angka 3,16%. (RiauPos.co Selasa, 26 Desember 2023). Padahal Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi pengembangan produksi komuditas unggulan lokal, seperti Sagu luas 40.186 Ha dan produksi 247.013,87 ton/tahun, Kelapa luas 32.515 Ha dan produksi 29.257,66 ton/tahun, Pinang luas 545,2 Ha dan produksi 230.41 ton/tahun, Karet luas 21.006 Ha dan produksi 12.450,5 ton/tahun, Kopi luas 2.440,5 Ha dan produksi 1.913,5 ton/tahun, serta perikanan budidaya potensi luasan KJA 1.350 Ha dan total produksi 102 ton/tahun. Salah satu faktor penyebab tingginya angka kemiskinan di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti adalah rendahnya ketersediaan infrastruktur energi listrik . Begitu juga untuk mengolah komuditas unggulan lokal tersebut membutuhkan suplai daya listrik yang cukup. a. Suplai Daya Listrik Terbatas Untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti disuplai oleh Sistem tenaga listrik Selat Panjang. Sistem Selat Panjang merupakan sistem isolated PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) berbahan bakar HSD (High Speed Diesel). Sistem Isolated PLTD yang mensuplai daya listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik di Kabupaten Kepulauan Meranti terbatas. Hal ini terlihat dari kondisi PLTD dimasing-masing sub sistem sebagai berikut :- Sub Selat Panjang melayani Kecamatan Tebing Tinggi, Tebing Tinggi Barat dan Pulau Merbau dengan kapasitas terpasang 15.800 kW, daya mampu 12.500 kW dan beban puncak 12.400 kW. Status siaga karena hanya tersisa cadangan daya 100 kW. Kondisi ini menyebabkan terjadinya pemadaman bergilir pada tanggal 30 Mei dan 1 Desember 2023 di Kecamatan Tebing Tinggi, Tebing Tinggi Barat dan Pulau Merbau, karena dilakukan overhoul 2 unit PLTD yaitu 1 unit PLTD di Tebing Tinggi dan 1 unit di PLTD Gogok Dampak perbaikan tersebut, PLN terpaksa menempuh kebijakan untuk melakukan pemadaman bergilir..
- Sub Teluk Buntal melayani Kecamatan Tebing Tinggi Timur dengan kapasitas terpasang PLTD 1.862 kW, daya mampu 1.340 kW dan beban puncak 600 kW. Untuk suplai daya listrik pada Sub Teluk Buntal relatif aman, karena memiliki sisa cadangan daya 740 kW.
- Sub Teluk Belitung melayani Kecamatan Merbau dan Tasik Putri Puyu dengan kapasitas terpasang PLTM/G Melibur 3.980 kW, daya mampu 2.250 kW dan beban puncak 2.100 kW. Status siaga, karena hanya memiliki sisa cadangan 150 kW.;
- Sub Lemang melayani Kecamatan Rangsang Barat dan Ransang Pesisir dengan kapasitas terpasang PLTD 3.900 kW, daya mampu 2.150 kW dan beban puncak 2.000 kW. Status siaga karena hanya memiliki sisa cadangan 150 kW.;
- Sub Tanjung Samak melayani Kecamatan Rangsang dan Rangsang Pesisir dengan kapasitas terpasang PLTD 2.774 kW, daya mampu 1.700 dan beban puncak 1.700 kW. Status rawan kareana tidak ada sisa cadangan. Sehingga apabila terjadi kerusakan atau pemeliharaan salah satu PLTD akan terjadi pemadaman bergilir.
- Sub Pulau Topang melayani masyarakat Desa Pula Topang dengan kapasitas terpasang PLTD 350 KW, daya mampu 340 kW dan beban puncak 160 kW. Status relatif aman karena memiliki cadangan daya 180 kW. Akan tetapi jam operasioan PLTD Pulau Topang baru 14 jam perhari belum 24 jam.