Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
DI tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia justru semakin mudah mengalami kelelahan batin. Rutinitas yang berulang, tekanan pekerjaan, kompetisi yang tak berkesudahan, dan derasnya arus informasi sering kali menjadikan hidup kehilangan makna. Tubuh berada di satu tempat, tetapi pikiran dipenuhi kegelisahan. Aktivitas meningkat, sementara kebahagiaan justru menurun.
Di sinilah Islam menawarkan konsep rihlah, sebuah perjalanan yang bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah cara berpikir, memperluas cara pandang, memperhalus jiwa, dan memperkokoh keimanan.
Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia untuk melakukan perjalanan. Allah SWT berfirman:"Katakanlah: Berjalanlah kamu di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan." (Q.S. Al-'Ankabut: 20).
Dalam ayat lain Allah memerintahkan manusia untuk melihat bagaimana akhir perjalanan umat-umat terdahulu agar sejarah menjadi guru kehidupan. Dengan demikian, rihlah dalam Islam bukanlah wisata tanpa makna, melainkan ibadah intelektual yang menggabungkan tadabbur, tafakkur, dan tazakkur.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia dapat mengalami futur yaitu kejenuhan spiritual apabila terus-menerus dibebani aktivitas tanpa jeda. Dalam Ihya' Ulumuddin, beliau menjelaskan bahwa hati membutuhkan penyegaran sebagaimana tubuh membutuhkan istirahat. Rekreasi yang halal, perjalanan yang bermanfaat, dan perenungan terhadap ciptaan Allah bukanlah pelarian dari ibadah, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga kualitas ibadah itu sendiri.
Pandangan tersebut kini memperoleh penguatan dari ilmu psikologi modern. Berbagai penelitian dalam psikologi positif menunjukkan bahwa pengalaman baru (novel experiences) meningkatkan kesejahteraan psikologis, memperkuat rasa syukur, mengurangi stres, serta meningkatkan kepuasan hidup. Kebahagiaan ternyata lebih bertahan lama ketika seseorang menginvestasikan waktunya pada pengalaman yang bermakna daripada sekadar menumpuk kepemilikan materi.
Temuan neuroscience juga menarik. Ketika seseorang berada di lingkungan baru, otak meningkatkan aktivitas pembelajaran dan membentuk hubungan-hubungan baru antarsel saraf (neuroplasticity). Aktivitas ini membuat kemampuan berpikir lebih fleksibel, kreativitas meningkat, daya ingat lebih baik, dan seseorang lebih adaptif menghadapi perubahan. Tidak mengherankan jika banyak inovasi besar lahir setelah seseorang melakukan perjalanan, bertemu lingkungan baru, dan keluar dari zona nyamannya.
Dalam perspektif filosofis, rihlah merupakan perjalanan menuju kedewasaan berpikir. Seseorang yang hanya mengenal satu lingkungan akan mudah menganggap dunianya sebagai satu-satunya kebenaran. Namun ketika ia melihat berbagai budaya, tradisi, dan peradaban, ia belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan ruang untuk saling belajar.
Pemikiran ini sejalan dengan teori ashabiyah yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah. Menurut beliau, kemajuan suatu masyarakat sangat dipengaruhi oleh mobilitas manusia, pertukaran pengalaman, perdagangan, pendidikan, dan interaksi antarkelompok. Peradaban yang menutup diri akan mengalami stagnasi, sedangkan masyarakat yang membuka diri terhadap ilmu dan pengalaman akan berkembang menjadi masyarakat yang kreatif dan tangguh.
Karena itu, rihlah bukan sekadar aktivitas individual, tetapi juga investasi sosial. Dari perjalanan lahir jaringan pertemanan, kerja sama ekonomi, pertukaran budaya, dan penyebaran ilmu pengetahuan.
Sejarah Islam menjadi saksi bahwa kejayaan umat dibangun oleh budaya rihlah. Rasulullah SAW melakukan hijrah yang mengubah arah sejarah dunia. Para sahabat mengembara menyampaikan dakwah hingga ke berbagai negeri. Para ulama menempuh ribuan kilometer demi mendapatkan satu hadis yang sahih.
