Runtuhnya Rezim Bashar Al-Assad

Oleh
Hasrul Sani Siregar, MA
Alumni Ekonomi-Politik Internasional IKMAS, UKM, Selangor Malaysia

RUNTUHNYA rezim Assad berdampak terhadap kekuatan Rusia dan Iran di negara tersebut. Selama ini, pengaruh Rusia dan Iran sangat besar mendukung rezim Bashar al-Assad dari upaya pemberontakan yang ingin menjatuhkan kekuasaannya. Jatuhnya Damaskus ibu kota Suriah kepada pemberontak pada 8 Desember lalu, menjadi awal kejatuhan rezim Bashar al-Assad dan keluarganya yang telah berkuasa lebih kurang 50 tahun yang sebelumnya dipimpin oleh bapaknya, Hafez al-Assad. Bashar al-Assad sendiri telah berkuasa selama lebih kurang 24 tahun sejak tahun 2000. Jatuhnya Damaskus ke tangan kelompok militan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) pimpinan Abu Mohammed Al Julani telah menandai perubahan konstelasi politik khususnya di kawasan timur tengah.

Jatuhnya Damaskus selain berakhirnya kekuasaan Bashar al-Assad, juga menandai terjadinya perubahan di kawasan timur tengah khususnya dan Afrika Utara umumnya yang dikenal sebagai “The Arab Spring”. Serangkaian protes dan demonstrasi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, yang dimulai dari Tunisia pada musim semi tahun 2011 yang kemudian diikuti oleh Mesir, Libya dan terakhir Suriah. The Arab Spring merupakan kekacauan politik dan pemberontakan terhadap pemerintah yang menimbulkan kekacauan sosial, ekonomi dan politik. Dengan jatuhnya rezim Bashar al-Assad, tentu mempengaruhi konstelasi politik yang tidak hanya di dalam negeri Suriah sendiri, juga dampaknya terhadap negara-negara yang selama ini mendukung Bashar al-Assad khususnya Iran dan Rusia yang sejak dulu mendukung pemerintahan di Suriah.

Sejak masih berdirinya Uni Sovyet, yang kemudian digantikan dengan Rusia, Uni Sovyet telah mendukung pemerintahan Suriah di bawah pemerintahan Hafez al-Assad. Hubungan antara Suriah dan Uni Soviet dimulai pada masa perang Dingin (1947–1991). Suriah menjadi sekutu terdekat Uni Sovyet dan menentang kekuatan barat yaitu Amerika Serkat dan sekutunya. Walaupun Uni Sovyet sudah bubar pada 25 Desember tahun 1991, yang kemudian digantikan oleh Rusia, hubungan kedua negara semakin kuat. Rusia tetap menjadikan Suriah sebagai mitranya di kawasan Timur Tengah sebagai upaya penyeimbang dalam berhadapan dengan Amerika Serikat yang juga menjalin kerejasama dengan negara-negara di Timur Tengah. Selain Suriah, Rusia juga menjalin kerjasama militer dengan Iran yang juga sebagai upaya berhadapan dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Oleh sebab itu, Rusia dan Iran merupakan mitra politik dan militer Suriah.

Pada 2011, Rusia mulai terlibat secara langsung dalam perang saudara di Suriah yang melibatkan kelompok militan yang menentang pemerintahan Bashar al-Assad. Rusia sendiri mendukung pemerintahan Bashar al-Assad. Rusia mengirimkan ekspedisi militer secara besar besaran termasuk pasukan tempur, untuk membantu militer Suriah. Rusia juga menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) untuk menghindari kemungkinan sanksi atau intervensi militer terhadap Suriah. Dukungan yang sangat kuat diberikan Rusia kepada Bashar al-Assad dengan memberikan suaka politik setelah jatuhnya Damaskus ketangan kelompok militan pimpinan Abu Mohammed Al Julani.

 Bashar al-Assad dapat melarikan diri ke Rusia dengan dukungan oleh Presiden Rusia Vradimir Putin. Rusia memiliki pengaruh yang sangat kuat baik politik dan militer di Suriah. Beberapa pangkalan militer Rusia berada di Suriah. Faktor kemanusiaan menjadi alasan mengapa Rusia memberikan suaka politik kepada Bashar al-Assad. Tentu tidak hanya faktor kemanusiaan saja, hubungan yang sudah terjalin antara Rusia dan Suriah juga menjadi alasan mengapa Rusia melindungi Bashar al-Assad.

Selain Rusia, Iran juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan Suriah. Iran juga memberikan bantuan militer terhadap pemerintahan Bashar al-Assad yang menghadapi kelompok militant yang menentangnya. Namun kejatuhan Bashar al-Assad yang segitu cepat oleh pihak militan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) pimpinan Abu Mohammed Al Julani, membuat Iran tidak dapat mencegah karena Iran menganggap itu persoalan dalam negeri Suriah dan diselesaikan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pemerintahan Suriah. Iran merupakan sekutu Rusia di kawasan Timur Tengah khususnya di Suriah yang secara tak langsung mendukung pemerintahan Bashar al-Assad.

Rusia dan Iran sangat berkepentingan di kawasan Timur Tengah khususnya di Suriah dalam rangka menjaga keseimbangan dengan kekuatan Amerika Serikat dan sekutunya yang juga mitra Israel. Suriah dan Israel masih memiliki konflik khususnya di Dataran Tinggi Golan yang masih bermasalah diantara kedua negara. Oleh sebab itu, Rusia akan terus menjalin hubungan dengan Iran dalam rangka menjaga stabilitas keamanan regional di kawasan tersebut.

Moskow dan Teheran telah bersepakat melakukan kerjasama dalam membangun persenjataan bagi Iran seperti pabrik drone di Rusia yang dapat memproduksi ribuan drone per tahun. Rata rata Drone yang digunakan oleh Iran untuk menyerang Israel merupakan produksi dari Rusia sebagai mitra aliansi militer Rusia dan Iran. Selain drone, Rusia dan Iran juga bekerjasama dalam pembuatan jet tempur militer canggih, helikopter, dan sistem pertahanan udara. Iran dan Rusia memiliki sejarah panjang dalam bekerja sama melawan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.

Tahun 2015, Rusia dan Iran telah menandatangani perjanjian kerja sama militer yang tentu saja akan memperkuat pertahanan dan keamanan yang utama menghadapi kekuatan Israel yang juga memiliki senjata nukler. Dengan perjanjian aliansi militer antara Rusia dan Iran tentu saja ini sebagai upaya Rusia untuk memiliki pengaruh di kawasan Timur Tengah. Rusia menjadi kekuatan internasional dalam menghadapi dominasi Amerika Serikat dan sekutunya. Namun, dengan jatuhnya Damaskus dan berakhirnya kekuasaan Bashar al-Assad akan berdampak terhadap pengaruh Rusia dan Iran di Suriah yang akan berbeda dengan pemerintahan Bashar al-Assad.

Setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al Assad, beberapa saat kemudian, Iran memberikan pernyataan akan mendukung pemerintahan baru Suriah dan siap melakukan kerjasama. Teheran juga berharap pemerintahan yang dibentuk nantinya adalah pemerintahan inklusif yang mewakili seluruh lapisan masyarakat Suriah. Iran berharap dengan jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad menandai hubungan baru diantara kedua negara yang bertetangga tersebut.***

gambar