Imam al-Bukhari melakukan perjalanan ke Khurasan, Baghdad, Makkah, Madinah, Syam, dan Mesir demi menghimpun hadis-hadis Nabi. Imam Ahmad bin Hanbal menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam perjalanan mencari ilmu. Sementara Ibnu Battutah membuktikan bahwa perjalanan bukan hanya memperkaya pengetahuan geografis, tetapi juga memperluas pemahaman tentang karakter manusia dan dinamika peradaban.
Semua itu menunjukkan bahwa ilmu tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian melangkah.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah bahkan memberikan makna yang lebih dalam. Menurut beliau, perjalanan sejati bukan hanya perpindahan tubuh dari satu tempat ke tempat lain, tetapi perjalanan hati menuju Allah. Manusia boleh berpindah ribuan kilometer, tetapi apabila hatinya tidak berubah menjadi lebih baik, maka perjalanan itu belum menghasilkan hikmah. Sebaliknya, satu perjalanan yang melahirkan taubat, syukur, ilmu, dan akhlak mulia lebih bernilai daripada ribuan langkah tanpa makna.
Dalam perspektif sosiologi, mobilitas manusia juga merupakan faktor penting kemajuan ekonomi. Kota-kota besar dalam sejarah Islam seperti Makkah, Madinah, Baghdad, Damaskus, Kairo, hingga Andalusia berkembang karena menjadi simpul pertemuan para pedagang, ulama, ilmuwan, dan musafir. Pertemuan manusia melahirkan pertukaran ide, sedangkan pertukaran ide melahirkan inovasi.
Di sinilah hubungan rihlah dengan rezeki menjadi sangat nyata.
Banyak orang memahami rezeki hanya sebagai uang. Padahal dalam Islam, rezeki jauh lebih luas. Ilmu adalah rezeki. Kesehatan adalah rezeki. Sahabat yang saleh adalah rezeki. Kesempatan adalah rezeki. Ketenangan hati adalah rezeki. Bahkan kemampuan melihat peluang juga merupakan bagian dari rezeki yang Allah karuniakan.
Perjalanan memperluas jaringan. Jaringan melahirkan kepercayaan. Kepercayaan menghadirkan kolaborasi. Kolaborasi membuka peluang. Dari peluang itulah Allah membukakan pintu-pintu rezeki yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
Para saudagar Muslim dahulu tidak hanya membawa barang dagangan, tetapi juga membawa kejujuran, amanah, dan akhlak mulia. Karena itulah perdagangan menjadi jalan dakwah sekaligus jalan rezeki. Mereka memahami bahwa keberkahan lebih utama daripada sekadar keuntungan.
Namun demikian, rihlah bukan berarti menghindari kenyataan atau melarikan diri dari masalah. Justru sebaliknya, perjalanan adalah cara mempersiapkan diri agar kembali dengan perspektif yang lebih luas, hati yang lebih tenang, dan semangat yang lebih kuat.
Sesekali keluarlah dari rutinitas. Kunjungilah guru, orang tua, perpustakaan, masjid, pesantren, museum, desa, gunung, laut, atau negeri-negeri yang memperkaya ilmu dan keimanan. Jadikan setiap langkah sebagai tadabbur terhadap ayat-ayat kauniyah Allah.
Perjalanan terbaik bukanlah yang paling jauh jaraknya, melainkan yang paling dalam maknanya. Rihlah mengajarkan bahwa manusia yang terus belajar tidak akan pernah miskin pengalaman. Manusia yang kaya pengalaman akan semakin arif dalam mengambil keputusan. Dan manusia yang arif akan lebih mudah mengenali jalan-jalan rezeki yang Allah bentangkan di hadapannya.
Karena sesungguhnya, rezeki bukan hanya berada di tempat tujuan, tetapi sering kali Allah sembunyikan di sepanjang perjalanan. Maka, melangkahlah dengan niat yang lurus, hati yang bersih, dan pikiran yang terbuka. Insya Allah, setiap rihlah akan menjadi jalan untuk menjemput hikmah, menata jiwa, dan membuka pintu-pintu rezeki yang penuh keberkahan.***
Tanjung Balai Karimun, 10 Juli 2026 M/25 Muharram 1448 H.
(Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Ketua PD PERSIS Kota Pekanbaru dan Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Provinsi Riau)